Di tengah tekanan laba, MUFG Indonesia justru menutup 2025 dengan kredit yang lebih kuat dan kualitas aset yang makin bersih. Bank ini membukukan penyaluran kredit Rp118,23 triliun, tumbuh 10,97% secara tahunan dari Rp106,46 triliun pada 2024, sementara kredit bermasalah gross dan net sama-sama turun menjadi 0%.
Perbaikan itu menjadi penting karena MUFG Indonesia sedang bersiap memasuki fase integrasi operasional dengan Danamon. Hingga target efektif pada 2027 tercapai, kedua bank disebut tetap menjalankan operasional normal tanpa perubahan layanan bagi nasabah.
Kredit naik, aset bermasalah hilang
Lonjakan kredit menunjukkan fungsi intermediasi MUFG Indonesia masih bergerak kuat di tengah transisi bisnis. Di sisi kualitas pembiayaan, rasio non-performing loan gross turun dari 0,20% menjadi 0%, sedangkan NPL net menyusut dari 0,12% menjadi 0%.
Perbaikan serupa juga terlihat pada aset produktif. Rasio aset produktif bermasalah terhadap total aset produktif turun menjadi 0%, sementara rasio cadangan kerugian penurunan nilai atau CKPN terhadap aset produktif menurun ke 0,08% dari 0,15%.
Meski penyaluran kredit tumbuh, total aset MUFG Indonesia justru sedikit terkoreksi. Per akhir 2025, aset bank ini tercatat Rp200,88 triliun, turun tipis 0,38% dari Rp201,64 triliun pada akhir 2024.
Laba tertekan oleh pendapatan bunga
Kinerja keuntungan belum sekuat pertumbuhan kredit. Laba bersih MUFG Indonesia pada Desember 2025 turun 8,95% secara tahunan menjadi Rp6,31 triliun dari Rp6,93 triliun pada 2024.
Tekanan itu sejalan dengan melemahnya pendapatan bunga yang turun 9,37% menjadi Rp10,27 triliun. Net interest income atau NII juga merosot 7,87% menjadi Rp9,43 triliun dari Rp10,23 triliun.
Dari aktivitas valuta asing, hasilnya bergerak campuran. Keuntungan transaksi spot dan derivatif atau forward anjlok menjadi Rp90,34 miliar dari Rp848,62 miliar, tetapi keuntungan penjabaran transaksi valuta asing naik menjadi Rp1,26 triliun dari Rp667,10 miliar.
Profitabilitas melonggar, biaya masih tinggi
Tekanan laba juga tercermin dari rasio profitabilitas yang melemah. Return on asset turun menjadi 4,41% dari 4,94%, sedangkan return on equity menurun menjadi 4,56% dari 5,28%.
Margin bunga bersih ikut menyempit ke 5,57% dari 6,59%. Di saat yang sama, beban operasional masih berat dengan BOPO naik ke 95,28% dari 95,05% dan cost to income ratio meningkat ke 95,12% dari 94,85%.
Dana pihak ketiga dan modal tetap menopang
Di sisi pendanaan, giro naik 2,89% menjadi Rp35,91 triliun. Namun, deposito turun 7,95% menjadi Rp16,07 triliun.
Loan to deposit ratio MUFG Indonesia naik cukup tajam ke 185,18% dari 153,99%. Angka itu menunjukkan penyaluran kredit jauh lebih besar dibanding dana yang berhasil dihimpun dari nasabah.
Untuk permodalan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum atau KPMM turun menjadi 74,12% dari 82,98%. Meski turun, posisinya masih sangat jauh di atas ketentuan minimum regulator sebesar 9%.
Arah integrasi dengan Danamon
Di balik angka-angka itu, integrasi MUFG Indonesia dan Danamon menjadi agenda besar yang terus diperhatikan pasar. Keduanya memiliki basis aset besar, dengan Danamon mencatat total aset konsolidasian Rp275,7 triliun per akhir 2025 dan MUFG Indonesia berada di kisaran Rp207 triliun.
MUFG Indonesia dikenal sebagai salah satu bank asing terbesar di Indonesia dengan fokus pada perusahaan Jepang, korporasi nasional, dan multinasional. Sementara itu, Danamon punya jaringan domestik yang lebih luas di segmen ritel dan pembiayaan lokal.
Kedua entitas sebelumnya menyebut integrasi operasional ini ditujukan untuk menggabungkan jaringan domestik dan global. Target akhirnya adalah membentuk salah satu institusi finansial terbesar di Indonesia dan memperluas layanan untuk nasabah korporasi, usaha kecil dan menengah, hingga ritel.
Source: finansial.bisnis.com






