Laba Exxon Dan Chevron Tertekan Konflik Timur Tengah, Selat Hormuz Jadi Titik Paling Rawan

Author: Redaksi Android62

Selat Hormuz kembali menjadi titik paling rawan dalam pasar energi ketika konflik Amerika Serikat dan Iran memukul langsung arus minyak dunia. Gangguan di jalur sempit itu tidak hanya mengangkat harga minyak, tetapi juga ikut menekan kinerja dua raksasa energi Amerika, Exxon Mobil dan Chevron.

Dampaknya terasa pada kuartal I-2026 saat keduanya melaporkan penurunan laba bersih yang cukup tajam. Exxon dan Chevron sama-sama menghadapi tekanan dari biaya, pengiriman, dan terganggunya alur pasokan ke pelanggan global.

Exxon masih di atas perkiraan pasar

Exxon Mobil membukukan laba sebesar US$ 85,14 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Nilai itu memang turun 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi hasilnya masih lebih baik dari ekspektasi Wall Street.

Sebelumnya, pasar memperkirakan laba Exxon berada di level US$ 82,18 miliar. Selisih ini menunjukkan bahwa tekanan perang tidak sepenuhnya menjatuhkan hasil perusahaan, meski penurunannya tetap besar.

CEO Exxon Mobil Darren Woods mengatakan konflik bersenjata tersebut menekan 15 persen total produksi perusahaan. Ia juga menyebut alur pengiriman minyak ke pelanggan global ikut terganggu akibat situasi di kawasan itu.

Exxon bahkan mengalihkan sekitar 13 juta barel ke pasar yang paling membutuhkan selama perang. Namun, langkah itu memberi dampak negatif secara akuntansi terhadap pendapatan perusahaan pada kuartal I.

Chevron ikut terpukul, tetapi tekanannya lebih ringan

Chevron juga mencatat penurunan laba bersih menjadi US$ 48,61 miliar. Hasil itu turun 36 persen dibandingkan kuartal I-2025 dan belum mencapai target pasar sebesar US$ 52,1 miliar.

CEO Chevron Mike Wirth menilai dampak konflik terhadap perusahaannya relatif lebih kecil dibandingkan pemain lain di industri yang sama. Ia menegaskan bahwa paparan risiko Chevron di Timur Tengah tidak sebesar kompetitor.

Alasannya, skala operasi Chevron di Arab Saudi, Kuwait, dan Israel memang lebih kecil. Sebaliknya, aset perusahaan lebih banyak berada di Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.

Selat Hormuz belum cepat pulih

Meskipun Selat Hormuz sudah dibuka kembali, aliran minyak tidak langsung normal. Pemulihan arus minyak diperkirakan membutuhkan waktu hingga dua bulan, sedangkan pengiriman ke konsumen dari kawasan konflik bisa memakan waktu sekitar satu bulan.

Kondisi ini membuat pasar energi tetap berada dalam tekanan. Gangguan di Timur Tengah bukan hanya memengaruhi volume minyak yang bergerak, tetapi juga memukul logistik dan rantai pasok global.

Bagi perusahaan seperti Exxon dan Chevron, risiko dari konflik semacam ini melampaui urusan produksi. Biaya tambahan, waktu pengiriman yang lebih panjang, dan tekanan pada laporan keuangan kuartalan ikut menjadi bagian dari dampak yang harus mereka hadapi.

Berita Terbaru