Puasa 72 Jam Bukan Sekadar Menahan Lapar, Ini yang Terjadi pada Imunitas Tubuh

Author: Redaksi Android62

Puasa 72 jam disebut dapat memicu perubahan biologis yang cukup jauh di dalam tubuh, termasuk dorongan bagi sistem kekebalan untuk memulai ulang sebagian proses kerjanya. Sejumlah temuan yang dikutip dari peneliti USC menyebutkan bahwa puasa berkepanjangan bisa merangsang regenerasi sel punca dan memberi ruang bagi tubuh melakukan perbaikan dari dalam.

Namun, yang terjadi selama tiga hari puasa bukanlah proses tunggal yang sederhana. Tubuh beradaptasi bertahap, mulai dari peralihan sumber energi, pembersihan komponen sel yang rusak, hingga perubahan respons inflamasi yang dapat dirasakan berbeda oleh tiap orang.

Autofagi menjadi salah satu mekanisme utama

Salah satu proses yang paling disorot adalah autofagi, yakni saat sel mengurai protein rusak dan mitokondria yang bermasalah. Mekanisme ini membantu tubuh membersihkan limbah pada level molekuler dan memanfaatkan kembali komponen yang masih berguna.

Dalam gambaran yang sering muncul pada pembahasan puasa berkepanjangan, tubuh tidak diposisikan sebagai sedang kelaparan. Sebaliknya, tubuh dipahami memasuki fase penataan ulang internal yang dapat memberi keuntungan bagi sel sehat untuk memperbarui diri.

Perubahan energi mulai terasa sejak hari pertama

Pada hari pertama, rasa lapar biasanya masih kuat, tetapi tubuh mulai mengubah cara memakai energi. Menjelang akhir hari, hormon ghrelin dilaporkan mulai menurun, sementara otak perlahan bergeser dari glukosa ke keton sebagai sumber bahan bakar.

Peralihan ini menjadi penting karena menentukan bagaimana tubuh bertahan saat asupan makanan berhenti. Di fase awal inilah tubuh mulai menyesuaikan diri sebelum memasuki kondisi yang lebih stabil pada jam-jam berikutnya.

Tahap Puasa Perubahan Utama Dampak yang Disebut
Hari pertama Ghrelin mulai menurun, otak beralih ke keton Rasa lapar masih kuat, tubuh mulai menyesuaikan energi
Sekitar jam ke-36 Keton membanjiri otak, hormon pertumbuhan melonjak 300% Kabut pikiran berkurang, fokus bisa meningkat, otot lebih terjaga
Setelah 48 jam Sitokin inflamasi menurun Nyeri kronis dapat mereda, tubuh terasa lebih ringan dan tenang

Di jam ke-36, tubuh masuk fase yang lebih stabil

Sekitar jam ke-36, tubuh disebut memasuki tahap yang lebih stabil. Pada fase ini, keton membanjiri otak, kabut pikiran berkurang, dan fokus dapat meningkat.

Di saat yang sama, hormon pertumbuhan dilaporkan melonjak 300% untuk membantu mempertahankan otot ketika tubuh semakin banyak membakar lemak. Perubahan ini menjadi salah satu alasan puasa panjang kerap dikaitkan dengan adaptasi metabolik yang lebih efisien.

Setelah 48 jam, respons inflamasi ikut berubah

Ketika puasa melewati 48 jam, sumber yang dikutip menyebut nyeri kronis dapat mereda. Hal itu dikaitkan dengan penurunan sitokin inflamasi, yaitu molekul yang berhubungan dengan kelelahan, kekakuan sendi, dan penuaan dini.

Pada fase ini, sebagian orang dapat merasa lebih tenang, lebih ringan, dan lebih fokus. Meski begitu, respons tubuh tidak selalu sama karena kondisi awal, kebiasaan makan, dan daya tahan masing-masing orang bisa berbeda.

Hidrasi dan elektrolit tetap menentukan

Selama puasa berkepanjangan, air saja tidak selalu cukup untuk menjaga tubuh tetap stabil. Elektrolit seperti natrium dan magnesium juga disebut penting karena membantu menjaga jantung tetap stabil, otot tetap bekerja, dan energi tidak cepat turun.

Itu sebabnya, puasa 72 jam tidak bisa dipisahkan dari pemantauan kondisi tubuh. Asupan cairan dan elektrolit menjadi bagian penting agar proses adaptasi tidak justru mengganggu fungsi tubuh yang sedang menyesuaikan diri.

Cara membuka puasa ikut menentukan hasil

Bagian akhir puasa tidak kalah penting dari proses puasanya sendiri. Referensi yang dikutip menekankan bahwa jika buka puasa dilakukan sembarangan, manfaat yang dicapai bisa berkurang dan tubuh akan lebih kesulitan kembali ke pola makan normal.

Langkah yang disebutkan antara lain memulai dengan kaldu tulang, lalu menambahkan telur atau alpukat secara bertahap. Karbohidrat juga disarankan dihindari selama 24 jam pertama setelah puasa agar pemulihan berlangsung lebih teratur.

Puasa 72 jam memang dikaitkan dengan peluang aktivasi ulang sistem kekebalan, tetapi hasilnya bergantung pada proses biologis tubuh, kecukupan hidrasi, dan cara mengakhiri puasa. Karena itu, manfaatnya perlu dipahami sebagai rangkaian adaptasi yang kompleks, bukan sekadar menahan lapar selama tiga hari.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru