Keuntungan Polymarket Menumpuk Di Bot, Ritel Justru Banyak Tertinggal Rugi

Keuntungan di Polymarket ternyata tidak tersebar merata. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan bahwa sejak Januari 2025, lebih dari 100.000 akun justru mengalami kerugian minimal $1.000, hampir dua kali lipat dibanding akun yang berhasil mencetak untung dengan nominal serupa.

Gambaran itu menunjukkan bahwa pasar prediksi yang ramai dibicarakan sebagai tempat cepat cuan tidak otomatis ramah bagi trader ritel. Di saat banyak pengguna menanggung rugi, laba justru terkonsentrasi pada sebagian kecil akun yang diduga kuat bergerak seperti bot.

Di antara sekitar dua juta dompet yang aktif sejak awal 2025, hampir separuh hanya mencatat untung atau rugi di bawah $10. Angka tersebut memberi sinyal bahwa sebagian besar partisipan masuk dengan nilai taruhan kecil dan hasil yang mereka dapatkan juga tipis.

Namun, di sisi lain, ada kelompok akun dengan intensitas transaksi tinggi yang menguasai porsi besar aktivitas pasar. Bloomberg mencatat sekitar 5% dompet yang menyerupai bot menghasilkan 75% volume perdagangan di platform itu.

Dari kelompok yang sangat aktif tersebut, 823 akun masing-masing membukukan laba lebih dari $100.000. Jika dijumlahkan, keuntungan mereka mencapai $131 juta, sementara trader yang lebih pasif menanggung kerugian dalam nilai yang kurang lebih setara.

Pola itu membuat distribusi hasil di Polymarket terlihat timpang. Aktivitas yang paling agresif justru lebih sering menghasilkan profit untuk segelintir akun, sedangkan beban kerugian menyebar ke basis pengguna yang jauh lebih luas.

Temuan Bloomberg juga beririsan dengan penelitian akademis dari University of Toronto, HEC Montréal, dan ESSEC Business School. Studi tersebut meneliti 2,4 juta pengguna dan volume perdagangan senilai $67 miliar di Polymarket.

Hasil riset itu menunjukkan 68,8% pengguna merugi sejak 2022. Dalam analisis yang sama, 1% trader teratas meraih 76,5% dari seluruh keuntungan, sementara 0,1% teratas menyumbang lebih dari separuh laba platform.

Para peneliti juga menemukan bahwa pengguna yang merugi cenderung masuk di harga ekstrem, yakni di bawah 10¢ atau di atas 90¢. Mereka mengingatkan bahwa pola tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai bukti keahlian atau informasi yang lebih baik, karena alat evaluasi yang biasa dipakai di pasar keuangan tidak tersedia di pasar prediksi seperti Polymarket.

Ada pula temuan menarik dari Joshua Della Vedova, profesor dari University of San Diego. Ia menilai trader ritel sebenarnya lebih sering menebak hasil dengan benar dibanding bot, tetapi tetap kalah karena masuk terlalu lambat dan akhirnya membeli di harga yang buruk.

Situasi itu menjelaskan mengapa tebakan yang tepat belum tentu berujung untung. Dalam pasar prediksi, keputusan masuk dan harga beli sering kali lebih menentukan daripada sekadar arah prediksi, terutama ketika harga sudah lebih dulu mencerminkan ekspektasi pasar.

Kondisi tersebut juga memberi gambaran mengapa banyak pengguna tampak hanya bertaruh dengan nominal kecil. Meski jumlah yang dipertaruhkan tidak selalu besar, hasil akhirnya tetap berat ke sisi kerugian bagi mayoritas ritel.

Dengan keuntungan yang menumpuk di tangan sedikit akun berfrekuensi tinggi dan kerugian yang tersebar luas di banyak pengguna lain, Polymarket memperlihatkan pasar yang sangat tidak seimbang. Data Bloomberg dan riset akademis itu sama-sama mempertegas satu hal: di pasar prediksi, membaca arah dengan benar belum cukup jika waktu masuk dan harga sudah lebih dulu melawan posisi trader.

Berita Terkait