Laut Bercahaya Hampir Seluas Islandia Tertangkap Satelit, Penyebabnya Belum Jelas

Author: Redaksi Android62

Sebuah hamparan laut bercahaya yang luasnya hampir setara Islandia terdeteksi satelit pada 2019. Fenomena itu berlangsung lebih dari 40 malam, tetapi alasan cahaya tersebut muncul merata di permukaan laut masih belum terjawab.

Peristiwa langka ini dikenal sebagai laut susu atau milky seas. Cahayanya cukup redup bagi mata manusia, namun dapat direkam sensor satelit saat malam hari.

12 Kejadian Terdeteksi dalam Satu Dekade

Tim yang dipimpin profesor atmosfer Colorado State University, Steven Miller, menemukan 12 kejadian laut susu dari analisis data satelit sepanjang 2012 hingga 2021. Temuan itu memperluas bukti ilmiah atas fenomena yang telah diceritakan pelaut selama lebih dari 400 tahun.

Catatan Pengamatan Periode Temuan
Analisis data satelit 2012-2021 12 kejadian laut susu teridentifikasi
Kejadian berskala besar 2019 Hampir seluas Islandia dan berlangsung lebih dari 40 malam

Pemantauan tersebut dimungkinkan oleh Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS pada satelit NOAA dan NASA. Instrumen ini mampu mengenali cahaya redup di atas permukaan laut pada malam hari.

Laut susu berbeda dengan kilau biru yang kerap terlihat ketika ombak pecah di pesisir. Fenomena ini muncul jauh di laut lepas dan menyelimuti area yang dapat mencapai puluhan ribu kilometer persegi.

Bakteri Bercahaya Belum Menjawab Seluruh Misteri

Petunjuk penting mengenai sumber cahaya diperoleh ketika kapal riset memasuki kawasan laut susu di Laut Arab pada 1985. Peneliti saat itu menemukan populasi besar bakteri bercahaya Vibrio harveyi di dalam air.

Bakteri tersebut diketahui dapat menghasilkan cahaya melalui bioluminesensi. Namun, ilmuwan belum memahami mekanisme yang membuat bakteri itu terkumpul dalam jumlah sangat besar dan menyebarkan cahaya secara seragam.

Kesaksian pelaut menggambarkan pemandangan itu seperti permukaan bersalju tanpa batas atau air raksa yang memantulkan cahaya. Selama berabad-abad, kelangkaan kejadian membuat laporan semacam itu sulit dibuktikan secara ilmiah.

Petunjuk Kondisi Ekosistem Laut

Justin Hudson, mahasiswa doktoral Colorado State University dan salah satu penulis studi terbaru, menyebut laut susu dapat mengandung informasi mengenai kondisi ekosistem. “Milky seas bisa menjadi tanda ekosistem yang sangat sehat. Bisa juga justru menunjukkan ekosistem yang tidak sehat. Sampai sekarang kami belum mengetahuinya,” ujarnya.

Kemampuan memperkirakan lokasi dan waktu kemunculannya dapat membantu penelitian tentang peran fenomena itu dalam sistem Bumi. Laporan inet.detik.com menyebut sebagian besar catatan historis laut susu berasal dari Laut Arab dan Asia Tenggara.

Para peneliti juga menduga kemunculan laut susu berkaitan dengan sistem iklim besar, termasuk Indian Ocean Dipole dan El Niño Southern Oscillation atau ENSO. Dugaan tersebut masih memerlukan pengujian melalui pengamatan lanjutan.

Pola iklim dapat memengaruhi kondisi permukaan laut serta pertumbuhan organisme mikroskopis. Meski demikian, data yang tersedia belum cukup untuk memastikan perubahan iklim regional sebagai pemicu langsung fenomena ini.

Dalam pernyataan NASA, Steven Miller menilai kajian bakteri bercahaya dapat memberi pelajaran tentang kehidupan sederhana dan peran bioluminesensi pada bentuk kehidupan awal. Pengetahuan itu juga berpotensi berguna dalam pencarian tanda biologis kehidupan dari jarak jauh.

Berita Terbaru