Konsumsi Rumah Tangga Dorong Jateng Tumbuh 5,89 Persen, Lebaran Mengalahkan Laju Nasional

Konsumsi rumah tangga kembali menjadi penggerak utama ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2026. Komponen ini tumbuh 5,08 persen dan tetap menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah.

Dorongan terbesar datang dari aktivitas masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri 2026. Mobilitas mudik Lebaran ikut memutar perdagangan, jasa, dan transportasi di banyak daerah.

Kinerja itu membuat ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,89 persen secara tahunan. Capaian ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional yang berada di 5,61 persen dan rata-rata Pulau Jawa sebesar 5,79 persen.

Badan Pusat Statistik per 5 Mei 2026 mencatat laju tersebut juga sedikit di atas triwulan IV 2025 yang tumbuh 5,84 persen. Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Jawa Tengah tetap menunjukkan tenaga yang kuat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menyebut pertumbuhan daerah masih ditopang oleh konsumsi masyarakat dan investasi yang terus meningkat. Menurut dia, kombinasi keduanya menjaga ekonomi daerah tetap stabil.

Belanja pemerintah ikut menguat

Selain konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah juga memberi dorongan besar. Komponen ini tumbuh 19,36 persen dan membantu menjaga laju ekonomi daerah tetap solid.

Bank Indonesia menilai akselerasi itu berkaitan dengan percepatan belanja infrastruktur. Pembangunan dan perbaikan jalan serta fasilitas publik ikut mendukung mobilitas masyarakat selama periode tersebut.

Aktivitas belanja selama Ramadan dan Lebaran juga menciptakan efek berantai. Permintaan di sektor perdagangan, jasa, dan transportasi ikut naik ketika masyarakat bergerak lebih banyak dari biasanya.

Sektor jasa terdorong, industri melambat tipis

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap PDRB Jawa Tengah dengan porsi 32,69 persen. Namun, sektor ini mengalami perlambatan tipis akibat gangguan logistik di sejumlah wilayah.

Berbeda dengan industri, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum justru mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 14,14 persen. Kenaikan okupansi hotel dan aktivitas masyarakat selama Ramadan serta Idulfitri menjadi penopang utamanya.

Pola ini menunjukkan bahwa momentum libur keagamaan masih memberi dampak nyata bagi ekonomi daerah. Saat konsumsi terkonsentrasi pada periode tersebut, permintaan layanan akomodasi dan kuliner ikut bergerak naik.

Optimisme masyarakat tetap terjaga

Sinyal positif juga terlihat dari sisi keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen Jawa Tengah naik dari 117,56 menjadi 123,82 pada triwulan I 2026.

Kenaikan indeks itu menandakan optimisme rumah tangga terhadap kondisi ekonomi daerah masih kuat. Ketika konsumsi domestik bertahan solid dan keyakinan masyarakat menguat, ruang pertumbuhan Jawa Tengah pun tetap terbuka lebar.

Source: indoraya.news

Berita Terkait