Hampir 8 Miliar Perangkat Akan Terhubung Seluler, 2G dan 3G Mulai Tersisih

Author: Redaksi Android62

Jaringan seluler diproyeksikan menampung 7,8 miliar koneksi Internet of Things pada akhir 2031. Angka ini naik tajam dari sekitar 4,5 miliar koneksi pada akhir 2025 dan menunjukkan pergeseran kebutuhan konektivitas perangkat dalam skala besar.

Pertumbuhan tersebut berlangsung ketika operator terus mengurangi peran jaringan 2G dan 3G. Spektrum yang sebelumnya dipakai teknologi lama dialihkan untuk memperluas kapasitas 4G dan 5G, termasuk bagi perangkat terhubung.

Penghentian Jaringan Lama Makin Meluas

Ericsson mencatat 80 penyedia layanan telah menyelesaikan penghentian jaringan 3G hingga akhir 2025. Pada periode yang sama, 46 penyedia layanan juga telah mematikan seluruh layanan 2G.

Penataan ulang spektrum menjadi alasan utama penghentian jaringan generasi lama tersebut. Operator dapat memakai frekuensi yang tersedia secara lebih efisien untuk layanan dengan kapasitas lebih besar.

Perubahan ini penting bagi pertumbuhan IoT Seluler yang membutuhkan jaringan luas dan andal. Kebutuhan itu hadir di sektor industri, transportasi, utilitas, layanan publik, hingga perangkat konsumen.

4G dan 5G Menopang Koneksi yang Lebih Menuntut

Dalam Ericsson Mobility Report edisi Juni 2026, Broadband IoT dan Critical IoT diperkirakan menjadi penyumbang utama koneksi seluler pada akhir periode proyeksi. Kedua segmen tersebut mengandalkan 4G dan 5G untuk kebutuhan data yang lebih besar, respons cepat, serta keandalan tinggi.

Pada akhir 2025, koneksi Broadband dan Critical IoT berbasis 4G/5G diperkirakan mencapai sekitar 2,6 miliar. Penggunaannya mencakup otomasi industri, kendaraan terkoneksi, dan layanan digital yang memanfaatkan video.

Jenis Koneksi 2025 2031 Pertumbuhan Tahunan
Wide-area IoT 4,9 miliar 8,3 miliar 9%
IoT berbasis jaringan seluler 4,5 miliar 7,8 miliar 10%
Short-range IoT 17,5 miliar 38,8 miliar 14%
Total koneksi IoT dunia 22,3 miliar 47,1 miliar 13%

Data tersebut menunjukkan jaringan seluler bukan satu-satunya pendorong pertumbuhan Internet of Things dunia. Short-range IoT justru diproyeksikan tumbuh paling cepat, meski koneksi seluler tetap memiliki peran besar untuk perangkat yang membutuhkan cakupan area luas.

Massive IoT Menjadi Dasar Penyebaran Sensor

Ekspansi koneksi seluler juga ditopang Massive IoT melalui teknologi NB-IoT dan Cat-M. Teknologi tersebut dirancang untuk menghubungkan perangkat dalam jumlah besar dengan biaya lebih rendah dan konsumsi daya hemat.

Karakteristik ini sesuai bagi sensor yang mengirimkan data rendah hingga menengah dan membutuhkan masa pakai baterai panjang. Penerapannya mencakup kota pintar, utilitas, logistik, serta lingkungan industri dengan banyak perangkat pemantau.

Menurut Ericsson, Massive IoT terus diterapkan di berbagai wilayah untuk kebutuhan berskala luas. Teknologi ini tetap relevan karena tidak semua perangkat memerlukan kecepatan data tinggi seperti aplikasi video atau otomasi yang lebih kompleks.

RedCap Menekan Kompleksitas Perangkat 5G

Di sisi lain, 5G RedCap dirancang untuk menyederhanakan perangkat IoT berbasis 5G sekaligus menekan biaya implementasi. Hingga saat ini, 14 penyedia layanan telah meluncurkan layanan tersebut secara komersial.

Sebanyak 42 penyedia layanan di 27 negara juga tengah berinvestasi dalam pengembangan RedCap. Ericsson turut menyoroti Enhanced RedCap atau eRedCap yang menawarkan kecepatan data puncak hingga 10 Mbps dengan karakter penggunaan serupa LTE Cat-1 dan LTE Cat-1bis.

Potensi komersial penuh eRedCap diperkirakan baru terwujud mulai 2028 dan seterusnya. Sementara itu, penggunaan LTE Cat-1 terus meningkat seiring kemunculan aplikasi baru dan migrasi bertahap dari teknologi lama.

Source: teknologi.bisnis.com
Berita Terbaru