Krisis Chip Memori Mengubah Ponsel Bekas Jadi Incaran Baru, Harga HP Baru Tertekan

Author: Redaksi Android62

Krisis chip memori global diperkirakan menjadi ujian paling berat bagi industri smartphone pada 2026. FDM CCS Insight memproyeksikan permintaan perangkat baru bisa tertekan hingga 15% ketika produsen menaikkan harga untuk menutup biaya komponen yang lebih tinggi.

Di sisi lain, pasar smartphone bekas justru diperkirakan bergerak lebih cepat. Banyak konsumen mulai melirik perangkat second-hand karena harga ponsel baru makin sulit dijangkau, terutama di kelas bawah dan menengah.

Tekanan paling besar datang dari komponen memori

Masalah inti kali ini terletak pada pasokan DRAM dan NAND flash yang makin diburu untuk kebutuhan pusat data dan infrastruktur AI. Persaingan pasokan itu membuat ketersediaan memori untuk perangkat konsumen menipis.

Pada sejumlah model smartphone, komponen memori bahkan menyumbang lebih dari 30% dari daftar bahan baku atau bill of materials. Kondisi itu membuat produsen menghadapi tekanan berlapis, dari biaya komponen yang meningkat hingga strategi penetapan harga yang makin sulit diatur.

Harga ponsel baru diperkirakan naik tajam

FDM CCS Insight memperkirakan pasar smartphone akan terkoreksi 14,8% karena produsen menaikkan harga untuk mengompensasi ongkos komponen. Penurunan paling tajam diproyeksikan terjadi pada awal kuartal, sekitar 4,4%, meski stok barang sebelumnya sudah sempat ditimbun.

Kenaikan paling terasa diperkirakan terjadi di segmen entry-level. Laporan yang sama menyebut harga di kelas ini bisa naik sekitar 50%, sehingga beban paling besar jatuh pada pembeli ponsel murah.

Konsumen kelas bawah dan menengah paling rentan

Ben Hatton dari FDM CCS Insight mengatakan dampak tersebut akan jauh lebih terasa bagi konsumen yang membeli ponsel di bawah US$500, atau sekitar Rp8,9 juta. Ia menambahkan bahwa banyak pengguna kemungkinan akan tetap memakai ponsel lama mereka karena perangkat baru menjadi semakin sulit dijangkau.

Tekanan harga itu membuat sebagian pembeli menunda pembelian sampai kondisi pasar membaik. Bagi produsen, situasi ini berarti penyesuaian harga harus dilakukan sepanjang tahun agar margin tetap terjaga di tengah biaya produksi yang meningkat.

Pasar bekas mendapat dorongan tambahan

Di tengah kondisi tersebut, TechRadar melaporkan bahwa pasar smartphone bekas cenderung ikut menguat karena konsumen mencari alternatif yang lebih ramah anggaran. Pergeseran ini muncul bukan karena minat terhadap perangkat baru hilang, melainkan karena daya beli untuk perangkat baru terus menyempit.

Data FDM CCS Insight menunjukkan penjualan smartphone bekas naik 4% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Untuk sepanjang 2026, ceruk ini diperkirakan tumbuh 15,4% seiring peralihan permintaan dari perangkat baru ke pasar second-hand.

FDM CCS Insight juga menilai masih ada pelanggan yang tetap membutuhkan smartphone baru. Namun, banyak dari mereka akhirnya memilih ponsel bekas karena harga perangkat anyar sudah melampaui kemampuan belanja mereka.

Berita Terbaru