Laba bersih PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO akhirnya berbalik positif dan mencapai Rp171 miliar pada kuartal I 2026. Capaian ini menjadi sorotan karena pada periode yang sama sebelumnya perusahaan masih mencatat rugi Rp367 miliar, sehingga perbaikan kinerja terlihat cukup tajam.
Perubahan arah ini juga terlihat dari arus kas operasional yang makin kuat. Hingga akhir Maret 2026, kas dari aktivitas operasi GOTO mencapai Rp1,1 triliun, naik 3,5 kali lipat dibandingkan Rp301 miliar pada periode yang sama sebelumnya.
Efisiensi mulai terasa di laporan keuangan
Perbaikan laba GOTO tidak datang sendiri, melainkan sejalan dengan pengendalian biaya yang lebih rapi. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, beban dan biaya perusahaan naik sekitar 11 persen secara tahunan, lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pendapatan.
Kondisi itu membantu perusahaan menjaga ruang laba di tengah proses pemulihan bisnis. Total beban dan biaya GOTO pada kuartal I 2026 tercatat Rp4,9 triliun, dengan porsi terbesar berasal dari beban pokok pendapatan serta beban umum dan administrasi.
Dua komponen tersebut menyumbang 66 persen dari total pengeluaran, atau setara Rp3,2 triliun. Struktur biaya yang lebih terkendali membuat efisiensi mulai memberi hasil yang nyata di tingkat laba.
Pendapatan tumbuh lebih cepat daripada biaya
Di sisi pendapatan, GOTO membukukan pendapatan bersih Rp5,3 triliun per Maret 2026. Angka itu tumbuh 26 persen dibandingkan Maret 2025 yang berada di level Rp4,2 triliun, berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia dan dilansir Bloombergtechnoz.
Kenaikan tersebut ditopang oleh beberapa sumber pendapatan sekaligus. Kontributor utamanya berasal dari e-commerce, jasa pengiriman, imbalan iklan, dan pendapatan jasa lainnya, sehingga pertumbuhan tidak bergantung pada satu lini bisnis saja.
Saat pendapatan melaju lebih cepat daripada biaya, hasil akhirnya langsung tercermin pada laba. Pola ini menunjukkan bahwa perbaikan bisnis GOTO mulai bergerak dari pertumbuhan top line menuju perbaikan hasil akhir.
Laba usaha turut berbalik positif
Selain laba bersih, GOTO juga mencatat laba usaha sebesar Rp418 miliar pada kuartal I 2026. Hasil ini menjadi pembalikan penting karena pada kuartal I 2025 perseroan masih membukukan rugi usaha Rp193 miliar.
Perubahan tersebut menandakan bahwa kenaikan pendapatan tidak hanya berhenti di tingkat penjualan. Efisiensi operasional ikut masuk ke laporan laba rugi dan memperbaiki kualitas kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Pencapaian laba usaha yang positif juga memperkuat sinyal bahwa strategi pengetatan biaya mulai bekerja. Dengan operasi yang lebih efisien, perusahaan memiliki ruang yang lebih besar untuk membangun profitabilitas yang berkelanjutan.
Posisi aset dan struktur neraca tetap solid
Di tengah perubahan kinerja itu, ukuran neraca GOTO masih tergolong besar. Per 31 Maret 2026, total aset perusahaan berada di level Rp46,8 triliun.
Dari sisi struktur permodalan, liabilitas perusahaan tercatat Rp18,0 triliun sementara ekuitas mencapai Rp28,8 triliun. Komposisi ini menunjukkan posisi keuangan GOTO tetap solid saat perusahaan mulai menunjukkan laba bersih perdana.
Momentum kuartal I 2026 menjadi penanda penting bagi perseroan setelah sebelumnya masih berada di bawah tekanan rugi operasional dan biaya yang besar. Dengan pendapatan yang naik, arus kas yang menguat, dan laba usaha yang kembali positif, upaya efisiensi GOTO kini mulai terlihat hasilnya dalam laporan keuangan.







