Infosys mencatat rekor baru pada kelompok karyawan bergaji tinggi di India. Pada FY26, jumlah pekerja dengan pendapatan tahunan di atas Rs 1 crore mencapai 130 orang, naik sekitar 16 persen dibanding tahun sebelumnya.
Angka itu menjadi yang tertinggi yang pernah dilaporkan perusahaan sejauh ini. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa kompensasi di level atas masih tumbuh, meski industri teknologi sedang menghadapi tekanan dari otomatisasi, perubahan belanja klien, dan meluasnya penggunaan AI generatif.
Didorong Imbalan Saham Dan Revisi Gaji
Pertumbuhan jumlah penerima gaji jumbo itu terutama berasal dari imbalan berbasis saham yang diberikan pada tahun-tahun sebelumnya lalu dieksekusi pada FY26. Revisi gaji selama tahun berjalan juga ikut menambah jumlah karyawan dalam kelompok pendapatan tersebut.
Infosys juga terlihat lebih berhasil mempertahankan talenta berkompensasi tinggi. Hanya 22 orang dari kelompok pendapatan ini yang keluar selama FY26, jauh lebih rendah dibanding total gabungan keluarnya karyawan dari kelompok yang sama dalam dua tahun keuangan sebelumnya.
Tren kenaikan ini sebenarnya sudah terbentuk sejak beberapa tahun terakhir. Jumlah karyawan Infosys di India dengan pendapatan lebih dari Rs 1 crore tercatat 103 orang pada FY24, naik menjadi 112 orang pada FY25, lalu mencapai 130 orang pada FY26.
Sebelum FY22, jumlahnya belum pernah menembus 100. Perubahan ini menandakan pertumbuhan kompensasi pada level teratas organisasi, terutama di tengah persaingan menjaga karyawan penting agar tetap bertahan.
Angka Yang Dicatat Tidak Mewakili Seluruh Populasi
Meski begitu, angka 130 tersebut bukan seluruh karyawan yang sempat melampaui ambang Rs 1 crore sepanjang tahun. Perhitungan itu hanya memasukkan karyawan berbasis di India yang tetap berada dalam daftar pegawai Infosys selama satu tahun keuangan penuh.
Karyawan yang bergabung atau keluar selama FY26 tidak ikut dihitung. Selain itu, kompensasi untuk sepuluh karyawan dengan bayaran tertinggi di perusahaan juga diungkap terpisah dan tidak masuk ke dalam angka 130 itu.
Karena itu, jumlah riil individu yang sempat melampaui Rs 1 crore selama FY26 bisa saja lebih besar dari angka yang diumumkan. Perincian tersebut penting agar pembacaan datanya tidak dianggap mewakili seluruh populasi penerima kompensasi tinggi di Infosys.
Kontras Dengan Tekanan Gaji Di Sektor Lain
Di saat Infosys menunjukkan penguatan pada lapisan karyawan teratas, percakapan di sektor teknologi India justru masih ramai oleh keluhan soal struktur gaji. Salah satu contoh datang dari TCS, tempat sejumlah karyawan menyuarakan ketidakpuasan terhadap siklus appraisal terbaru.
TCS sebelumnya mengumumkan kenaikan gaji rata-rata sekitar 5 persen, tetapi sebagian karyawan menilai hasil revisinya tidak terasa besar. Ada yang menyebut gaji bulanannya turun Rs 3.000 meski sudah menerima surat appraisal, sementara karyawan lain melaporkan penurunan kompensasi tahunan di kisaran Rs 1.000 hingga Rs 10.000.
Keluhan itu muncul setelah TCS menggulirkan revisi gaji pada Mei. Sejumlah pekerja menilai perubahan tersebut berkaitan dengan restrukturisasi komponen gaji yang disesuaikan dengan kode ketenagakerjaan baru di India.
Sebagian karyawan juga menyoroti perubahan pada komponen variable pay dan pembayaran berbasis kinerja. Mereka yang mendapat penilaian performa tertinggi disebut memperoleh kenaikan lebih kuat, sedangkan kelompok dengan performa lebih rendah merasa manfaat revisinya terbatas.
Menanggapi kritik itu, TCS mengatakan struktur gaji baru dirancang agar sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan terbaru sekaligus menstandarkan kompensasi di seluruh tenaga kerja India. Perusahaan juga menyatakan gaji bersih yang dibawa pulang karyawan tetap terlindungi dan perubahan itu memberi fleksibilitas lebih besar untuk perencanaan pajak.
Di tengah perdebatan soal gaji dan tekanan AI terhadap lapangan kerja teknologi, data Infosys memberi sinyal berbeda pada lapisan tertentu. Kelompok penerima kompensasi tertinggi di perusahaan itu justru bertambah, sementara tingkat keluar masuk karyawan bergaji tinggi turun selama FY26.
