Kwibohora 32 Menegaskan Pembebasan Rwanda Belum Usai, Generasi Muda Memikul Tugas

Peringatan Kwibohora 32 di Jakarta menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dari kelanjutan perjalanan Rwanda. Pembebasan dipandang bukan sebagai capaian yang berhenti di masa lalu, melainkan tanggung jawab untuk menjaga persatuan, kedaulatan, dan kemajuan bersama.

Duta Besar Rwanda untuk Indonesia Sheikh Abdul Karim Harelimana menyampaikan pesan tersebut dalam peringatan pada Jumat (17/7/2026). Ia menekankan bahwa hasil pembangunan harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Harelimana, pembebasan menuntut kerja lintas generasi untuk memperkuat negara dan membuka kesempatan bagi kaum muda. Ia juga meminta diaspora Rwanda, termasuk yang berada di Indonesia, menjunjung profesionalisme, integritas, kerja keras, dan komitmen terhadap keunggulan.

“Pembebasan bukanlah sebuah tujuan akhir yang telah selesai dicapai. Pembebasan merupakan komitmen berkelanjutan untuk menjaga persatuan, melindungi kedaulatan, memperkuat institusi, menciptakan kesempatan bagi generasi muda, serta memastikan setiap orang dapat turut merasakan kemajuan negara kita,” kata Harelimana.

Persatuan Menjadi Dasar Pembangunan

Dalam perjalanan selama 32 tahun, Rwanda memilih rekonsiliasi ketimbang pembalasan serta pembangunan institusi ketimbang ketidakstabilan. Arah tersebut menjadi fondasi bagi upaya membangun negara setelah masa kehancuran yang berat.

Harelimana menyebut tata kelola yang akuntabel, keamanan, kesetaraan gender, inovasi, dan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari perkembangan Rwanda. Perbaikan pelayanan kesehatan, perluasan akses pendidikan, serta pertumbuhan ekonomi juga menjadi bidang yang disorot.

Kemajuan tersebut dinilai tidak hanya bertumpu pada kepemimpinan, tetapi juga ketangguhan masyarakat dan kekuatan institusi. Masa depan negara, menurut Harelimana, ditentukan oleh pilihan bersama, bukan semata oleh luka sejarah.

Pesan Presiden Rwanda Paul Kagame pada Hari Pembebasan 4 Juli turut dikutip dalam acara itu. Pesan tersebut menegaskan bahwa perjalanan negara masih berlanjut dan setiap generasi berkewajiban menjaga hasil perjuangan para pendahulu.

Mengenang Korban Genosida 1994

Kwibohora merupakan istilah dalam bahasa Kinyarwanda yang berarti membebaskan. Hari Pembebasan Rwanda diperingati setiap 4 Juli untuk menandai berakhirnya Genosida 1994 terhadap Tutsi serta pembebasan negara dari masa penderitaan dan kehancuran.

Peringatan itu juga menjadi ruang penghormatan bagi lebih dari satu juta korban Genosida 1994 terhadap Tutsi. Tragedi yang berlangsung selama 100 hari tersebut disebut sebagai salah satu peristiwa paling buruk pada Abad ke-20.

Harelimana mengajak masyarakat menghormati para korban sekaligus berdiri bersama para penyintas. Ia menegaskan pentingnya komitmen agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di mana pun di dunia.

Ia juga memberikan penghormatan kepada anggota Tentara Patriotik Rwanda atau Inkotanyi. Kelompok tersebut disebut telah mengakhiri genosida, membebaskan negara, dan memulihkan harapan bagi jutaan warga.

Indonesia Melihat Ruang Kerja Sama

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Santo Darmosumarto menilai Kwibohora bukan hanya peringatan atas kebebasan yang telah diraih. Menurutnya, peringatan itu mencerminkan keberanian Rwanda untuk membangun kembali dengan arah yang jelas.

“Pembebasan bukanlah satu peristiwa tunggal dalam sejarah, melainkan perjalanan berkelanjutan yang dibentuk oleh ketangguhan, persatuan, dan tekad rakyat Rwanda untuk mengubah kepedihan menjadi kemajuan,” kata Santo. Ia menyampaikan penghormatan dan solidaritas rakyat serta Pemerintah Indonesia kepada rakyat Rwanda.

Santo menyatakan Indonesia dan Rwanda berkomitmen mempererat kerja sama politik dan keamanan, perdagangan dan investasi, pendidikan, serta pembangunan. Kemajuan menuju perjanjian perdagangan preferensial juga dinilai dapat membuka jalur baru bagi hubungan ekonomi kedua negara.

Hubungan Indonesia-Rwanda, menurut Santo, tidak hanya bertumpu pada perdagangan. Saling percaya, penghormatan, dan solidaritas dipandang sebagai dasar untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi muda kedua negara.

Source: www.liputan6.com
Berita Terkait