Keuntungan Otomotif China Turun 17 Persen, Lonjakan Biaya Baterai Kian Menekan EV

Author: Redaksi Android62

Margin laba industri otomotif China terus tertekan pada awal 2026, bahkan turun ke 3,4 persen pada periode Januari-April. Di saat yang sama, biaya produksi naik lebih cepat daripada pendapatan, sehingga laba sektor ini ikut merosot 17 persen.

Tekanan itu datang saat pasar kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) tidak lagi sekuat sebelumnya. Bagi produsen mobil, kombinasi biaya baterai yang tinggi, harga komoditas yang menanjak, dan pertumbuhan pasar yang melambat membuat ruang untuk menjaga keuntungan semakin sempit.

Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association (CPCA), Cui Dongshu, menyebut pendapatan industri otomotif China pada Januari-April 2026 mencapai 3,3129 triliun yuan atau sekitar USD488 miliar. Angka itu memang masih tumbuh 1,1 persen, tetapi lajunya jauh tertinggal dari kenaikan biaya industri yang mencapai 2 persen menjadi 2,9404 triliun yuan atau sekitar USD433 miliar.

Selisih yang makin tipis langsung menekan laba. Total keuntungan sektor otomotif China pada periode itu tercatat 111,9 miliar yuan atau USD16,5 miliar, lebih rendah dibanding masa ketika pertumbuhan pendapatan masih mampu menutup beban produksi dengan lebih baik.

Beban Baterai dan Komoditas

Salah satu sumber tekanan terbesar datang dari baterai, terutama lithium karbonat yang menjadi komponen penting kendaraan listrik. Kenaikan harga bahan baku itu mendorong ongkos produksi di seluruh rantai pasok, dari hulu hingga hilir.

CPCA juga menyoroti bahwa keuntungan besar di sektor pertambangan hulu ikut menekan produsen kendaraan di bagian tengah dan hilir. Akibatnya, pembagian keuntungan dalam rantai pasok EV tidak lagi seimbang seperti sebelumnya.

Kondisi ini diperburuk oleh biaya komoditas global yang masih tinggi. Saat ongkos terus naik, pasar justru tidak memberikan dorongan pertumbuhan sekuat masa ekspansi NEV sebelumnya.

Produksi Turun, Skala Ekonomi Mengecil

Dari sisi volume, industri otomotif China juga kehilangan tenaga. Total produksi kendaraan selama empat bulan pertama 2026 tercatat 9,7 juta unit, turun 5 persen secara tahunan.

Produksi kendaraan energi baru mencapai 4,29 juta unit, turun 4 persen, dengan tingkat penetrasi pasar 44 persen. Sementara itu, produksi kendaraan berbahan bakar konvensional turun lebih dalam, yakni 6 persen menjadi 5,41 juta unit.

Pelemahan produksi ini membuat skala ekonomi ikut melemah. Dampaknya, beban biaya tetap menjadi lebih berat, sementara laba per kendaraan semakin tergerus.

Sepanjang Januari-April 2026, rata-rata pendapatan industri per kendaraan mencapai 342 ribu yuan dan naik 6 persen. Namun ongkos produksi per unit naik lebih cepat, yaitu 6,93 persen menjadi 303 ribu yuan.

Dengan struktur seperti itu, laba kotor rata-rata per kendaraan di Tiongkok turun 12,1 persen menjadi hanya 12 ribu yuan. Artinya, harga jual memang masih naik, tetapi ruang untungnya tetap menyempit.

Ada Perbaikan di April, tetapi Belum Mengubah Arah

April 2026 sempat memberi sedikit perbaikan bagi industri otomotif China. Margin laba industri pada bulan itu naik menjadi 3,7 persen, lebih baik dibanding rata-rata Januari-Maret yang berada di level 3,2 persen.

Meski begitu, perbaikan bulanan itu belum cukup untuk membalik tekanan besar yang sudah terbentuk sejak awal periode. Biaya yang terus naik, produksi yang melemah, dan pasar NEV yang tidak lagi sekencang sebelumnya masih menahan pemulihan profitabilitas.

Situasi ini juga berpotensi memengaruhi persaingan di pasar global. Produsen China diperkirakan akan memperluas ekspor untuk menjaga utilisasi pabrik dan arus kas, yang pada akhirnya bisa menambah tekanan bagi merek Jepang, Korea Selatan, Eropa, hingga Amerika Serikat.

Jika harga lithium dan komoditas strategis tetap tinggi, tekanan pada EV dapat merembet ke berbagai negara. Di tengah kompetisi yang makin ketat, produsen di banyak pasar akan semakin sulit menjaga harga kendaraan listrik tetap kompetitif.

Berita Terbaru