Jika ular hilang dari suatu wilayah, gangguan yang muncul tidak berhenti pada satu jenis hewan saja. Tikus bisa berkembang jauh lebih cepat karena salah satu pengendalinya lenyap, lalu tekanan itu merambat ke pertanian, kesehatan, hingga biaya hidup masyarakat.
Di banyak tempat, ular memang memegang peran penting dalam jaringan alam. Hewan ini hidup hampir di seluruh dunia, kecuali Arktik dan Antartika, dan keberadaannya membantu menjaga hubungan antarspesies tetap seimbang.
Tikus dan hama lain mendapat ruang lebih besar
Ular dikenal sebagai predator utama tikus dan mamalia kecil lainnya. Saat ular menghilang, populasi pengerat bisa melonjak karena tidak ada pemangsa yang menahan laju perkembangbiakan mereka.
Kondisi itu tidak hanya terjadi di alam liar. Di rumah dan lahan pertanian, tikus, burung kecil pemakan biji-bijian, serta hama lain akan lebih leluasa merusak tanaman dan stok pangan.
Beban pertanian ikut naik
Dampak berikutnya bisa terasa langsung pada biaya produksi. Petani berpotensi harus mengandalkan lebih banyak pestisida untuk melindungi tanaman dari serangan hama yang meningkat.
Ketika biaya produksi naik, harga beras dan bahan makanan pokok lain juga dapat ikut terdorong naik. Beban seperti ini biasanya paling berat dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah, terutama saat akses terhadap makanan layak menjadi semakin sulit.
Rantai ekosistem ikut terguncang
Peran ular tidak berhenti sebagai pemburu tikus. Ular juga menjadi mangsa bagi luwak, elang, dan burung pemangsa lain, sehingga posisinya penting dalam menjaga keseimbangan hubungan antarspesies.
Jika ular lenyap, spesies yang biasa memangsa ular cenderung meningkat. Di sisi lain, predator yang bergantung pada ular bisa menurun atau bahkan punah, lalu ketimpangan itu mengacaukan struktur ekosistem secara luas.
Ancaman penyakit bisa lebih besar
Jumlah tikus yang melonjak juga berarti ancaman penyakit bisa ikut meningkat. Banyak penyakit disebarkan oleh tikus, termasuk pes yang pernah menjadi wabah besar pada abad pertengahan.
Selain itu, leptospirosis, hantavirus, rat bite fever, dan penyakit lain juga berpeluang menyebar lebih luas jika populasi pengerat tidak terkendali. Karena itu, hilangnya ular tidak hanya soal kerusakan tanaman, tetapi juga soal kesehatan manusia.
Dampaknya menjalar sampai laut
Gangguan akibat hilangnya ular tidak terbatas di daratan. Ular laut memangsa belut moray, sementara belut moray sendiri adalah predator bagi ikan laut lainnya.
Jika ular laut lenyap, populasi belut moray bisa meningkat. Pertumbuhan itu kemudian dapat menekan jumlah ikan karang karena belut moray dikenal sebagai predator yang rakus dan sembunyi-sembunyi.
Peran ular di kehidupan lain sering luput dari perhatian
Ada juga hubungan kecil tetapi penting yang ikut terganggu. Beberapa burung memanfaatkan kulit ular yang mengelupas untuk membuat sarang, sementara mamalia kecil memakai liang ular yang ditinggalkan sebagai tempat berlindung.
Ular juga menjadi subjek penting dalam penelitian ekologi, biologi evolusi, dan kedokteran. Kajian tentang biologi, perilaku, racun, dan potensi pemanfaatannya ikut bergantung pada keberadaan hewan ini.
Bahkan, bisa ular digunakan untuk membuat obat bagi diabetes, kanker, hipertensi, dan penyakit jantung. Karena itu, hilangnya ular dapat menutup peluang ilmiah dan medis yang selama ini muncul dari spesies yang sering dipandang menakutkan ini.
Source: www.idntimes.com