Hasil penanggalan terbaru atas Yerusalem kuno semakin memperkuat kaitan kota itu dengan kehancuran Babilonia pada 586 SM. Studi ini menempatkan berakhirnya periode pemukiman dengan kebakaran besar yang dinilai sejalan dengan catatan Alkitab dan sumber Neo-Babilonia.
Temuan tersebut berasal dari kajian berjudul Radiocarbon Chronology of Iron Age Jerusalem Reveals Calibration Offsets and Architectural Developments, yang menyusun ulang kronologi Zaman Besi Yerusalem dengan menggabungkan radiokarbon, cincin pohon, tembikar, teks Alkitab, dan catatan sejarah. Para peneliti menyebut pendekatan itu membantu memberi urutan peristiwa yang lebih akurat bagi kota yang terus dibangun dari waktu ke waktu.
Menembus masalah penanggalan
Penelitian di wilayah ini tidak sederhana karena data radiokarbon dipengaruhi kondisi dataran tinggi Hallstatt. Campuran sinar kosmik dan atmosfer membuat penanggalan tidak langsung mengarah pada usia yang spesifik.
Untuk mengatasi hambatan itu, tim melakukan lebih dari 100 pengukuran radiokarbon pada bahan organik. Sampel yang terkumpul kemudian dianalisis ulang melalui pendekatan arkeologi mikro, termasuk pada lapisan sedimen yang terkait dengan biji-bijian.
Hasil pengukuran itu lalu diverifikasi menggunakan data radiokarbon atmosfer dari cincin pertumbuhan pohon yang tumbuh antara tahun 624 dan 572 SM. Menurut Elisabetta Boaretto, peneliti sekaligus direktur Scientific Archeology Unit Weizmann, bukti arkeologi di Yerusalem memang tersebar, tetapi kronologi Zaman Besi tetap bisa disusun.
Fokus pada lima situs di Kota Daud
Tim menelaah 103 sampel biji dan sisa organik lain dari lima situs di kawasan Kota Daud kuno, di selatan Temple Mount. Dari kumpulan data itu, mereka membangun kronologi yang dikaitkan dengan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah kota tersebut.
Periode pemukiman yang mereka identifikasi berakhir dengan kebakaran besar, yang oleh tim dihubungkan dengan penghancuran Yerusalem oleh bangsa Babilonia pada 586 SM. Hasil itu juga disebut konsisten dengan penjelasan dalam Alkitab serta catatan Neo-Babilonia.
Boaretto menilai tantangan dari konstruksi berlapis dan pengaruh dataran tinggi Hallstatt akhirnya dapat diatasi. Dengan begitu, tim mengklaim kronologi Zaman Besi untuk Yerusalem kini tersusun lebih rapi dibanding sebelumnya.
Masih ada keberatan dari sejumlah ahli
Meski temuan ini dianggap penting, pandangan berbeda masih muncul dari kalangan akademisi. Israel Finkelstein, profesor dari Universitas Tel Aviv yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai banyak sampel berasal dari konteks arkeologi yang kurang ideal.
Ia juga menyoroti bahwa hanya satu dari lima situs sejarah yang dianggap dapat diandalkan. Perbedaan itu menunjukkan bahwa dasar arkeologis dari kesimpulan tim masih diperdebatkan, meski kajian baru tersebut menambah lapisan bukti tentang perkembangan Yerusalem kuno dan momen kehancurannya.
