Saat Komentar Bisa Melukai Korban, Psikolog Ingatkan Publik Menahan Jempol

Author: Redaksi Android62

Kompleksitas relasi yang penuh kekerasan sering tidak terlihat dari luar, sehingga komentar publik mudah meleset dan justru menyudutkan korban. Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi mengingatkan bahwa masyarakat tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi yang dialami korban, termasuk tekanan manipulasi psikologis, kontrol, dan dominasi dari pelaku.

Karena itu, respons paling dasar saat melihat kasus kekerasan yang ramai di media sosial adalah memastikan komentar tidak memperburuk keadaan. Gisella menegaskan bahwa tindakan sederhana seperti berkomentar seharusnya setidaknya tidak menambah beban korban.

Victim blaming masih sering muncul

Victim blaming kerap muncul ketika publik menilai kasus kekerasan hanya dari permukaan. Banyak orang menilai korban seolah cukup menjauh dari pelaku, padahal situasi di balik relasi semacam itu jauh lebih rumit.

Menurut Gisella, hubungan penuh kekerasan sering melibatkan motif ekonomi, emosional, hingga seksual. Kondisi tersebut membuat logika “kalau disakiti ya pergi” tidak selalu bisa diterapkan begitu saja.

Langkah sederhana sebelum mengirim komentar

Salah satu kebiasaan praktis yang disarankan adalah membaca ulang komentar sebelum menekan tombol kirim. Langkah ini membantu seseorang menilai apakah tulisannya relevan, pantas, dan tidak memojokkan korban.

Publik juga perlu bertanya apakah respons yang akan disampaikan benar-benar berguna. Jika isi komentar hanya menyalahkan korban, maka lebih baik komentar itu tidak dipublikasikan.

Langkah Tujuan Dampak
Baca ulang komentar Menilai isi sebelum dikirim Mencegah komentar yang melukai
Tahan komentar yang menyalahkan Menghindari victim blaming Tidak menambah beban korban
Tanya apakah respons membantu Menguji manfaat komentar Ruang diskusi lebih aman
Utamakan empati Mengurangi penghakiman Korban lebih mungkin merasa didengar

Empati perlu didahulukan saat membaca kasus viral

Gisella menyarankan publik menempatkan diri pada posisi korban sebelum memberi penilaian. Cara ini penting agar respons yang muncul tidak hanya berbasis opini spontan, tetapi juga mempertimbangkan dampak psikologis yang mungkin timbul.

Ia juga menilai penting bagi masyarakat untuk mengenali reaksi pribadi ketika membaca kasus di media sosial atau di berita. Dengan memahami koneksi emosional yang muncul, seseorang bisa lebih sadar dalam merespons dan tidak terburu-buru menghakimi.

Ruang digital yang lebih aman

Di tengah ramainya kasus kekerasan yang menjadi perbincangan publik, kehati-hatian saat berkomentar menjadi sangat penting. Dukungan kecil yang tepat sering kali lebih berarti daripada opini yang justru menambah penderitaan korban.

Dengan menjaga empati dan menahan dorongan untuk menghakimi, ruang digital bisa menjadi tempat yang lebih aman bagi korban untuk didengar. Sikap ini juga membantu percakapan publik tetap berada pada jalur yang tidak memperparah luka yang sudah ada.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru