Keuntungan UNVR Tembus Rp 2,14 Triliun, Penjualan Naik Tipis Tapi Laba Terbantu Operasi Dihentikan

Author: Redaksi Android62

Kenaikan laba bersih PT Unilever Indonesia Tbk pada kuartal I-2026 tidak hanya ditopang oleh pertumbuhan penjualan, tetapi juga oleh dorongan besar dari pos non-operasional. Perseroan mencatat laba bersih Rp 2,14 triliun, naik 72,99 persen dari Rp 1,24 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di saat penjualan bersih naik menjadi Rp 8,44 triliun dari Rp 8,21 triliun, hasil akhir UNVR melesat jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan. Kondisi itu membuat kinerja kuartal pertama terlihat kuat, meski tekanan biaya masih belum sepenuhnya reda.

Dorongan besar datang dari operasi yang dihentikan

Salah satu alasan utama laba UNVR melonjak adalah keuntungan dari operasi yang dihentikan senilai Rp 887,86 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp 870,27 miliar berasal dari laba penjualan operasi yang dihentikan.

Komponen ini memberi kontribusi besar pada laba bersih, sehingga kenaikannya tampak jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan penjualan. Tanpa faktor tersebut, laju pertumbuhan laba kemungkinan tidak akan setajam yang tercatat pada kuartal pertama.

Bisnis inti tetap bergerak positif

Di luar faktor non-operasional, kinerja inti perusahaan juga masih menunjukkan perbaikan. Laba bruto naik menjadi Rp 4,07 triliun dari Rp 3,97 triliun, sementara laba usaha meningkat menjadi Rp 1,57 triliun dari Rp 1,44 triliun.

Pendapatan masih ditopang oleh dua segmen utama. Segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh menyumbang Rp 6,04 triliun, sedangkan segmen makanan dan minuman menambah Rp 2,39 triliun.

Tekanan biaya belum hilang sepenuhnya

Meski ada perbaikan di sejumlah pos, beban usaha masih memberi tekanan pada perseroan. Harga pokok penjualan naik menjadi Rp 4,37 triliun, sementara beban umum dan administrasi meningkat dari Rp 665,83 miliar menjadi Rp 830,37 miliar.

Di sisi lain, UNVR berhasil menekan beban pemasaran dan penjualan menjadi Rp 1,64 triliun. Efisiensi pada pos ini ikut membantu menjaga hasil akhir tetap kuat di tengah kenaikan beberapa beban lain.

Posisi keuangan makin nyaman

Dari sisi neraca, kas dan setara kas tercatat meningkat menjadi Rp 5,4 triliun hingga akhir Maret 2026. Pada saat yang sama, total liabilitas turun menjadi Rp 13,45 triliun dari Rp 15,54 triliun.

Perbaikan itu memberi ruang yang lebih longgar bagi perusahaan untuk menjaga stabilitas keuangan. Dengan kas yang lebih tebal dan liabilitas yang menurun, bantalan neraca UNVR terlihat lebih solid memasuki periode berikutnya.

Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap menilai capaian kuartal pertama ini memperkuat keyakinan bahwa bisnis perusahaan berada dalam jalur kemajuan yang positif. Ia juga menyebut momentum perusahaan semakin kuat di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.

Ke depan, manajemen memusatkan perhatian pada optimalisasi saluran penjualan dan efisiensi biaya operasional. Perseroan memperkirakan margin akan meningkat secara moderat sepanjang sisa tahun 2026, sambil tetap berkomitmen tumbuh di atas rata-rata pasar dan mewaspadai tekanan eksternal global yang masih bisa memengaruhi kinerja.

Berita Terbaru