Penyebaran hantavirus secara global masih dinilai rendah oleh WHO, meski klaster kasus sempat terpantau di kapal pesiar MV Hondius. Penilaian itu tidak berarti kewaspadaan boleh turun, karena sebagian orang yang sudah terpapar masih berada dalam masa inkubasi dan dapat menunjukkan gejala belakangan.
WHO menempatkan risiko bagi penumpang dan awak yang masih berada di atas kapal pada level moderat. Lembaga kesehatan dunia itu juga mengingatkan bahwa kasus baru masih bisa muncul pada orang yang terpapar sebelum langkah pengendalian dijalankan.
Pengawasan di lingkungan tertutup seperti kapal menjadi penting karena penularan lanjutan dapat terus terjadi jika paparan tidak segera diputus. WHO mencatat laju penularan lanjutan turun signifikan setelah penumpang turun dari kapal dan langkah pencegahan diterapkan.
Hantavirus sendiri merupakan penyakit zoonosis yang umumnya menyebar melalui urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan biasanya terjadi saat seseorang membersihkan area yang terkontaminasi tikus atau berada di lingkungan dengan populasi rodensia tinggi.
WHO menjelaskan ada dua sindrom klinis utama pada manusia, yaitu hantavirus pulmonary syndrome atau hantavirus cardiopulmonary syndrome yang lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika, serta haemorrhagic fever with renal syndrome yang lebih dominan di Eropa dan Asia. Sejauh ini, penularan antarmanusia hanya dilaporkan pada HPS yang terkait virus Andes di Amerika Selatan, terutama Argentina dan Chili.
Gejala HPS umumnya baru muncul satu hingga enam minggu setelah paparan virus. Tanda awalnya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, pusing, serta gangguan pencernaan seperti mual dan diare.
Pada kondisi yang lebih berat, penyakit ini dapat berkembang cepat menjadi sesak napas dan hipotensi. WHO juga menyebut tingkat kematian HPS dapat mencapai 50 persen.
Meski tergolong jarang secara global, hantavirus tetap menjadi ancaman yang perlu dipantau. Pada 2025, delapan negara di kawasan Amerika melaporkan 229 kasus HPS dengan 59 kematian, atau case fatality rate sebesar 25,7 persen.
Di Eropa, tercatat 1.885 kasus HFRS sepanjang 2023. Sementara itu, di Asia Timur, khususnya China dan Korea Selatan, kasus HFRS masih muncul setiap tahun meski trennya cenderung menurun dalam beberapa dekade terakhir.
Hingga kini belum ada vaksin maupun terapi spesifik untuk hantavirus. WHO menilai penanganan suportif sejak awal dan akses cepat ke intensive care unit dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien.
Deteksi dini dan rujukan cepat menjadi sangat penting, terutama bila gejala muncul setelah paparan di area berisiko tinggi. Dalam situasi seperti klaster di kapal pesiar, pengawasan kesehatan menjadi kunci agar kasus tidak terlambat terdeteksi.
Situasi di Indonesia juga ikut dipantau. Dinas Kesehatan DKI mencatat sudah ada tiga kasus terkonfirmasi positif dan enam kasus suspek hantavirus yang masih dipantau ketat petugas kesehatan.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menyampaikan Indonesia sejauh ini belum menemukan kasus HPS. Menurut dia, kasus hantavirus yang terkonfirmasi di Indonesia merupakan tipe HFRS dengan strain Seoul Virus.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sepanjang 2024 hingga 2026 ada 256 kasus suspek dan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Tren kasus di Indonesia juga meningkat, dari satu kasus terkonfirmasi pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025, lalu bertambah lima kasus hingga Mei 2026.
Di tengah temuan kasus di kapal dan pemantauan di sejumlah negara, WHO tetap menempatkan risiko global hantavirus pada level rendah. Namun, kelompok yang sempat berada di lokasi paparan masih perlu diikuti perkembangannya karena gejala dapat muncul setelah masa inkubasi selesai.
Source: lifestyle.bisnis.com