Kuliner Lokal Labuan Bajo Diangkat Jadi Senjata Baru Desa Wisata BCA

BCA mendorong pengelola desa wisata di Labuan Bajo untuk melihat kuliner lokal sebagai daya tarik utama, bukan sekadar pelengkap kunjungan. Lewat pelatihan gastronomi, sembilan pengelola Desa Bakti BCA dibekali cara menyajikan makanan daerah dengan standar yang lebih menarik bagi wisatawan.

Pendekatan itu diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa melalui pariwisata. Dengan menata makanan khas daerah secara lebih serius, kuliner lokal diposisikan sebagai pintu masuk untuk memperluas manfaat ekonomi di tingkat desa.

Fokus pada Bahan Baku dan Penyajian

Workshop yang digelar di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, membahas proses gastronomi secara menyeluruh. Peserta mempelajari pemilihan bahan baku lokal, teknik memasak, dan penataan hidangan agar tampil lebih menarik.

Dalam pelatihan itu, peserta juga mendapat pendampingan praktik langsung dari Dapur Tara, pelaku usaha kuliner berbasis budaya Flores yang menjadi fasilitator. Pendampingan tersebut memberi gambaran konkret tentang cara mengemas cita rasa daerah menjadi pengalaman kuliner yang lebih kuat bagi pengunjung.

Fokus ProgramIsi KegiatanLokasi
Pelatihan gastronomiPemilihan bahan baku lokal, teknik memasak, penataan hidanganLabuan Bajo
Pendampingan praktikFasilitasi oleh Dapur Tara berbasis budaya FloresLabuan Bajo
Peningkatan kapasitas desa binaanPengelolaan keuangan, rumah pangan hidup, revitalisasi kebun kopi, sertifikasiSejumlah wilayah lain

Bagian dari Pemberdayaan yang Lebih Luas

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan kuliner lokal memiliki kedekatan kuat dengan kehidupan masyarakat desa. Menurut dia, potensi itu bisa tumbuh menjadi daya tarik wisata jika pengelolaan dan penyajiannya terus ditingkatkan.

“Kuliner lokal adalah salah satu potensi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat desa. Melalui workshop ini, kami ingin mendorong para pengelola Desa Bakti BCA untuk semakin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).

Hera menambahkan, peningkatan kualitas penyajian kuliner diharapkan ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat desa yang berkembang bersama pariwisata. BCA menempatkan pelatihan ini sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat potensi ekonomi desa secara konsisten.

Selain di Labuan Bajo, pendampingan untuk desa wisata binaan juga dilakukan di sejumlah wilayah lain melalui berbagai program peningkatan kapasitas masyarakat. Program itu mencakup pengelolaan keuangan, rumah pangan hidup, revitalisasi kebun kopi, hingga dukungan sertifikasi.

BCA menyebut seluruh inisiatif tersebut dijalankan melalui tiga fokus utama, yakni pengembangan usaha berbasis masyarakat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola desa, serta perluasan akses pasar melalui ekosistem BCA. Melalui pola itu, perusahaan ingin memastikan penguatan masyarakat desa berjalan berkelanjutan dan memberi dampak yang terasa.

Dengan pendekatan tersebut, pengelola desa wisata diharapkan tidak hanya mampu menyajikan makanan khas daerah, tetapi juga memperkuat identitas budaya setempat. Di saat yang sama, kuliner lokal ditempatkan sebagai penggerak tambahan bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terkait