Kereta Selalu Didahulukan Di Perlintasan, Ini 6 Cara Aman Agar Tak Celaka

Berhenti penuh adalah pilihan paling aman saat kendaraan mendekati perlintasan kereta sebidang. Begitu sinyal peringatan berbunyi atau palang pintu mulai bergerak turun, pengemudi tidak boleh mencari celah untuk tetap melintas.

Aturan ini bukan sekadar imbauan, melainkan kewajiban yang sudah diatur jelas. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian mewajibkan pengguna jalan mendahulukan perjalanan kereta api, sedangkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menegaskan pengemudi harus berhenti saat sinyal berbunyi dan palang mulai ditutup.

Kenali tanda bahaya dari jauh

Kewaspadaan perlu dimulai sebelum roda mencapai rel. Pengemudi sebaiknya mengurangi kecepatan sejak mendekati perlintasan agar punya cukup waktu untuk melihat arah kanan dan kiri.

Langkah sederhana ini membantu memastikan tidak ada kereta yang sedang datang atau sudah berada di jalur. Di titik sempit seperti perlintasan sebidang, keterlambatan beberapa detik saja bisa berakibat serius.

Jangan memaksa lewat saat sinyal aktif

Begitu tanda bahaya menyala, kendaraan harus berhenti sebelum palang. Area perlintasan tidak memberi ruang aman untuk manuver mendadak, apalagi jika kendaraan lain juga sedang antre.

Jika di lokasi tidak ada palang pintu, kendaraan tetap perlu berhenti sekitar 1 meter atau lebih dari rel. Setelah itu, kondisi sekitar harus dipastikan benar-benar aman sebelum melanjutkan perjalanan.

Atur cara melaju sesuai kondisi rel

Permukaan perlintasan tidak selalu rata seperti jalan aspal biasa. Di beberapa titik, rel bisa terasa menanjak, licin, atau dipenuhi kerikil lepas di sisi jalur.

Kondisi ini membuat kendaraan lebih mudah selip atau tersangkut jika pengemudi terlalu agresif menekan gas. Karena itu, mobil perlu melintas perlahan sampai seluruh roda benar-benar melewati rel.

Perhatikan jenis kendaraan yang digunakan

Untuk mobil manual, gigi disarankan diturunkan ke gigi 1 saat melewati rel. Cara ini membantu mesin tetap stabil dan mengurangi risiko mobil mati di tengah perlintasan.

Pada mobil matic, kendaraan sebaiknya digerakkan perlahan dengan pedal gas dilepas. Kecepatan dijaga halus memakai pedal rem agar mobil tidak meloncat ketika melewati bagian rel yang tidak rata.

Jangan terpengaruh tekanan dari belakang

Situasi di belakang kendaraan sering membuat pengemudi tergesa-gesa. Meski begitu, berhimpitan di area perlintasan justru bisa memicu tabrakan beruntun yang berbahaya.

Pilihan paling aman adalah berhenti di belakang palang dan menunggu kendaraan di depan benar-benar melintas. Klakson dari belakang tidak boleh jadi alasan untuk mengambil jarak yang terlalu rapat di titik yang sangat terbatas itu.

Tetap tenang jika kendaraan bermasalah

Jika mobil mogok di tengah rel, kepanikan justru memperburuk keadaan. Selama belum ada kereta yang akan lewat, pengemudi perlu memeriksa panel instrumen lalu mencoba menyalakan ulang mesin.

Pada mobil matic, pedal rem harus tetap diinjak saat menyalakan ulang mesin. Pada mobil manual, prosedurnya menyesuaikan dengan penggunaan kopling agar kendaraan bisa bergerak lagi dengan aman.

Kurangi gangguan saat mendekati rel

Volume musik di kabin sebaiknya diperkecil ketika kendaraan mendekati perlintasan. Langkah ini membantu pengemudi mendengar sinyal peringatan, bunyi palang, atau tanda lain yang menunjukkan ada kereta akan lewat.

Disiplin di perlintasan sebidang menuntut fokus penuh karena rel adalah jalur khusus yang tidak memberi ruang untuk kelengahan. Menunda perjalanan beberapa detik selalu lebih aman daripada memaksakan diri melintas di titik yang risikonya begitu tinggi.

Source: www.cnnindonesia.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer