Lebih dari 40 karya dari empat seniman muda AMP memenuhi ruang CAN’S Gallery melalui pameran Mixed Feeling: “AARO”. Pameran ini menjadi penanda akhir AMP #13 sekaligus memperlihatkan bagaimana proses inkubasi dapat membentuk bukan hanya karya, tetapi juga cara kerja para seniman yang terlibat.
Karya-karya tersebut lahir dari proses panjang yang dimulai sejak pengembangan gagasan hingga produksi akhir. Empat peserta yang tampil adalah Ada Khansa, Ann Martin, Red Mecca, dan Oddyendy, yang masing-masing membawa pendekatan visual serta pembacaan pengalaman yang berbeda.
Proses inkubasi yang menekankan praktik
AMP dikenal sebagai program independen yang berfokus pada pengembangan seniman muda di Jakarta. Program ini digagas oleh seniman Atreyu Moniaga dan dirancang agar peserta mendapat pengalaman yang lebih utuh, bukan sekadar menghasilkan karya untuk dipamerkan.
Selama program berlangsung, keempat seniman tidak hanya bekerja di studio. Mereka juga ikut terlibat dalam publikasi, pengarsipan, koordinasi produksi, dan jejaring, sehingga proses belajar mereka mencakup sisi kreatif sekaligus operasional.
Model seperti ini membuat AMP berbeda dari pameran biasa yang hanya menampilkan karya akhir. Dalam program ini, proses dan disiplin kerja menjadi bagian penting dari pembentukan seniman muda.
AARO sebagai penanda empat peserta
Nama AARO berasal dari inisial empat seniman yang mengikuti program tersebut. Nama itu juga dimaknai sebagai gunung yang menjulang, simbol yang memperlihatkan harapan agar fondasi artistik para peserta semakin kuat ke depan.
Makna tersebut terasa sejalan dengan isi pameran yang menampilkan perkembangan personal tiap seniman. Walau gaya visual mereka tidak seragam, pameran ini tetap memperlihatkan benang merah pada cara mereka membaca pengalaman diri dan lingkungan sekitar.
Jejak pengalaman pribadi dalam karya
Ada Khansa menampilkan seri Sandbox yang terdiri dari 10 karya. Seri ini berangkat dari pengalaman batin yang terus berubah dan menjadi ruang eksplorasi visual yang kaya.
Ann Martin dan Red Mecca sama-sama menghubungkan fenomena sosial dengan praktik artistik mereka. Sementara itu, Oddyendy lewat seri Tungkil menghadirkan pembacaan atas masa lalu sebagai bagian dari perjalanan kreatif yang perlu diterima dan diolah.
Susunan karya dalam pameran ini menunjukkan bahwa pendekatan personal tidak berdiri jauh dari isu luar. Pengalaman individu justru menjadi pintu masuk untuk merespons realitas yang lebih luas.
Ketahanan kerja menjadi sorotan
Atreyu Moniaga menegaskan bahwa menjadi seniman tidak hanya soal hasil yang terlihat di ruang pamer. Dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/4/2026), ia menyebut bahwa pekerjaan seni juga menuntut ketahanan, kerja keras, dan komitmen tinggi.
“Sering kali kita menganggap menjadi seniman adalah sesuatu yang glamor dan menyenangkan. Padahal, di balik itu ada sisi yang menuntut ketahanan, kerja keras, dan komitmen tinggi,” ujarnya.
Pernyataan itu menggambarkan semangat AMP yang tidak berhenti pada penciptaan karya. Program ini juga berupaya membentuk karakter kerja peserta agar siap menghadapi ritme proses yang menuntut konsistensi.
Ruang galeri sebagai tempat tumbuh
Dari sisi penyelenggara, CAN’S Gallery menilai AMP #13 sebagai kelompok seniman yang menunjukkan konsistensi sejak awal program. Direktur CAN’S Gallery Inge Santoso mengatakan pihaknya cukup selektif dalam memilih seniman yang berpameran, tetapi proses dan komitmen para peserta membuat mereka layak mendapatkan ruang lebih besar.
“Kami memang cukup selektif dalam memilih seniman yang berpameran. Tapi melihat proses dan komitmen mereka, kami ingin memberi ruang agar mereka bisa berkembang lebih jauh,” ujarnya.
Melalui pameran Mixed Feeling: “AARO”, ruang galeri berfungsi bukan hanya sebagai tempat display karya. Ruang itu juga menjadi arena evaluasi, penguatan, dan pertemuan antara kerja panjang para seniman muda dengan publik yang melihat hasil akhirnya.
Source: lifestyle.bisnis.com






