Wabah Ebola yang kini bergerak di Kongo dan meluas hingga Uganda menghadapi hambatan yang lebih berat dari biasanya. Ancaman terbesar bukan hanya virus Bundibugyo itu sendiri, tetapi melemahnya sistem bantuan kesehatan yang selama ini menjadi penopang deteksi dini, pelacakan kasus, dan pengiriman sampel.
Di kawasan yang sudah lama rapuh, gangguan kecil bisa berubah menjadi masalah besar dalam hitungan hari. Saat kasus muncul di wilayah perbatasan Kongo hingga Uganda, fasilitas laboratorium, tenaga kesehatan, dan jaringan respons cepat belum berada dalam kondisi yang memadai.
Deteksi awal terhambat di saat paling kritis
Virus Bundibugyo dikenal lebih sulit dideteksi dan belum memiliki vaksin. Kondisi itu membuat setiap keterlambatan respons menjadi jauh lebih berisiko, terutama ketika kasus tersebar ke lokasi yang berjauhan.
Di Kongo, wabah berawal di Mongbwalu, kota tambang di provinsi Ituri yang lama dibayangi konflik bersenjata dan perpindahan penduduk. Dari sana, kasus kemudian terdeteksi di Goma dan Kampala, dua lokasi yang berjarak lebih dari 350 mil dari Mongbwalu.
Jaringan pengawasan ikut melemah
Para ahli menilai pembubaran USAID membuat sejumlah komponen penting dalam pengawasan penyakit ikut goyah. Sistem peringatan dini, transportasi sampel, dan jumlah petugas kesehatan terdampak ketika wabah justru membutuhkan semua itu bekerja lebih cepat.
Seorang mantan pejabat kesehatan USAID di Nairobi menyebut banyak dukungan yang biasanya tersedia kini sudah menghilang. Ia menyoroti melemahnya surveillance systems, early warning systems, dan jumlah healthcare workers.
Masalah paling nyata terlihat pada pengiriman sampel ke Kinshasa, ibu kota Kongo. Dalam keadaan normal, pengangkutan sampel dari lokasi dugaan wabah kemungkinan akan diatur agar bisa segera diuji, tetapi kali ini sampel berpindah pada suhu yang salah dan konfirmasi wabah tertunda.
Keterlambatan memberi ruang bagi penyebaran
World Health Organization disebut sudah mengetahui potensi masalah itu pada awal Mei. Otoritas Amerika baru mengetahuinya sembilan hari setelah WHO dan hampir sebulan setelah kematian pertama.
Keterlambatan seperti ini memberi waktu bagi wabah untuk bergerak lebih jauh sebelum respons besar dijalankan. Dalam situasi Ebola, selisih waktu sekecil apa pun bisa memengaruhi luasnya penularan dan kemampuan pemerintah menahan laju kasus.
Ituri dan Mongbwalu membawa tantangan sosial yang berat
Ituri bukan hanya wilayah konflik, tetapi juga rumah bagi banyak kelompok bersenjata non-negara. Kondisi itu menyulitkan akses kemanusiaan dan membuat kepercayaan warga terhadap pihak luar sangat tipis.
Mongbwalu dan sekitarnya adalah wilayah tambang yang dipenuhi pekerja migran, ekonomi informal, dan kerentanan sosial tinggi. Di tempat seperti ini, isu kesehatan cepat bercampur dengan ketidakpercayaan, terutama ketika keluarga melihat orang yang dibawa ke rumah sakit tidak segera kembali.
Ketidakpercayaan warga memperumit penanganan
Banyak warga di Mongbwalu terbiasa dengan gejala awal tuberkulosis dan malaria yang bisa mirip dengan Ebola, tetapi jauh lebih mudah ditangani. Ketika pasien dibawa ke fasilitas kesehatan lalu tak cepat pulang, kecurigaan terhadap rumah sakit dan tenaga medis ikut meningkat.
Tradisi pemakaman setempat yang melibatkan sentuhan pada jenazah juga menambah beban respons. Saat petugas kesehatan mencoba membatasi kontak itu, sebagian warga justru semakin curiga terhadap niat mereka.
Dalam respons sebelumnya, kelompok medis seperti Médecins Sans Frontières menemukan bahwa penolakan warga sering berakar pada kebutuhan dasar yang belum terpenuhi. Saat warga meminta air bersih dan layanan kesehatan yang nyata, tim respons justru harus membangun sumur terlebih dahulu sebelum masyarakat bersedia menerima langkah pencegahan Ebola.
Setelah itu, warga meminta obat-obatan dasar di fasilitas kesehatan mereka. Tim lalu menambah skrining dan menyiapkan ruang isolasi lokal agar warga tidak harus dikirim jauh ke tempat isolasi yang berjarak ratusan kilometer.
Kenya ikut merasakan gelombang kepanikan kawasan
Di Nairobi, suasana bandara pada awal Juni masih menyerupai era pandemi COVID-19. Petugas memakai alat pelindung lengkap, penumpang melewati sensor suhu, dan kode QR dipindai untuk pelacakan kontak.
Kekhawatiran di Kenya meningkat setelah pemerintah tetap menjalankan rencana memindahkan warga Amerika yang terpapar Ebola dari negara tetangga ke pangkalan militer untuk karantina. Pengadilan tinggi Kenya sempat memerintahkan penangguhan rencana itu, dan protes keras pun pecah hingga dua warga Kenya tewas ditembak polisi.
Dampaknya dapat melampaui Afrika Tengah
USAID selama ini bekerja bukan hanya melalui kantor pusatnya, tetapi juga lewat kontraktor, subkontraktor, organisasi lokal, dan tenaga kesehatan komunitas. Jaringan itulah yang membuat informasi bisa mengalir cepat dari rumah ke rumah dan dari fasilitas kesehatan ke sistem peringatan.
Tenaga kesehatan komunitas memegang peran penting karena mereka mengenal warga secara langsung dan bisa mendeteksi gejala mencurigakan lebih awal. Mereka juga membantu meyakinkan pasien yang ragu untuk mencari pertolongan, tetapi dukungan terhadap jaringan itu kini sudah hilang.
Para ahli menilai persoalan ini bukan sekadar soal satu wabah di satu wilayah. Jika kemampuan tes, pelacakan kontak, dan pengawasan lapangan melemah, risiko penyebaran lintas batas tetap ada dan bisa mengganggu negara lain yang khawatir Ebola masuk ke wilayah mereka.
Meski begitu, Ebola tidak menular lewat udara dan tidak seultra menular COVID-19. Karena itu, pandemi global Ebola dinilai tidak mungkin, tetapi wabah yang ada tetap dapat berubah menjadi bencana besar jika respons terus terlambat dan sistem kesehatan tertinggal.







