Banyak orang merasa sudah disiplin memakai sunscreen, tetapi warna kulit tetap tampak kusam saat sering terpapar matahari. Kondisi ini sering bukan karena produknya tidak bekerja, melainkan karena cara pemakaiannya masih keliru.
Konsultan Dermatologis Dr. Rana, seperti dikutip dari Hindustan Times, menyoroti bahwa ada sejumlah kebiasaan yang membuat perlindungan tabir surya tidak maksimal. Sunscreen tetap penting untuk membantu melindungi kulit dari sinar UV, tetapi hasil akhirnya sangat dipengaruhi oleh takaran, waktu pakai, dan kebiasaan saat beraktivitas di luar ruangan.
Perlindungan sunscreen tidak berdiri sendiri
Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi adalah anggapan bahwa tabir surya bisa melindungi kulit secara penuh dari semua dampak sinar matahari. Dr. Rana menjelaskan bahwa banyak produk lebih efektif menahan UVB, sementara UVA masih dapat ikut membuat kulit tampak lebih gelap.
Karena itu, sunscreen sebaiknya tidak menjadi satu-satunya alat perlindungan. Saat berada di luar ruangan, langkah tambahan seperti topi, syal, jaket, atau payung tetap dibutuhkan agar kulit tidak terlalu lama menerima paparan langsung.
Takaran yang terlalu sedikit membuat perlindungan turun
Kesalahan lain yang kerap terlewat adalah penggunaan sunscreen dalam jumlah yang terlalu hemat. Jika lapisan yang diaplikasikan tidak cukup menutup area kulit yang terpapar, perlindungan yang terbentuk ikut berkurang.
Dr. Rana menekankan pentingnya mengikuti anjuran pada label produk. Ia menyebut takaran sekitar satu sendok teh untuk wajah dan setidaknya kurang dari satu gelas kecil untuk seluruh tubuh sebagai acuan yang perlu diperhatikan.
Pemakaian ulang sering diabaikan
Banyak orang berhenti setelah mengoleskan sunscreen sekali sebelum keluar rumah. Padahal, perlindungan tabir surya tidak bertahan tanpa batas dan bisa menurun seiring waktu, terutama saat seseorang lama berada di bawah matahari.
Karena itu, pemakaian ulang menjadi penting ketika aktivitas di luar ruangan berlangsung cukup panjang. Tanpa re-apply, lapisan pelindung yang sudah dibentuk di awal dapat melemah dan kulit tetap berisiko tampak lebih gelap.
Waktu pemakaian juga memengaruhi hasil
Masalah berikutnya muncul ketika sunscreen dipakai terlalu mepet dengan waktu pergi. Kebiasaan ini membuat produk belum sempat membentuk lapisan perlindungan yang bekerja secara optimal di kulit.
Dr. Rana menyarankan tabir surya digunakan 15–20 menit sebelum beraktivitas di luar ruangan. Jeda tersebut memberi waktu agar produk bekerja lebih baik begitu kulit mulai terkena sinar matahari.
Paparan matahari yang terlalu lama tetap berisiko
Sunscreen memang membantu, tetapi bukan jaminan kulit sepenuhnya aman jika paparan matahari berlangsung terlalu lama. Intensitas sinar yang kuat tetap bisa menurunkan efektivitas SPF, termasuk pada produk dengan kadar tinggi.
Dr. Rana juga mengingatkan agar paparan antara pukul 10 pagi hingga 4 sore diminimalkan, terutama saat musim kemarau. Pada jam tersebut, intensitas sinar matahari berada pada titik tinggi sehingga risiko kulit menjadi lebih gelap tetap besar bila tidak dibarengi langkah pencegahan lain.
Kebiasaan kecil menentukan hasil perlindungan
Penggunaan sunscreen akan lebih efektif jika dilakukan dengan cara yang tepat dan didukung perlindungan fisik saat diperlukan. Jumlah yang cukup, waktu pakai yang tidak tergesa, pemakaian ulang, serta pengurangan paparan langsung menjadi bagian penting dari perlindungan kulit.
Dengan memahami lima kesalahan yang sering terjadi ini, sunscreen bisa bekerja lebih optimal dalam membantu menjaga kulit dari kusam akibat paparan UV.
