Akses buku gratis tidak serta-merta membuat kuliah Kedokteran Gigi di Jerman menjadi ringan bagi Dedi Kurniawan. Pada semester kedua, mahasiswa asal Indonesia itu harus menjalani praktikum padat, ulangan mingguan, hingga ujian anatomi lisan di hadapan profesor dan mayat.
Tantangan itu muncul meski Dedi mengaku belum membeli buku teori selama berkuliah. Perpustakaan kampus menyediakan banyak buku pinjaman, sedangkan sebagian materi tersedia dalam bentuk daring yang dapat diunduh tanpa biaya.
“Aku sampai sekarang belum ada beli buku sama sekali,” ujar Dedi dalam kisahnya kepada Kompas.com. Kemudahan bahan belajar tersebut membantunya menekan kebutuhan membeli buku fisik ilmu Kedokteran Gigi.
Praktikum dan Ulangan Menjadi Tekanan Utama
Jadwal semester kedua Dedi mencakup praktikum berdurasi tiga jam di sejumlah bidang. Kegiatannya meliputi pembedahan mayat, praktik di area gigi, serta praktikum fisika.
Setiap praktikum fisika dan Kedokteran Gigi juga disertai ujian atau ulangan. Sistem ini membuat mahasiswa tetap harus menjaga kesiapan belajar meski sebagian presentasi dosen dapat diakses dari rumah.
Kehadiran tidak selalu diwajibkan untuk presentasi dosen yang telah diunggah ke portal universitas. Namun, mata kuliah praktikum dan seminar tetap menuntut mahasiswa datang langsung ke kampus.
Dedi menilai dosen di Jerman terbuka terhadap pertanyaan mahasiswa selama pembelajaran berlangsung. Meski begitu, kendala bahasa Jerman dan materi sains tetap menjadi pekerjaan besar yang harus ia hadapi.
Ujian Negara Menentukan Hasil Akhir
Kampus Dedi tidak menggunakan IPK sebagai tolok ukur utama setiap semester. Nilai ujian semester pada dasarnya berstatus lulus atau tidak lulus, kecuali saat diperlukan untuk keperluan seperti pengajuan beasiswa.
Mahasiswa yang belum lulus ujian semester wajib mengulang ujian tersebut. Sementara itu, ujian negara dapat diulang hingga tiga kali sebelum mahasiswa berisiko terkena drop out bila tetap tidak berhasil.
| Tahap Evaluasi | Waktu Pelaksanaan | Keterangan |
|---|---|---|
| Ujian negara pertama | Setelah 2 tahun kuliah | Bagian evaluasi nasional calon dokter gigi |
| Ujian negara kedua | Setelah 3 tahun kuliah | Nilainya lebih menentukan daripada ujian semester |
| Ujian negara ketiga | Setelah 5 tahun kuliah | Hasilnya tercantum pada ijazah |
Program Kedokteran Gigi di Jerman berlangsung selama lima tahun dengan dua tahun awal sebagai masa preklinik. Setelah itu, mahasiswa memasuki tahap klinik yang dimulai dengan latihan memakai gigi plastik sebelum menangani pasien.
Biaya Semester dan Perjalanan Dedi
Dedi menempuh studi di Johannes Gutenberg University of Mainz setelah mulai kuliah pada 2025 di usia 30 tahun. Ia membayar biaya semester sekitar 350 hingga 367 Euro, dengan nominal yang dapat berubah pada setiap semester.
Biaya itu sudah termasuk fasilitas transportasi umum menuju kampus dan tidak dibedakan berdasarkan jurusan. Di kampus lain, biaya semester dapat berada di kisaran 82 Euro atau 90 Euro karena tidak selalu mencakup transportasi gratis.
Sebelum kuliah, Dedi datang ke Jerman pada 2021 untuk mengikuti Bundesfreiwilligendienst atau BFD. Ia kemudian menempuh Ausbildung sebagai perawat gigi atau asisten dokter gigi selama dua setengah tahun, yang menjadi bekal untuk memahami sebagian materi kuliah.
Ia tetap harus mengulang pemahaman fisika dan kimia karena telah lulus SMA sekitar 15 tahun sebelumnya. Kesempatan mengejar cita-cita menjadi dokter gigi pada usia 30 tahun menjadi alasan Dedi bertahan menghadapi ritme akademik yang berat.
