Laba Bank Mega Syariah Naik 51,67 Persen, Rasio Biaya Operasional Turun ke 76,90 Persen

Author: Redaksi Android62

Efisiensi menjadi kunci utama yang mengangkat kinerja PT Bank Mega Syariah pada kuartal I/2026. Di tengah tekanan biaya, bank syariah milik CT itu berhasil membukukan laba bersih tahun berjalan Rp62,37 miliar, naik 51,67% secara tahunan.

Perbaikan tersebut juga tercermin dari rasio BOPO yang turun menjadi 76,90% dari 85,08% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan beban operasional lebih terkendali dibandingkan pendapatan yang dihasilkan.

Laba operasional ikut menguat

Di level operasional, Bank Mega Syariah mencatat laba operasional Rp80,55 miliar. Angka ini melesat 56,58% dibandingkan Rp51,44 miliar pada kuartal I/2025.

Kenaikan itu memberi sinyal bahwa pertumbuhan pendapatan berjalan lebih cepat daripada tekanan biaya. Kondisi tersebut menjadi penopang penting bagi perbaikan laba bersih pada awal tahun.

Pendapatan setelah distribusi bagi hasil juga naik menjadi Rp191,59 miliar. Capaian itu tumbuh 20,37% year on year dari Rp159,18 miliar pada periode yang sama sebelumnya.

Pembiayaan dan dana pihak ketiga tetap tumbuh

Dari sisi intermediasi, total penyaluran pembiayaan Bank Mega Syariah tercatat lebih dari Rp9,26 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga yang dihimpun juga berada di atas Rp10 triliun.

Perseroan menjaga struktur pendanaan agar tetap efisien untuk menekan biaya dana. Strategi itu ikut mendorong kenaikan Net Imbalan atau NI menjadi 5,85% dari sebelumnya 4,04%.

Kombinasi pembiayaan yang tetap ekspansif dan dana murah yang terkelola memberi ruang bagi bank untuk menjaga margin. Di saat yang sama, manajemen tetap menaruh perhatian pada kualitas pertumbuhan agar ekspansi tidak mengganggu stabilitas.

Beban dan risiko masih dicermati

Meski kinerja membaik, beban operasional lainnya bersih masih naik 3,07% menjadi Rp111,04 miliar hingga Maret 2026. Pendorong utamanya berasal dari impairment yang melonjak menjadi Rp30,82 miliar, atau naik 287,12% dari Rp7,96 miliar.

Pada sisi non-operasional, perseroan membukukan rugi Rp590,00 juta. Pada kuartal I/2025, bank masih mencatat laba non-operasional Rp1,27 miliar.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa bank tetap harus menahan tekanan biaya dan menjaga kualitas aset. Karena itu, disiplin pengelolaan risiko menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan ke depan.

Modal masih solid

Di tengah dinamika tersebut, Kewajiban Penyediaan Modal Minimum atau KPMM Bank Mega Syariah tercatat 27,63%. Angka ini menandakan bantalan modal perseroan masih kuat untuk menghadapi risiko pembiayaan yang terus dipantau.

Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita mengatakan perseroan akan terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas aset, dan mengembangkan bisnis secara selektif serta berkelanjutan. Ia juga menyampaikan optimisme bahwa kinerja positif itu dapat terus terjaga hingga akhir tahun.

Source: finansial.bisnis.com
Berita Terbaru