Penjualan mobil baru di Indonesia kembali melemah pada Mei 2026. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat retail turun 5,1 persen menjadi 71.890 unit, sementara wholesales berada di 69.219 unit.
Kondisi itu menunjukkan pasar otomotif masih bergerak rapuh setelah sempat pulih pada April 2026. Pergerakan yang naik-turun membuat konsumen maupun pelaku industri memilih lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan baru.
Harga BBM dan nilai tukar ikut menekan minat beli
Salah satu penahan terbesar datang dari sisi biaya kepemilikan kendaraan. Pada 10 Juni 2026, Pertamina menaikkan harga bahan bakar, termasuk Pertamax yang kini dijual Rp 16.250 per liter.
Harga Pertamax Green 95 naik menjadi Rp 17.000 per liter, sedangkan Pertamax Turbo 98 mencapai Rp 20.750 per liter. Di sisi lain, Biosolar dan Pertalite masih bertahan di masing-masing mulai Rp 6.800 dan Rp 10.000 per liter.
Kenaikan BBM di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya berpotensi kembali membuat konsumen menimbang ulang pembelian mobil baru. Ditambah lagi, nilai tukar rupiah yang belum stabil ikut memperbesar kekhawatiran terhadap harga jual kendaraan dan suku cadang.
Gaikindo melihat banyak pembeli memilih menunggu
Vice Chairman Market Development Gaikindo, Jongkie Sugiarto, mengatakan banyak konsumen belum terburu-buru masuk pasar. Menurut dia, situasi saat ini mendorong sikap menahan keputusan beli.
“Banyak yang wait and see dulu,” ujarnya kepada KatadataOTO pada Selasa (09/06).
Sikap menunggu ini muncul ketika pasar belum sepenuhnya tenang. Konsumen cenderung menghitung ulang kemampuan membeli, terutama saat biaya harian kendaraan ikut bergerak naik.
GIIAS 2026 jadi tumpuan dorongan penjualan
Di tengah tekanan itu, Gaikindo berharap GIIAS 2026 bisa membantu mengerek penjualan. Pameran otomotif besar ini kerap menjadi momen penting bagi diler dan pabrikan untuk menawarkan berbagai insentif kepada calon pembeli.
Skema yang biasanya muncul antara lain kredit ringan dan potongan harga. Promo seperti itu bisa menarik konsumen yang selama ini masih menunggu waktu yang dianggap lebih tepat.
Peluang harga mobil dan suku cadang ikut terdorong
Fluktuasi rupiah juga menjadi perhatian utama pabrikan karena berpotensi menekan biaya produksi. Jika kondisi ini berlanjut, harga mobil baru dan suku cadang bisa ikut terdorong naik.
Risiko tersebut lebih terasa pada kendaraan dan komponen yang masih diimpor utuh dari luar negeri. Semakin besar tekanan biaya logistik dan produksi, semakin sempit pula ruang mempertahankan harga jual yang rendah.
Pergerakan pasar sepanjang Januari hingga Mei 2026
Data kumulatif menunjukkan pasar otomotif masih belum menemukan arah yang stabil. Pada Januari, retail tercatat 67.029 unit, lalu naik ke 78.239 unit pada Februari sebelum turun lagi ke 66.596 unit pada Maret.
April menjadi titik pemulihan dengan 75.736 unit, tetapi Mei kembali terkoreksi menjadi 71.890 unit. Pola yang mirip juga terlihat pada wholesales, yakni 66.499 unit pada Januari, 81.247 unit pada Februari, 61.271 unit pada Maret, 80.779 unit pada April, dan 69.219 unit pada Mei.
Rangkaian angka itu memperlihatkan pasar otomotif masih sensitif terhadap situasi ekonomi dan biaya kepemilikan. Selama konsumen belum merasa lebih yakin, penjualan mobil baru berisiko tetap berjalan lamban.
Source: otomotif.katadata.co.id






