Lebih dari 1,4 juta registrasi kartu SIM lewat verifikasi biometrik wajah sudah tercatat selama masa uji coba yang dijalankan Kementerian Komunikasi dan Digital. Angka itu menunjukkan layanan registrasi berbasis wajah mulai dipakai secara luas, sementara pemerintah masih menyiapkan penerapannya untuk pelanggan baru.
Di sejumlah wilayah, prosesnya juga terbilang cepat. Komdigi menyebut sebagian besar registrasi selesai dalam waktu kurang dari satu menit, dengan tingkat akurasi pencocokan biometrik sekitar 96 persen.
Uji coba ini menjadi langkah penting sebelum layanan dipakai dalam skala lebih besar. Pemerintah ingin memastikan sistem tetap stabil saat menghadapi volume registrasi harian yang besar, apalagi jumlah pelanggan kartu SIM di Indonesia mencapai sekitar 295 juta nomor aktif.
Dari total itu, sekitar 97 persen merupakan pelanggan prabayar. Karena basis pengguna sangat besar, Komdigi memilih pendekatan bertahap agar integrasi sistem dengan operator seluler dan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau Dukcapil bisa berjalan tanpa mengganggu layanan registrasi yang sudah berlangsung setiap hari.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menjelaskan bahwa kebijakan biometrik wajah dimulai dari skema sukarela. Langkah itu diambil karena aturan yang ada saat ini masih berfokus pada registrasi baru.
Alur registrasi tetap sederhana
Dalam praktiknya, pengguna tetap membeli kartu SIM seperti biasa, lalu masuk ke aplikasi atau platform milik operator. Setelah itu, pengguna memasukkan nomor telepon, Nomor Induk Kependudukan, dan kode OTP sebelum diminta mengambil foto wajah.
Foto wajah tersebut kemudian dienkripsi dan dikirim ke Dukcapil untuk dicocokkan dengan data kependudukan. Hasil verifikasi yang diterima operator hanya berupa status cocok atau tidak cocok, sehingga operator tidak menyimpan data biometrik pelanggan.
Komdigi menegaskan rancangan sistem ini dibuat agar data kependudukan tetap berada di sistem Dukcapil. Dengan begitu, operator seluler tidak memiliki akses langsung terhadap data biometrik maupun data kependudukan yang tersimpan di sana.
Pengujian meluas ke berbagai daerah
Selama masa uji coba, layanan ini telah dijalankan di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh, Kalimantan, dan Yogyakarta. Komdigi menyebut performa sistem kini jauh lebih stabil dibandingkan saat pertama kali diuji.
Pada tahap awal, sempat muncul beberapa kendala teknis. Namun, hasil pengujian yang terus berjalan membuat sistem dinilai makin siap untuk dipakai lebih luas.
Partisipasi pengguna juga terus bertambah. Komdigi memperkirakan jumlah registrasi biometrik wajah bisa meningkat menjadi sekitar 1,6 juta hingga 1,7 juta dalam waktu dekat seiring bertambahnya pengguna dan perluasan implementasi di gerai operator seluler.
Untuk pelanggan lama, penggunaan biometrik wajah masih bersifat sukarela. Sementara itu, penerapan penuh untuk pelanggan baru akan mengikuti mekanisme registrasi yang sedang disiapkan pemerintah, sehingga fase uji coba ini menjadi bagian penting sebelum layanan masuk ke skala yang lebih besar.
Source: www.medcom.id