Kolesterol yang tetap tinggi setelah diet sering kali bukan hanya soal seberapa banyak lemak yang dikurangi. Komposisi makanan yang belum seimbang justru kerap membuat hasilnya tidak sesuai harapan.
Dokter Hoang Hien yang dikutip Mirror menjelaskan bahwa kadar LDL dapat bertahan tinggi meski seseorang sudah menghindari gorengan, daging berlemak, dan makanan berminyak. Dalam banyak kasus, masalahnya muncul dari karbohidrat olahan, rendahnya serat, dan faktor genetik yang ikut berperan.
Karbohidrat olahan masih bisa mendorong LDL naik
Saat makanan berlemak diganti dengan makanan tinggi tepung, gula, atau produk olahan, tubuh tidak selalu menjadi lebih ringan bebannya. Karbohidrat olahan dan gula berlebihan dapat memicu lonjakan insulin, lalu hati memproduksi lebih banyak kolesterol.
Akibatnya, LDL tetap sulit turun meski seseorang merasa sudah menjalani diet. Kondisi ini menunjukkan bahwa mengurangi lemak saja belum cukup jika asupan karbohidrat olahan masih tinggi.
Serat yang kurang membuat pengeluaran kolesterol tidak optimal
Serat larut punya peran penting membantu tubuh membuang kolesterol. Jika asupan serat harian terlalu rendah, proses pengeluaran itu tidak berjalan maksimal dan LDL bisa bertahan tinggi lebih lama.
Hoang Hien menyoroti bahwa pola makan modern sering kali kekurangan serat. Padahal, serat tidak hanya berguna untuk menekan kalori, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan lipid darah.
Faktor genetik juga dapat membuat kolesterol sulit turun
Tidak semua kolesterol tinggi berasal dari kebiasaan makan. Pada sebagian orang, batas dasar kolesterol juga dipengaruhi oleh gen.
Orang dengan hiperkolesterolemia familial dapat tetap memiliki kadar kolesterol tinggi walau sudah menjaga pola makan. Karena itu, riwayat keluarga menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan saat kadar kolesterol tidak kunjung membaik.
Diet yang seimbang lebih menentukan daripada sekadar rendah lemak
Hoang Hien menekankan bahwa diet yang berhasil bukan hanya diet yang memotong lemak. Kadar lipid darah masih bisa tidak stabil bila gula terlalu banyak dan serat terlalu sedikit.
Pendekatan yang lebih terarah justru perlu memperhatikan komposisi makan sejak awal hari. Ia menyarankan sarapan tinggi serat dan protein, seperti oatmeal dan yogurt, lalu makan siang dengan lemak sehat dan tambahan sayuran.
Untuk malam hari, pilihan rendah gula dengan porsi karbohidrat yang terkontrol dinilai lebih membantu. Pola seperti ini membuat fokus diet bergeser dari sekadar menghindari lemak menjadi membangun susunan makan yang lebih seimbang.
Dalam persoalan kolesterol, hasil akhir sering kali lebih dipengaruhi oleh keseimbangan nutrisi daripada hanya membatasi satu jenis makanan. Itu sebabnya, ketika LDL masih tinggi meski sudah diet, perhatian perlu diarahkan bukan hanya pada lemak, tetapi juga pada gula, serat, dan kemungkinan faktor keturunan.
Source: www.beritasatu.com






