Peringatan Hardiknas pada 2 Mei mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya soal upacara bendera atau seremoni tahunan. Momen ini juga menegaskan kembali gagasan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan seharusnya menuntun anak agar tumbuh merdeka, bukan sekadar menerima pelajaran.
Makna itu terasa penting karena pendidikan terus dituntut mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan tujuan dasarnya. Di tengah berbagai tuntutan baru, peserta didik tetap perlu ditempatkan sebagai pusat proses belajar.
Dasar peringatan dan alasan 2 Mei dipilih
Hari Pendidikan Nasional memiliki landasan resmi melalui Keputusan Presiden RI Nomor 316 Tahun 1959 yang diterbitkan pada 16 Desember 1959. Pemerintah menetapkan 2 Mei sebagai tanggal peringatannya karena hari itu bertepatan dengan kelahiran Ki Hadjar Dewantara pada 2 Mei 1889.
Ki Hadjar dikenal sebagai pelopor pendidikan Indonesia dan dihormati sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Karena itu, Hardiknas tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga ruang untuk mengenang pemikiran dan perjuangannya.
Bukan hari libur, tetapi diperingati luas
Peringatan Hardiknas berlangsung secara nasional dan melibatkan banyak kalangan. Sekolah, perguruan tinggi, dan instansi pemerintah biasanya menggelar upacara bendera serta berbagai kegiatan edukatif dan kreatif.
Kegiatan yang lazim digelar antara lain lomba cerdas cermat, lomba menulis puisi bertema pendidikan, pameran karya seni siswa, hingga diskusi dan seminar pendidikan. Seluruh rangkaian itu diarahkan untuk menegaskan kembali peran pendidikan sebagai instrumen penting dalam membentuk generasi yang mampu berkontribusi bagi pembangunan nasional.
Meski diperingati luas, Hardiknas bukan hari libur nasional. Pada 2026, 2 Mei jatuh pada hari Sabtu sehingga kegiatan belajar mengajar tetap libur mengikuti jadwal akhir pekan.
Filosofi yang masih relevan sampai sekarang
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara paling dikenal lewat semboyan “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Tiga bagian semboyan itu menjelaskan peran pendidik dalam mendampingi peserta didik dari posisi yang berbeda.
“Ing Ngarsa Sung Tulada” berarti di depan memberi teladan. “Ing Madya Mangun Karsa” berarti di tengah membangun semangat, sedangkan “Tut Wuri Handayani” berarti di belakang memberi dorongan.
Makna tersebut menempatkan pendidik bukan sebagai pihak yang memaksa, melainkan sebagai penuntun yang memberi ruang tumbuh. Dalam kerangka itu, anak tetap diberi kesempatan berkembang mandiri sambil memperoleh arahan dan dukungan yang tepat.
Pendidikan sebagai proses memerdekakan
Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak. Tujuannya agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Pandangan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup diukur dari capaian akademik. Pendidikan juga harus menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan, sekaligus membantu pembentukan karakter.
Ia juga menekankan pentingnya lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik. Pendekatan seperti itu memberi tempat bagi pemikiran kritis, kreativitas, dan pembentukan kepribadian yang utuh.
Jejak perjuangan yang melahirkan Taman Siswa
Ki Hadjar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dari lingkungan bangsawan Pakualaman, Yogyakarta. Ia sempat menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA, tetapi tidak menyelesaikannya karena kondisi kesehatan.
Setelah itu, ia menekuni dunia jurnalistik dan bekerja sebagai wartawan di berbagai surat kabar. Sejak muda, ia dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda, terutama sistem pendidikan yang lebih mengutamakan anak-anak Belanda dan kalangan bangsawan.
Ia juga aktif dalam organisasi Budi Utomo pada 1908 dan ikut menyosialisasikan pentingnya persatuan bangsa. Kritik kerasnya terhadap ketidakadilan kolonial membuatnya mengalami pengasingan ke Belanda.
Sepulang dari pengasingan, perjuangannya di bidang pendidikan semakin nyata. Pada 1922, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta.
Taman Siswa membuka kesempatan bagi pribumi untuk memperoleh hak pendidikan dan menerapkan sistem among yang menekankan nilai kemanusiaan, kekeluargaan, dan pendidikan yang memerdekakan. Tujuan lembaga ini bukan hanya mencetak orang terpelajar, tetapi juga membangun manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, merdeka lahir batin, luhur akal budi, cerdas, terampil, serta sehat jasmani dan rohani.
Relevansi untuk pendidikan masa kini
Gagasan Ki Hadjar Dewantara tetap relevan karena menegaskan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang perlu dihargai. Pendidik berperan sebagai penuntun, bukan penentu, agar peserta didik bisa menemukan jalannya sendiri.
Prinsip itu sejalan dengan sistem among yang berjiwa kekeluargaan. Sistem tersebut bersendikan kodrat alam sebagai syarat kemajuan dan kemerdekaan sebagai syarat menghidupkan kekuatan lahir dan batin anak.
Pemikiran itu juga menekankan bahwa pendidikan Indonesia perlu tetap berakar pada kebudayaan sendiri. Nilai dari luar dapat diambil secara selektif dan adaptif, tetapi pendidikan tetap harus menanamkan karakter, kebangsaan, dan kemanusiaan.







