Kit Kamera Honor Magic 8 Pro Tawarkan Grip Magnetik dan Lensa Teleconverter yang Lebih Praktis

Author: Redaksi Android62

Honor menghadirkan pendekatan yang cukup unik lewat Magic 8 Pro Professional Imaging Kit, karena paket ini tidak sekadar menambah aksesori, tetapi benar-benar membuat ponsel terasa lebih dekat ke pengalaman kamera yang lebih besar. Dalam pemakaian beberapa pekan, kit hasil kolaborasi dengan Telesin ini dinilai mengambil sejumlah ide dari para rival, lalu merapikannya menjadi paket yang terasa lebih praktis.

Yang paling menonjol justru ada pada cara kit ini membantu pengguna bergerak lebih bebas saat memotret. Honor Magic 8 Pro tetap bisa dipakai bersama aksesoris lain ketika grip terpasang, karena port USB-C tidak tertutup, dan grip-nya sendiri bisa diputar untuk pemotretan vertikal.

Paket yang terasa lengkap

Isi paketnya memang dibuat cukup serius. Di dalamnya ada casing ponsel, grip magnetik dengan kontrol taktil, dan lensa teleconverter dengan sistem pemasangan bayonet.

Honor dan Telesin juga menyertakan adaptor filter 67mm, strap leher, serta strap pergelangan tangan. Selain itu, Telesin menyiapkan aksesori tambahan yang kompatibel dengan dudukan magnetik, termasuk lampu tambahan dan kipas pendingin aktif.

Dari sisi desain, pendekatan ini memang mengingatkan pada beberapa aksesori milik merek lain. Sistem bayonet-nya sangat mirip dengan Vivo, sedangkan grip magnetiknya terasa dekat dengan pendekatan Oppo.

Meski begitu, ada detail yang membuatnya tidak terasa sekadar meniru. Casing ponsel memakai material konduktif panas di bagian dalam, sementara area cincin magnetik tampak memiliki semacam heatsink kecil.

Grip yang lebih fleksibel

Bagian grip menjadi salah satu aspek paling menarik dari kit ini. Aksesori tersebut menempel lewat magnet yang sangat kuat dan kompatibel dengan MagSafe, bahkan magnetnya ada di kedua sisi grip.

Susunan itu membuat tripod MagSafe tetap bisa dipasang tanpa perlu melepas grip. Dibanding grip USB-C yang dipakai pada kit Vivo dan Xiaomi, desain ini memberi dua keunggulan penting.

Grip dapat diputar untuk foto vertikal, dan port USB-C ponsel tetap terbuka. Artinya, perangkat lain masih bisa digunakan saat grip terpasang, termasuk wireless microphone receiver atau SSD.

Ada satu kompromi yang perlu dicatat. Grip ini tidak mengisi daya ponsel dan harus diisi daya sendiri karena bekerja seperti remote Bluetooth yang lebih mewah.

Kontrolnya pun cukup lengkap, mulai dari tombol shutter dua tahap, tombol video, zoom rocker, tombol daya, hingga roda kontrol bertekstur ratchet. Namun, semua kontrol itu tidak bisa diprogram ulang dan harus dipakai sesuai konfigurasi bawaan.

Teleconverter jadi pusat perhatian

Lensa teleconverter menjadi pembeda utama dari paket ini. Komponen tersebut terlihat dan terasa dekat dengan milik Vivo dan Oppo, dengan bodi logam berbobot dan elemen optik kaca.

Mount bayonet-nya memang mirip, tetapi tidak kompatibel silang dengan kit Vivo dan Oppo. Lensa ini hadir dengan penutup belakang karet dan penutup atas logam untuk menjaga kaca tetap aman, meski pada unit yang diuji penutup logam terasa longgar dan mudah lepas.

Secara kemampuan, lensa ini memberi pembesaran 2,35x dan bekerja bersama telephoto bawaan ponsel. Hasilnya setara sudut pandang sekitar 200mm dalam istilah full-frame, lalu zoom digital masih bisa didorong lebih jauh dari itu.

Perbedaannya langsung terasa dibanding hanya mengandalkan zoom digital. Detail naik cepat pada 200mm, dan hasilnya masih dinilai layak bahkan sampai sekitar 1600mm.

Kuat untuk portrait dan cahaya rendah

Keunggulan paling kuat muncul saat dipakai untuk medium close-up. Kompresi dari lensa yang lebih panjang menghasilkan blur latar belakang yang kuat, sehingga foto terasa mendekati karakter kamera mirrorless yang lebih besar.

Performa di cahaya rendah juga cukup meyakinkan. Saat digunakan di 200mm, sensor 1/1.4 inci tetap dipakai penuh, bukan dipotong, sehingga foto dan video terlihat lebih terang dengan noise serta motion blur yang lebih rendah.

Untuk video, stabilisasinya dinilai cukup meyakinkan. Autofocus juga bekerja baik, terutama untuk subjek manusia, meski pelacakan burung belum sekuat itu.

Ada batasan software yang perlu dipahami

Sebelum teleconverter dipakai, pengguna harus mengaktifkannya lewat menu pengaturan aplikasi kamera. Jika langkah ini dilewati, tampilan gambar akan terbalik dan sangat goyang.

Setelah aktif, mode Teleconverter akan muncul di quick settings saat pengguna berada di mode Photo atau Video. Honor juga menyediakan opsi tambahan seperti mode Stage untuk konser dan sejumlah filter.

Pada sisi video, perekaman bisa mencapai 4K120, tetapi stabilisasinya kurang baik pada mode itu. Untuk hasil yang lebih mulus, 4K60 atau lebih rendah menjadi pilihan yang lebih aman.

Ada pula batasan lain yang mirip dengan implementasi Oppo. Kit ini tidak mendukung RAW, tidak menyediakan mode resolusi tinggi, dan belum menawarkan profil Log untuk video.

Posisi yang cukup kuat di pasar

Dibanding para pesaing, Honor membawa satu nilai praktis yang jarang ada. Faktor termal masuk ke desain lewat lapisan konduktif pada casing, sementara grip yang bisa diputar dan port USB-C yang tetap terbuka memberi keuntungan tambahan atas solusi Vivo.

Secara kualitas optik, kit ini disebut berada di level yang sangat mirip dengan teleconverter lain yang sudah pernah diuji, meski tanpa branding Hasselblad atau Zeiss. Saat ini kit tersebut tersedia di China, Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Bangladesh, sedangkan status peluncuran di Eropa belum dikonfirmasi.

Berita Terbaru