Kredit Bank Mandiri Tembus Rp1.530 Triliun, Pembiayaan Sektor Riil Makin Menguat Di Atas Rata-Rata Industri

Author: Redaksi Android62

Kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. pada kuartal I/2026 menunjukkan ekspansi yang masih sangat kuat. Penyaluran kredit perseroan mencapai Rp1.530 triliun, tumbuh 17,4% secara tahunan, atau jauh di atas pertumbuhan kredit industri perbankan yang berada di level 9,37% YoY.

Selisih laju itu memperlihatkan Bank Mandiri masih berada di jalur yang agresif dalam mendukung pembiayaan ekonomi. Di saat tekanan global belum sepenuhnya mereda, bank pelat merah ini tetap mampu menjaga fungsi intermediasi dan memperluas pembiayaan ke sektor yang lebih produktif.

Fokus ke sektor produktif

Dorongan utama pertumbuhan kredit datang dari penyaluran ke sektor-sektor produktif. Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyampaikan bahwa strategi sinergi perusahaan diarahkan ke UMKM, ekonomi kreatif, dan penguatan ekosistem digital.

Arah pembiayaan seperti ini membuat ekspansi tidak berhenti pada satu segmen saja. Bank Mandiri berupaya menjaga agar pertumbuhan kredit tetap dekat dengan kebutuhan pelaku usaha di berbagai lapisan ekonomi.

Penyaluran ke sektor riil juga penting karena berkaitan langsung dengan aktivitas usaha di lapangan. Aliran dana ke sektor ini memberi pengaruh pada perputaran ekonomi, kegiatan produksi, dan penyerapan tenaga kerja.

Dana murah ikut menopang ekspansi

Di sisi pendanaan, Bank Mandiri juga mencatat pertumbuhan yang solid. Dana pihak ketiga atau DPK naik 21,1% YoY menjadi Rp1.675 triliun pada periode yang sama.

Salah satu penopang terbesarnya adalah dana murah atau CASA. Nilainya mencapai Rp1.201 triliun dan tumbuh 12,7% YoY, sehingga memberi ruang lebih luas bagi bank untuk menjaga likuiditas di tengah penyaluran kredit yang terus membesar.

Porsi CASA yang besar biasanya membantu bank mempertahankan efisiensi pendanaan. Dalam kondisi ekspansi yang cepat, struktur seperti ini penting karena memberi fleksibilitas lebih besar saat bank menyalurkan pembiayaan dalam skala besar.

Risiko tetap dikendalikan

Pertumbuhan kredit yang tinggi kerap memunculkan kekhawatiran soal kualitas aset. Namun, Bank Mandiri masih mencatat rasio kredit bermasalah atau NPL gross di bawah rata-rata industri.

NPL gross perseroan berada di level 0,98%, sementara rata-rata industri tercatat 2,17%. Di saat yang sama, pencadangan juga dijaga tinggi dengan coverage ratio sebesar 245%.

Gabungan antara kualitas aset yang rendah dan pencadangan yang kuat memberi sinyal bahwa ekspansi kredit masih berada dalam koridor yang terjaga. Hal ini membuat pertumbuhan Bank Mandiri terlihat tidak hanya cepat, tetapi juga relatif disiplin dalam pengelolaan risiko.

Program prioritas ikut mendukung

Bank Mandiri juga menyalurkan pembiayaan yang terhubung dengan program prioritas pemerintah. Kredit Usaha Rakyat atau KUR yang disalurkan perseroan telah mencapai Rp11 triliun dan menjangkau lebih dari 87 ribu pelaku UMKM.

Perseroan juga terlibat dalam Program 3 Juta Rumah melalui skema FLPP. Selain itu, Bank Mandiri memperkuat ekosistem ekonomi desa lewat Koperasi Desa Merah Putih.

Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit Bank Mandiri tidak hanya bertumpu pada pembiayaan komersial. Peran bank juga melebar ke dukungan sosial-ekonomi yang menyentuh UMKM, perumahan, dan penguatan desa.

Pada saat yang sama, laba bersih Bank Mandiri pada kuartal I/2026 meningkat menjadi Rp15,4 triliun, naik 16,6% YoY. Capaian itu menegaskan bahwa pertumbuhan kredit, pendanaan, dan kualitas aset masih bergerak searah, sehingga momentum kinerja perseroan tetap terjaga.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terbaru