Kinerja Kimia Farma mulai menunjukkan arah pulih setelah perusahaan membukukan laba bersih Rp 123,6 miliar pada kuartal I 2026. Hasil itu menjadi pembalikan besar dari rugi bersih Rp 126,4 miliar pada periode yang sama tahun lalu, sekaligus mengangkat kinerja perseroan sebesar 197,79 persen dibandingkan kuartal I 2025.
Perbaikan itu tidak berdiri sendiri. Laba kotor Kimia Farma ikut naik 11,06 persen menjadi Rp 824,8 miliar, sementara EBITDA melonjak 61,29 persen menjadi Rp 153,8 miliar. Kenaikan di beberapa pos ini memberi gambaran bahwa perbaikan mulai terasa di sisi operasional, bukan hanya pada garis laba akhir.
Dorongan terbesar datang dari efisiensi beban pokok penjualan melalui transformasi rantai pasok. Langkah itu membantu memperkuat hasil usaha di tengah upaya perusahaan membenahi struktur bisnisnya secara lebih menyeluruh.
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menilai capaian tersebut bukan sekadar angka di laporan keuangan. Ia menyebut langkah transformatif yang dijalankan perusahaan mulai memperlihatkan hasil nyata pada kinerja perseroan.
Di sisi internal, manajemen juga menegaskan komitmen untuk menjaga arah perbaikan ini tetap konsisten. Pemulihan reputasi Kimia Farma di industri kesehatan nasional menjadi salah satu target yang ingin dikejar melalui pembenahan yang berlangsung saat ini.
Restrukturisasi keuangan menjadi salah satu fondasi utama dalam proses tersebut. Perseroan juga melakukan perampingan model bisnis, disertai penataan struktur organisasi dan sumber daya manusia dengan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Dukungan dari pemegang saham ikut memberi ruang bagi proses pemulihan. Sinergi Danantara Asset Management dan Bio Farma melalui Bio Farma membantu menopang pendanaan strategis serta menjaga likuiditas perusahaan.
Sokongan itu juga mempercepat optimalisasi beban bunga lewat restrukturisasi utang. Dengan ruang likuiditas yang lebih terjaga, Kimia Farma mendapat peluang lebih besar untuk menata ulang beban keuangannya pada awal tahun ini.
Meski begitu, tekanan dari luar perusahaan belum hilang sepenuhnya. Kimia Farma masih mengantisipasi kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan rupiah dan ketidakpastian geopolitik global.
Risiko tersebut paling terasa pada margin produk obat program pemerintah yang memiliki struktur harga kaku. Dalam situasi seperti itu, kenaikan biaya bahan baku dapat lebih cepat menekan profitabilitas perusahaan.
Untuk meredam tekanan itu, Kimia Farma memusatkan strategi pada enam pilar fundamental. Fokusnya meliputi ketahanan modal kerja, digitalisasi proses bisnis, dan penggunaan bahan baku lokal secara bertahap.
Perusahaan juga mengatur waktu pembelian bahan baku dan melakukan diversifikasi pemasok. Kedua langkah itu dipakai untuk memitigasi risiko nilai tukar sekaligus menjaga stabilitas operasional di tengah tekanan biaya yang masih membayangi.
