Fore Kopi menutup kuartal I-2026 dengan laba periode berjalan sebesar Rp 9,43 miliar. Hasil ini naik dari Rp 5,87 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi sinyal bahwa ekspansi jaringan gerai mulai memberi dampak yang lebih terasa pada kinerja perseroan.
Peningkatan laba tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan penjualan yang cukup kuat. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, pendapatan neto Fore Kopi mencapai Rp 444,46 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp 291,69 miliar pada kuartal I-2025.
Ekspansi Gerai Dorong Kinerja
Perbaikan pendapatan tidak lepas dari perluasan jaringan usaha yang terus dilakukan perusahaan sejak tahun lalu. Hingga akhir kuartal pertama, Fore Kopi mengoperasikan 335 kedai kopi di seluruh Indonesia, bertambah 19 gerai dari posisi akhir 2025 yang berjumlah 316 gerai.
Langkah ekspansi itu menunjukkan skala bisnis perusahaan terus membesar dalam waktu relatif singkat. Di luar pasar domestik, Fore Kopi juga memiliki empat gerai di Singapura, sehingga jangkauan usahanya tidak hanya bertumpu pada Indonesia.
Selain kopi, perusahaan juga mengembangkan bisnis donat. Hingga saat ini, lini usaha tersebut sudah memiliki tujuh gerai dan menjadi bagian dari strategi diversifikasi setelah IPO pada April 2025.
Laba Bruto Naik, Beban Operasional Juga Bertambah
Kenaikan penjualan ikut mengangkat laba bruto Fore Kopi menjadi Rp 273,67 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba bruto perseroan masih berada di level Rp 181,04 miliar.
Meski beban operasional ikut naik menjadi Rp 257,41 miliar, kinerja perusahaan tetap bertahan di zona positif. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan penjualan masih mampu mengimbangi tekanan biaya yang muncul bersamaan dengan ekspansi.
Pada level operasional, Fore Kopi membukukan laba operasional Rp 16,26 miliar. Setelah itu, laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp 15,18 miliar, yang menandakan aktivitas usaha masih berjalan relatif sehat di tengah perluasan bisnis.
Laba Bersih dan Laba Komprehensif Tetap Menguat
Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan neto sebesar Rp 5,75 miliar, laba bersih perseroan tercatat Rp 9,43 miliar. Angka ini menegaskan bahwa pertumbuhan skala usaha belum sepenuhnya tergerus oleh kenaikan biaya.
Fore Kopi juga membukukan penghasilan komprehensif lain dari selisih kurs. Dengan tambahan itu, laba komprehensif naik menjadi Rp 9,55 miliar, lebih tinggi dari laba bersih yang dilaporkan.
Kondisi Neraca Masih Stabil
Dari sisi neraca, total aset Fore Kopi per 31 Maret 2026 tercatat stabil di Rp 1,16 triliun. Posisi tersebut terdiri atas aset lancar sebesar Rp 424,54 miliar dan aset tidak lancar Rp 739,71 miliar.
Struktur ekuitas juga menunjukkan perbaikan karena akumulasi rugi menyusut menjadi Rp 168,37 miliar. Posisi itu lebih baik dibandingkan akhir tahun lalu, saat akumulasi rugi masih berada di Rp 177,80 miliar.
Meski demikian, kas dan bank perusahaan turun menjadi Rp 253,80 miliar dari Rp 327,53 miliar pada Desember 2025. Penurunan ini terjadi karena dana dialokasikan untuk aktivitas investasi serta pembayaran kewajiban keuangan, sejalan dengan langkah ekspansi yang dijalankan perseroan.







