Lamongan menyiapkan diri menghadapi kemarau dengan menempatkan penguatan irigasi, waduk, dan pompa air sebagai tumpuan utama. Langkah ini diarahkan untuk menjaga lahan pertanian tetap mendapat pasokan air sekaligus memastikan kebutuhan warga tidak terganggu saat sumber air mulai menyusut.
Fokus tersebut muncul karena Lamongan memiliki peran besar sebagai lumbung pangan nasional. Karena itu, persoalan air tidak dipandang sebagai urusan teknis semata, melainkan bagian penting dari upaya menjaga produksi pangan tetap stabil ketika musim kering berlangsung lebih panjang.
Penguatan jaringan air jadi prioritas
Pemerintah Kabupaten Lamongan memilih memperkuat jaringan irigasi sebagai langkah awal menghadapi ancaman kekeringan. Distribusi air ke lahan pertanian dipersiapkan agar tetap berjalan meski pasokan dari sumber utama mengalami penurunan.
Selain jaringan irigasi, sarana pendukung pengairan juga disiapkan untuk menutup kemungkinan terganggunya aliran air. Pompa air dan waduk masuk dalam strategi yang disiapkan pemerintah daerah agar petani tetap memiliki sumber air andalan saat kemarau datang.
Yuhronur Efendi atau Pak Yes menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dimulai lebih awal. Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan daerah yang sangat bergantung pada keberlanjutan pasokan air untuk sawah dan lahan pertanian lainnya.
Normalisasi sungai dan waduk ikut dipacu
Lamongan juga menempatkan normalisasi sungai dalam agenda antisipasi kekeringan. Aliran air yang lebih lancar dinilai membantu menjaga kapasitas tampungan tetap optimal ketika curah hujan menurun dan kebutuhan air mulai menekan cadangan yang ada.
Waduk pun mendapat perhatian serupa karena menjadi bagian penting dari penyimpanan dan penopang air di wilayah setempat. Dengan pembenahan yang dijalankan lebih awal, pemanfaatan air diharapkan bisa lebih efektif untuk kebutuhan pertanian maupun masyarakat.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi kemarau tidak digantungkan pada satu sumber air saja. Pemerintah daerah memadukan irigasi, waduk, pompa air, dan pembenahan sungai agar risiko gangguan distribusi air dapat ditekan.
Koordinasi lintas sektor diperkuat
Upaya menghadapi kemarau tidak hanya bergerak di tingkat daerah. Bupati Lamongan Yuhronur Efendi juga mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Antisipasi dan Mitigasi Kemarau bersama Kementerian Pertanian di Jakarta Selatan, Senin (21/4), sebagai bagian dari penguatan langkah menghadapi potensi kekeringan pada 2026.
Keterlibatan itu memperlihatkan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam penanganan air. Pemerintah daerah menilai kerja bersama antarinstansi dibutuhkan agar distribusi sarana pengairan dan pengelolaan sumber daya bisa berlangsung lebih cepat dan tidak terputus.
Koordinasi juga menjadi penting karena dampak kemarau tidak hanya dirasakan sektor pertanian. Kebutuhan air masyarakat tetap harus dijaga, terutama saat pasokan mulai menurun dan tekanan terhadap sumber daya air meningkat.
Dukungan kebijakan nasional ikut menopang
Langkah Lamongan berjalan seiring dengan kebijakan nasional yang menyiapkan distribusi pompa air untuk mendukung pengairan hingga 1 juta hektare lahan pertanian. Program tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah pusat dalam menjaga ketahanan pangan saat musim kemarau.
Kebijakan itu memberi ruang bagi daerah penghasil pangan untuk memperkuat kesiapsiagaan sejak dini. Dalam konteks Lamongan, dukungan pusat dan daerah dipandang saling melengkapi agar upaya antisipasi tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dengan posisi sebagai lumbung pangan, Lamongan perlu menjaga agar produksi pertanian tidak tersendat ketika kemarau datang. Karena itu, pembenahan irigasi, penguatan waduk, pemakaian pompa air, dan normalisasi sungai terus disiapkan sebagai satu rangkaian langkah untuk menjaga pasokan air tetap aman.
Source: mediaindonesia.com






