Keputusan BI Ditunggu, Rupiah Bertahan Di Kisaran Rp17.130 Di Tengah Tekanan Dolar

Pasar keuangan masih menahan arah karena rupiah bergerak di kisaran Rp17.130 per dolar AS. Di tengah kondisi itu, pelaku pasar juga menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dinilai bisa memberi petunjuk penting bagi pergerakan mata uang Garuda.

Tekanan terhadap rupiah tidak muncul dari satu faktor saja. Selain permintaan valas domestik yang masih tinggi, indeks dolar AS juga bergerak menguat ke 98,353 sehingga menambah beban bagi mata uang negara berkembang.

Tekanan valas di dalam negeri masih kuat

Salah satu penyebab rupiah sulit lepas dari tekanan adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan dolar di dalam negeri. Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, menilai kondisi ini diperparah oleh aksi jual investor asing di pasar keuangan domestik serta kebutuhan konversi dividen emiten ke mata uang asing.

Ketika kebutuhan dolar lebih besar daripada pasokannya, rupiah cenderung lebih mudah tergelincir. Investor asing yang menerima dividen dari pasar saham Indonesia juga umumnya menukarkan dana tersebut ke valuta asing sebelum dibawa keluar negeri.

Selain itu, kebutuhan impor energi saat harga minyak dunia naik ikut menambah permintaan dolar. Beban serupa juga datang dari pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo, sehingga kebutuhan valas di pasar domestik tetap tinggi.

Bank Indonesia masih menjaga stabilitas

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia tetap melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar spot dan pasar sekunder surat utang negara. Langkah ini ditempuh untuk meredam gejolak agar rupiah tidak bergerak terlalu liar ketika permintaan dolar sedang naik.

Myrdal menilai kondisi eksternal juga belum cukup mendukung penguatan mata uang negara berkembang. Ia melihat faktor global yang rapuh, ditambah pola musiman pembagian dividen, membuat kebutuhan terhadap valuta asing tetap bertahan.

Situasi itu membuat pasar menunggu bagaimana bank sentral merespons dinamika yang ada. Selama tekanan permintaan dolar belum mereda, ruang penguatan rupiah memang masih terlihat terbatas.

Keputusan BI Rate jadi pusat perhatian pasar

Dari sisi kebijakan, Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada pertemuan April 2026. Proyeksi itu muncul karena rupiah masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

“Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada April 2026,” ujar Juniman. Ia menyoroti ketegangan antara Iran, Israel, dan AS yang masih membuat pasar sulit tenang.

Ekspektasi suku bunga yang tetap membuat pelaku pasar memilih menunggu sinyal berikutnya dari bank sentral. Dalam kondisi seperti ini, keputusan BI sering menjadi salah satu penentu arah rupiah dalam jangka pendek.

Risiko energi ikut membebani rupiah

Pengamat Rupiah dan Emas, Ibrahim Assuaibi, juga melihat risiko gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz sebagai faktor yang patut diwaspadai. Jika harga minyak naik, kebutuhan dolar pemerintah ikut membesar karena biaya impor energi berpotensi terdorong naik.

“Ketika harga minyak naik, pemerintah membutuhkan dolar lebih besar. Kondisi itu juga membutuhkan dana besar dan berpotensi memperlebar defisit anggaran,” kata Ibrahim Assuaibi. Ia menilai rupiah masih sulit kembali ke bawah level psikologis Rp17.000 dalam waktu dekat.

Ibrahim bahkan memperkirakan rupiah bisa bergerak lebih lemah hingga kisaran Rp17.400 pada akhir April 2026. Pandangan itu sejalan dengan kekhawatiran pasar bahwa tekanan eksternal dan kebutuhan dolar di dalam negeri belum menunjukkan tanda mereda.

Dengan indeks dolar AS yang menguat, permintaan valas domestik yang masih tinggi, serta pasar yang menunggu keputusan BI, rupiah masih berada dalam fase yang sensitif. Arah selanjutnya akan sangat bergantung pada sinyal kebijakan bank sentral dan perkembangan risiko global yang belum sepenuhnya stabil.

Berita Terkait