Penentuan rute koridor dua Bus Trans Jatim di Malang Raya belum juga menemui kepastian hingga awal Juli. Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur masih menimbang empat komponen agar jalur yang dipilih tidak memunculkan persoalan di lapangan dan tetap layak dilayani bus berukuran besar.
Kepala Seksi Angkutan Dishub Provinsi Jatim, Cito Eko Yuly Saputro, menyebut salah satu pertimbangan terpenting adalah risiko friksi atau penolakan. Karena itu, rute yang diputuskan tidak hanya harus efektif, tetapi juga aman diterima oleh lingkungan yang dilaluinya.
Permintaan penumpang dan dampak ekonomi ikut dihitung
Di luar soal penolakan, Dishub juga melihat keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan dampak ekonomi lokal. Dua komponen lain yang masuk penilaian adalah supply and demand, serta pengaruhnya terhadap UMKM, usaha, dan pariwisata di sepanjang jalur.
Cito menjelaskan, jalur yang dipilih harus memiliki permintaan penumpang yang tinggi. Pada saat yang sama, jalur itu tidak boleh merugikan usaha di sekitar koridor yang dilewati bus.
Pariwisata belum tentu dijangkau langsung
Aspek pariwisata juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Cito menyebut kemungkinan Bus Trans Jatim tidak langsung masuk ke pantai atau destinasi wisata lain, sehingga penumpang dapat diteruskan dengan angkutan penghubung.
Dalam skema yang dibahas, bus kemungkinan berhenti di Terminal Talangagung, Kepanjen. Dari titik itu, perjalanan ke tujuan wisata akan dilanjutkan dengan moda penghubung agar jangkauan layanan tetap terkelola.
Titik henti harus aman dan tersedia lahannya
Komponen keempat yang dinilai adalah kesesuaian dan luasan pembangunan titik henti. Dishub menargetkan titik henti berada di bahu jalan agar proses naik turun penumpang lebih aman dan tertib.
Cito menyebut titik henti ideal memiliki lebar bahu jalan tiga sampai empat meter. Jika lahan tidak tersedia, penumpang akan kesulitan naik turun dan layanan bus bisa kehilangan daya tariknya.
| Komponen Penilaian | Fokus Utama | Dampak yang Diperhatikan |
|---|---|---|
| Friksi atau penolakan | Risiko penerimaan di lapangan | Kelancaran implementasi rute |
| Supply and demand | Permintaan penumpang | Kelayakan layanan bus besar |
| Dampak UMKM, usaha, dan pariwisata | Pengaruh terhadap aktivitas ekonomi lokal | Keberlanjutan usaha di sepanjang jalur |
| Kesesuaian titik henti | Lahan bahu jalan dan ukuran ruang | Keamanan naik turun penumpang |
Optimisme tetap dijaga oleh Dishub Jatim
Meski sejumlah aspek masih dibahas, Dishub Jatim tetap optimistis koridor dua bisa terealisasi. Harapan itu disebut sejalan dengan amanah Gubernur Jatim Khofifah Indar Prawansa.
Cito juga berharap koridor dua dapat berjalan seperti koridor satu, dengan dukungan 14 bus operasional dan satu bus cadangan. Dalam gambaran itu, layanan diarahkan agar bisa menjangkau sejumlah destinasi wisata, termasuk pantai di Malang Selatan.
Namun, untuk mencapai area wisata yang lebih jauh, masih dibutuhkan angkutan desa sebagai penghubung. Tanpa dukungan tersebut, jangkauan Bus Trans Jatim dinilai terlalu luas dan berpotensi menambah kebutuhan APBD.
