Kesehatan gigi di Indonesia masih menyimpan pekerjaan besar. Data Kementerian Kesehatan melalui Riskesdas menunjukkan sekitar 96% masyarakat tidak mengunjungi dokter gigi dalam satu tahun terakhir, sementara hanya 2,8% yang menyikat gigi dengan cara yang benar.
Angka itu memperlihatkan bahwa persoalannya tidak berhenti pada ketersediaan layanan. Kebiasaan yang belum terbentuk, rasa takut saat mendengar kata dokter gigi, serta literasi kesehatan yang rendah ikut membuat banyak orang menunda pemeriksaan hingga kondisi sudah terlanjur berat.
Ketika rasa takut lebih kuat daripada kebutuhan periksa
Banyak orang baru mencari pertolongan saat nyeri sudah mengganggu aktivitas. Pada tahap itu, perawatan biasanya menjadi lebih rumit karena masalah gigi yang seharusnya bisa dicegah sejak awal sudah berkembang lebih jauh.
Rasa takut juga menjadi penghambat yang sulit diabaikan. Ketakutan tersebut sering muncul dari pengalaman yang kurang menyenangkan, cerita dari orang lain, atau anggapan lama bahwa perawatan gigi selalu identik dengan rasa sakit.
Di saat yang sama, informasi di internet tidak selalu membantu. Mitos, saran tanpa dasar medis, dan konten yang tidak terverifikasi kerap membuat masyarakat semakin ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Edukasi digital mulai dipakai untuk menjangkau audiens yang lebih luas
Di tengah situasi itu, pendekatan edukasi digital mulai dipilih sebagai cara untuk memperluas jangkauan pesan kesehatan mulut. Kanal media sosial dinilai lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat, terutama kelompok muda yang setiap hari mengonsumsi konten dalam format ringkas dan visual.
Pepsodent dari Unilever Indonesia merespons kondisi tersebut dengan meluncurkan TeethTalk Academy for Dentfluencers pada Maret 2026. Program ini menyasar dokter gigi, mahasiswa kedokteran gigi, dan pegiat kesehatan mulut agar mereka mampu membuat konten digital yang mudah dipahami publik.
Isi pelatihannya tidak hanya soal ilmu klinis
Pendekatan program ini menunjukkan bahwa penyampaian pesan kesehatan kini tidak cukup hanya akurat. Pesan juga harus bisa diterima dengan cepat, ringan, dan terasa dekat dengan keseharian audiens.
Para peserta pelatihan dibekali sejumlah materi yang mendukung pembuatan konten, mulai dari ide konten, teknik pencahayaan, penyuntingan, personal branding, hingga cara berinteraksi dengan audiens secara lebih hangat. Dengan begitu, edukasi medis tidak lagi berhenti pada ruang praktik atau forum formal.
Berikut sasaran utama pendekatan tersebut:
- Mengurangi rasa takut masyarakat terhadap dokter gigi.
- Meluruskan pemahaman yang keliru tentang perawatan gigi.
- Mendorong pemeriksaan rutin sebelum keluhan membesar.
- Membuat informasi medis lebih mudah dipahami.
- Memperluas jangkauan edukasi ke pengguna media sosial yang aktif.
Pesan yang sederhana dinilai lebih efektif
Senior Global Brand Director Oral Care Unilever, Madhurjya Banerjee, menekankan pentingnya cara penyampaian yang menarik agar pesan ilmiah lebih mudah dipahami masyarakat. Ia menilai komunikasi yang lebih menarik dapat membantu meningkatkan kesadaran sekaligus mengurangi kecemasan untuk datang ke dokter gigi.
Banerjee juga melihat masih banyak orang yang memandang perawatan gigi sebagai sesuatu yang menakutkan. Karena itu, komunikasi yang manusiawi, edukatif, dan konsisten dinilai lebih berpeluang mengubah persepsi publik secara perlahan.
Dokter gigi mulai hadir sebagai pendidik di ruang digital
Dr. Milad Shadrooh, yang dikenal sebagai The Singing Dentist, menilai media sosial memberi peluang besar bagi dokter gigi untuk membangun hubungan baru dengan publik. Ia menyebut rasa takut terhadap dokter gigi kerap tumbuh dari persepsi yang salah sejak lama, sehingga penjelasan yang hangat dan mudah dicerna dapat membantu mengubah pandangan tersebut.
Workshop perdana TeethTalk Academy juga menghadirkan kreator Indonesia seperti Zaki Alfadilah, Twomann, dan Vinco. Kehadiran para kreator memperlihatkan bahwa edukasi kesehatan kini perlu mengikuti cara masyarakat menerima informasi di platform digital, tanpa mengorbankan akurasi medis.
Pepsodent menyebut TeethTalk Academy akan diperluas ke berbagai wilayah di Indonesia dan ke pasar regional lain. Arah ekspansi ini ditujukan untuk membangun komunitas dentfluencer yang dapat menghadirkan edukasi kesehatan gigi secara lebih mudah diakses, lebih menarik, dan lebih dipercaya publik.
Source: www.suara.com






