Nyeri Dada Jangan Dianggap Masuk Angin, Ini Tanda Bahaya Angina yang Sering Diabaikan

Author: Redaksi Android62

Nyeri dada yang terasa seperti ditekan, menjalar ke rahang atau lengan, atau muncul saat beristirahat tidak boleh dianggap keluhan biasa. Kondisi seperti itu bisa menjadi tanda angina pektoris, yaitu saat otot jantung tidak memperoleh pasokan darah dan oksigen yang cukup.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berafiliasi dengan PERKI, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, FESC, menegaskan bahwa angin duduk kerap disalahartikan sebagai masuk angin. Ia menyebut keluhan tersebut sering diatasi dengan kerokan, padahal gejalanya justru khas angina pektoris.

Risiko terlambat mengenali gejala

Keterlambatan mencari pertolongan membuat kondisi ini berbahaya. Bila sumbatan pembuluh darah terus berkembang, angina dapat berlanjut menjadi infark miokard akut dan memicu kematian mendadak.

Karena itu, pasien disarankan segera datang ke fasilitas kesehatan saat keluhan muncul. Pemeriksaan medis dibutuhkan agar diagnosis bisa ditegakkan dan terapi yang sesuai dapat dimulai tanpa menunda waktu penting.

Masalah yang masih sering terjadi di Indonesia

Data dari studi One ACS Registry yang melibatkan 14 rumah sakit di Indonesia menunjukkan masih banyak pasien infark miokard akut datang terlambat untuk penanganan darurat. Pada periode Juli 2018 hingga Juni 2019, tercatat 34,8% pasien tidak menerima terapi reperfusi untuk membuka kembali pembuluh darah jantung yang tersumbat.

Studi yang sama juga mencatat hanya 21,8% pasien mendapat penanganan dalam waktu tiga jam sejak gejala muncul. Angka ini menunjukkan gejala awal sering tidak segera dikenali, sehingga peluang mendapat tindakan cepat ikut menurun.

Edukasi agar nyeri dada tidak disepelekan

Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama PERKI menggelar edukasi media di Jakarta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit kardiovaskular. Kegiatan ini menyoroti masih kuatnya anggapan bahwa nyeri dada, termasuk yang disebut angin duduk, hanyalah masuk angin biasa.

Menurut dr. Febtusia, nyeri yang tampak ringan bisa saja menandakan angina tidak stabil atau serangan jantung yang sedang berlangsung. Ia mengingatkan bahwa penanganan tradisional seperti kerokan tidak tepat jika gejala yang muncul mengarah ke gangguan jantung.

Kolesterol jahat juga perlu dikendalikan

Selain mengenali gejala, pengelolaan faktor risiko juga menjadi perhatian penting. dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menjelaskan bahwa kadar LDL-C atau kolesterol jahat perlu dikendalikan hingga di bawah 55 mg/dL untuk membantu mengurangi salah satu penyebab utama angina.

Ia menambahkan, pasien yang sulit mencapai target dengan statin tunggal atau memiliki kekhawatiran terhadap efek samping statin dosis tinggi dapat mempertimbangkan pendekatan dual-pathway. Terapi ini mengombinasikan statin dan ezetimibe untuk menghambat sintesis kolesterol di hati sekaligus menurunkan penyerapan kolesterol di usus.

Pesan utamanya tetap sama, yaitu jangan menunggu sampai nyeri dada menjadi lebih berat. Semakin cepat gejala dikenali dan ditangani, semakin besar peluang pasien memperoleh terapi yang tepat sebelum kondisi berkembang menjadi infark miokard akut.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru