Kesaksian Pilot F-15 Soal Formasi Drone Iran Memantik Penyelidikan Intelijen AS

Author: Redaksi Android62

Komunitas intelijen Amerika Serikat kini menelusuri laporan seorang pilot F-15 yang mengaku melihat formasi drone Iran bergerak dengan pola sangat teratur sebelum pesawatnya jatuh di wilayah Iran. Kesaksian itu menjadi sorotan karena pergerakan drone tersebut disebut menyerupai ubur-ubur dan dinilai tidak lazim.

Pengamatan itu memunculkan dugaan bahwa Iran mungkin memakai koordinasi drone yang jauh lebih maju dari perkiraan awal. Di sisi lain, penyelidikan juga membuka pertanyaan lain, yakni apakah yang dilihat pilot benar-benar sebuah taktik baru atau justru terpengaruh kondisi fisik dan psikologis setelah insiden.

Fokus penyelidikan intelijen AS

Intelijen AS saat ini memeriksa apakah formasi drone tersebut benar-benar berperan dalam keberhasilan serangan terhadap F-15. Sejumlah pejabat dan analis disebut masih berhati-hati, karena pengamatan pilot dinilai belum cukup kuat untuk dijadikan dasar tunggal.

Keraguan itu muncul antara lain karena pilot tersebut disebut sempat mengalami gegar otak saat insiden berlangsung. Ada pula catatan bahwa ia pernah mengalami dua insiden berbeda, termasuk sebelumnya saat terkena salah tembak.

Gambaran formasi yang dianggap tidak biasa

Dilansir dari USA Today, pilot itu menggambarkan drone Iran bergerak seolah menjadi satu kesatuan. Ia menyebut ada drone kecil di bawah unit yang lebih besar, dengan pola yang tampak terkoordinasi dan tidak bergerak secara acak.

Para analis militer kemudian menelaah kemungkinan penggunaan teknologi one-to-many meshed networking. Teknologi ini memungkinkan satu sistem drone beroperasi secara kolektif dan saling terhubung, sehingga bisa melakukan manuver sebagai satu kelompok terintegrasi.

Dampak yang dibahas bila dugaan itu benar

Jika model koordinasi itu benar-benar digunakan dalam operasi tempur, dampaknya dipandang besar bagi perang modern. Koordinasi otonom antar-drone dapat meningkatkan efektivitas serangan, terutama bila drone mampu menjaga formasi, membawa bahan peledak, dan menyimpan unit cadangan untuk gelombang berikutnya.

Spesialis peperangan drone, Emma Bates, menilai pendekatan semacam itu sangat berbahaya. Ia mengatakan, “Jika drone dapat berkoordinasi, mempertahankan formasi, membawa bahan peledak, dan menyimpan cadangan untuk serangan lanjutan, itu adalah pendekatan yang sangat mampu.”

Operasi penyelamatan dan insiden lain di lapangan

Setelah F-15 ditembak jatuh, operasi penyelamatan digelar dengan cepat. Pilot berhasil ditemukan dalam hitungan jam, sementara perwira sistem senjata atau WSO bertahan lebih lama di medan pegunungan sebelum akhirnya dievakuasi.

Dalam rangkaian operasi yang sama, satu pesawat A-10 juga dilaporkan hilang. Namun pilotnya selamat setelah sempat melontarkan diri, sehingga perhatian semakin tertuju pada ancaman yang dihadapi pesawat-pesawat AS di wilayah konflik itu.

Masih ada kemungkinan lain yang diteliti

Selain dugaan penggunaan teknologi drone terkoordinasi, intelijen AS juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa Iran menguji kemampuan tersebut dengan dukungan Rusia atau China. Hingga kini, belum ada kepastian bahwa yang dilihat pilot memang teknologi tempur yang bekerja seperti itu.

Karena itu, laporan ini masih berada di antara dua penafsiran besar. Di satu sisi ada kemungkinan kemunculan taktik drone baru, sementara di sisi lain ada dugaan bahwa kesaksian tersebut dipengaruhi situasi ekstrem setelah pesawat ditembak jatuh.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru