Lawatan Lee Jae Myung ke India dan Vietnam, Seoul Bidik Teknologi Serta Pasar Strategis

Kawasan Asia kembali menjadi panggung utama diplomasi ekonomi Korea Selatan saat Presiden Lee Jae Myung bersiap menjalani lawatan ke India dan Vietnam. Agenda ini tidak hanya menyoroti kerja sama dagang, tetapi juga membuka pembahasan yang lebih luas mengenai teknologi, industri, energi, dan keamanan regional.

Rangkaian kunjungan yang berlangsung pada rentang 19 hingga 24 April itu menempatkan New Delhi sebagai titik awal sebelum Lee bergerak ke Hanoi. Penasihat kepresidenan Wi Sung-lac menyebut lawatan tersebut sebagai upaya Seoul memperkuat hubungan ekonomi sekaligus keamanan dengan mitra-mitra penting di kawasan.

Fokus awal di New Delhi

Lee dijadwalkan berangkat ke New Delhi atas undangan Perdana Menteri Narendra Modi. Pertemuan puncak keduanya akan digelar pada 20 April dan menjadi forum penting untuk membahas sejumlah isu strategis yang dekat dengan kepentingan industri Korea Selatan.

Pembicaraan diperkirakan mencakup pembuatan kapal, kecerdasan buatan, dan pertahanan. Selain pertemuan resmi, Lee juga akan menghadiri forum diskusi bersama pelaku usaha dari kedua negara, yang menunjukkan bahwa pemerintah Korea Selatan ingin memberi ruang lebih besar bagi sektor swasta dalam kerja sama bilateral.

India sendiri dipandang sebagai pasar besar sekaligus basis manufaktur yang bernilai strategis bagi perusahaan Korea Selatan. Salah satu contoh paling menonjol datang dari Hyundai Motor, yang menargetkan kapasitas produksi tahunan 1,5 juta mobil dan mencatat langkah penting pada 2024 melalui pencatatan unit usahanya di bursa saham India.

Isu ekonomi dan rantai pasok

Di tengah situasi global yang belum stabil, Seoul juga memandang India sebagai simpul penting bagi rantai pasok energi. Wi Sung-lac menyebut kerja sama dengan India tetap relevan untuk mendukung kebutuhan tersebut, meski ia tidak merinci detail skema atau bidang spesifik yang dibahas.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa hubungan Korea Selatan dan India tidak lagi terbatas pada perdagangan biasa. Bagi Seoul, India juga memiliki nilai strategis dalam menjaga kelancaran industri dan pasokan energi di tengah perubahan geopolitik yang terus bergerak.

Sejumlah isu praktis juga masuk dalam agenda, terutama yang berkaitan dengan mobilitas warga negara Korea Selatan di India. Lee disebut ingin mencari solusi atas kendala izin imigrasi dan prosedur tinggal yang kerap memengaruhi operasional bisnis dan tenaga kerja.

Agenda yang menonjol di India

  1. Pertemuan Lee Jae Myung dan Narendra Modi.
  2. Pembahasan pembuatan kapal, kecerdasan buatan, dan pertahanan.
  3. Forum diskusi dengan pelaku usaha kedua negara.
  4. Isu imigrasi dan izin tinggal bagi warga Korea Selatan.
  5. Peran India dalam rantai pasok energi dan industri.

Berlanjut ke Hanoi

Setelah agenda di India selesai, Lee akan melanjutkan perjalanan ke Hanoi dan bertemu pemimpin tertinggi Vietnam, To Lam, pada hari berikutnya. Pembahasan di Vietnam diperkirakan berfokus pada energi, rantai pasok global, serta mineral kritis yang semakin menentukan kompetisi industri dunia.

Vietnam terus naik kelas sebagai mitra kerja sama penting bagi Korea Selatan. Dalam kunjungan To Lam ke Seoul sebelumnya, kedua pihak telah menyepakati dorongan agar perdagangan bilateral mencapai $150 miliar pada 2030, sementara Hanoi juga menyambut peningkatan investasi dari perusahaan Korea Selatan.

Dimensi hubungan kedua negara tidak berhenti pada urusan ekonomi. Wi juga menyampaikan bahwa Lee ingin mendorong lebih banyak wisatawan Korea Selatan berkunjung ke Vietnam, sebagai bagian dari penguatan konektivitas antarmasyarakat.

Bidang kerja sama yang menjadi sorotan

  1. Pembuatan kapal dan manufaktur.
  2. Kecerdasan buatan dan teknologi digital.
  3. Pertahanan dan keamanan regional.
  4. Energi serta ketahanan rantai pasok.
  5. Mineral kritis dan bahan baku strategis.
  6. Pariwisata dan pertukaran budaya.

Lawatan ke India dan Vietnam memperlihatkan langkah Korea Selatan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan geopolitik di Asia Selatan serta Asia Tenggara. Di tengah persaingan rantai pasok global, Seoul tampak berusaha memperluas jejaring industrinya sambil mempertahankan posisi strategis di dua kawasan yang makin penting bagi perdagangan dan teknologi.

Berita Terkait