Laba Bersih Jasa Marga Tembus Rp774,7 Miliar, Trafik Tol Tetap Jadi Mesin Utama

Author: Redaksi Android62

Raut pendapatan PT Jasa Marga (Persero) Tbk pada kuartal I 2026 terlihat dari bisnis inti jalan tol yang masih menjadi tumpuan utama. Dari total pendapatan usaha Rp5,1 triliun, kontribusi terbesar datang dari pendapatan tol yang mencapai Rp4,7 triliun, sementara pendapatan usaha lain menambah Rp397,6 miliar.

Pencapaian itu muncul ketika trafik di jaringan tol perseroan terus bergerak naik. Dalam tiga bulan pertama, total transaksi jalan tol tercatat 318,8 juta kendaraan, atau tumbuh 1,64% secara tahunan, dan kondisi tersebut ikut menjaga utilisasi ruas-ruas kelolaan Jasa Marga tetap tinggi.

Trafik menjadi penopang utama

Kenaikan transaksi di sejumlah ruas tol memberi dorongan langsung terhadap kinerja usaha. Bagi emiten infrastruktur jalan berbayar, arus kendaraan memang menjadi faktor paling penting karena berdampak pada pendapatan inti yang berasal dari tarif tol.

Komposisi pendapatan Jasa Marga juga memperlihatkan bahwa bisnis jalan tol masih mendominasi struktur usaha perusahaan. Meski pendapatan non-tol belum sebesar kontribusi utama, keberadaannya tetap membantu menjaga stabilitas kinerja ketika trafik menjadi variabel yang paling menentukan.

Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono menyampaikan bahwa EBITDA perseroan mencapai Rp3,4 triliun dengan margin 66,1%. Ia menilai capaian itu lahir dari pengendalian beban usaha dan pengelolaan operasional yang disiplin.

Rivan juga menegaskan bahwa perseroan tetap mencatat laba bersih Rp774,7 miliar meski biaya keuangan meningkat akibat pengoperasian Jalan Tol Jogja-Solo. Ia menyebut capaian tersebut mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menekan beban dan mengoptimalkan kinerja operasional.

Ekspansi jaringan tetap berjalan

Di tengah fokus menjaga kinerja harian, Jasa Marga masih menempatkan ekspansi sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang. Perseroan memandang penambahan ruas baru sebagai bekal pertumbuhan bisnis di masa depan, terutama karena pembangunan jalan tol membutuhkan modal yang besar.

Saat ini Jasa Marga menguasai 42% pangsa pasar industri jalan tol di Indonesia dengan total jalan beroperasi sepanjang 1.294 KM. Perseroan juga terus mempercepat pengerjaan konstruksi di beberapa titik strategis, termasuk Tol Probolinggo-Banyuwangi dan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan.

Langkah itu menunjukkan bahwa pertumbuhan Jasa Marga tidak hanya bertumpu pada trafik ruas eksisting. Perusahaan juga mengarahkan perhatian pada penguatan jaringan agar basis pendapatan bisa bertahan dalam jangka panjang.

Pendanaan proyek besar ikut disiapkan

Untuk menopang pengembangan jaringan, Jasa Marga menyiapkan pendanaan pada proyek-proyek yang lebih besar. Melalui PT Jasamarga Jogja Bawen, perseroan menyepakati kredit sindikasi Rp17,92 triliun guna mendanai Tol Yogyakarta-Bawen.

Nilai total investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp25,61 triliun. Skema pembiayaan ini memperlihatkan bahwa pengembangan jalan tol masih menjadi fokus utama perusahaan dalam beberapa tahap ke depan.

Di saat bersamaan, Jasa Marga juga menekankan bahwa pembangunan tidak hanya berhenti pada infrastruktur fisik. Perseroan mendorong transformasi dari infra as structure menjadi infra as culture dengan menempatkan pengalaman pengguna jalan tol sebagai pusat layanan, sambil menjaga aspek aman, nyaman, dan berkeselamatan.

Mobilitas Lebaran memberi gambaran utilisasi

Tingginya pemanfaatan jaringan tol juga terlihat pada periode Lebaran 2026. Jasa Marga mencatat 6,9 juta kendaraan menggunakan layanan perseroan, yang menunjukkan peran tol sebagai pilihan utama saat mobilitas masyarakat meningkat.

Perseroan turut mendukung program Mudik Gratis BUMN dengan memberangkatkan 1.500 peserta menggunakan 30 bus ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Aktivitas tersebut melengkapi gambaran bahwa kinerja Jasa Marga masih bertumpu pada trafik, efisiensi operasional, dan perluasan jaringan tol nasional.

Berita Terbaru