Samsung Electronics justru terkena aksi jual setelah memproyeksikan laba operasional kuartal kedua melonjak 19 kali lipat menjadi 89,4 triliun won atau sekitar $58,4 miliar. Saham perusahaan turun lebih dari 6% pada perdagangan awal, meski kinerja itu diperkirakan menjadi rekor kuartalan ketiga berturut-turut.
Respons pasar menunjukkan bahwa lonjakan laba besar tidak otomatis mengubah sentimen investor. Saham Samsung sebelumnya sudah melesat sekitar lima kali lipat dalam setahun terakhir, sehingga sebagian pelaku pasar memilih mengamankan keuntungan saat kabar kinerja kuat muncul.
Dorongan AI Mengangkat Bisnis Memori
Proyeksi laba Samsung melampaui LSEG SmartEstimate di level 87,3 triliun won dan juga melampaui konsensus FnGuide sebesar 84,4 triliun won, menurut Reuters. Perusahaan juga memperkirakan pendapatan naik 129% secara tahunan menjadi 171 triliun won.
Meski begitu, proyeksi pendapatan tersebut masih di bawah perkiraan analis sebesar 173,3 triliun won, menurut Korea JoongAng Daily. Celah itu memperlihatkan bahwa pasar belum sepenuhnya yakin seluruh kekuatan bisnis Samsung akan berlanjut tanpa batas dalam jangka pendek.
Permintaan terkait AI menjadi pendorong utama, terutama di bisnis memori. Citi Research mencatat harga DRAM naik 44% secara kuartalan, sementara harga NAND flash naik 53% pada periode yang sama.
| Komponen | Pergerakan Harga | Konteks |
|---|---|---|
| DRAM | Naik 44% kuartalan | Didorong belanja AI yang meluas |
| NAND flash | Naik 53% kuartalan | Dipengaruhi permintaan chip konvensional |
Kenaikan itu dikaitkan dengan belanja AI yang tidak hanya menyentuh high-bandwidth memory, tetapi juga chip konvensional untuk ponsel, PC, dan server. Lonjakan produksi HBM ikut menekan pasokan chip memori standar, sehingga harga tetap tinggi dan pelanggan mulai mencari kontrak pasokan jangka panjang.
Kenapa Pasar Tetap Menekan Saham
Selain profit-taking setelah reli panjang, tekanan juga datang dari struktur biaya. Samsung telah menyepakati perjanjian upah dengan pekerja pada Mei, dan bonus karyawan semikonduktor dikaitkan dengan laba operasional.
Akibatnya, perusahaan harus menyisihkan dana untuk bonus pada kuartal ini. Tanpa cadangan tersebut, para analis memperkirakan laba operasional Samsung seharusnya bisa menembus 100 triliun won.
Namun, pengakuan biaya itu tetap mengurangi euforia pasar terhadap angka laba yang sangat besar. Investor tampaknya menilai bahwa keuntungan besar belum tentu langsung diterjemahkan menjadi ruang kenaikan saham baru setelah reli yang sudah terlanjur tinggi.
Risiko yang Masih Mengiringi Reli Chip
Para analis juga memperkirakan kerugian di unit foundry dan logic chip Samsung akan melebar, karena biaya bonus dibebankan ke seluruh divisi semikonduktor. Dengan begitu, dampak positif dari ledakan bisnis memori tidak sepenuhnya menyebar ke seluruh lini chip perusahaan.
Situasi ini sejalan dengan sentimen sektor chip yang sedang terpecah tajam. Kekhawatiran kelebihan pasokan memori menekan sejumlah pemasok dalam beberapa pekan terakhir, sementara saham lain seperti Micron justru naik berkat dorongan AI.
Perbedaan arah itu ikut memunculkan peringatan baru soal kemungkinan gelembung AI. Sejumlah investor mulai berhati-hati menilai seberapa jauh reli saham semikonduktor masih bisa bertahan, terutama jika belanja pusat data AI melambat.
Samsung dijadwalkan merilis rincian divisi secara penuh pada 30 Juli. Perusahaan juga telah berjanji menginvestasikan 2.100 triliun won untuk investasi domestik hingga 2040, meski belanja tersebut akan disesuaikan dengan kondisi pasar.
