Lengger Diarsipkan Lewat Motion Capture, Upaya Menyelamatkan Gerak yang Kian Terancam Hilang

Motion capture kini dipakai untuk menyimpan gerak lengger dalam bentuk arsip digital yang lebih rinci. Melalui cara ini, pola tubuh, ritme, dan karakter khas tari tradisional tersebut dapat dipetakan agar tidak mudah hilang dari ingatan generasi berikutnya.

Langkah itu hadir ketika jumlah pelaku tradisional lengger terus menyusut. Seniman lengger Rianto menilai persoalan regenerasi menjadi tantangan utama, karena tanpa penerus, praktik ini berisiko lenyap dalam beberapa dekade ke depan.

Gerak yang Tidak Cukup Ditangkap Kamera Biasa

Bagi Rianto, lengger bukan hanya pertunjukan panggung. Tradisi ini juga memuat laku tubuh dengan dimensi spiritual, sehingga dokumentasi visual biasa dinilai belum cukup untuk menjaga keseluruhan maknanya.

Di sinilah motion capture mendapat peran penting. Teknologi itu memungkinkan gerak tubuh lengger dipetakan secara detail, lalu disimpan sebagai jejak digital yang merekam kekhasan bentuk dan pola tari tersebut.

Pendekatan ini juga dipahami sebagai upaya membangun semacam DNA gerak digital. Dengan begitu, lengger tidak hanya terdokumentasi sebagai tampilan, tetapi juga sebagai sistem gerak yang memiliki identitas sendiri.

Arsip Digital untuk Menjaga Ingatan Tubuh

Digitalisasi dipandang sebagai jalan untuk merawat ingatan tubuh lengger agar tidak terputus. Rekaman yang dihasilkan bisa menjadi bahan belajar yang lebih presisi bagi generasi berikutnya ketika ingin memahami struktur gerak tradisi ini.

Selain menjaga arsip, cara tersebut juga membuka ruang baru dalam pengembangan seni pertunjukan berbasis data gerak. Meski begitu, tujuan utamanya tetap sama, yaitu memastikan lengger tetap hidup sebagai tradisi yang bisa diwariskan.

Kekhawatiran itu disampaikan Rianto dengan pertanyaan yang menegaskan besarnya risiko kehilangan penerus. Ia mempertanyakan siapa yang akan melanjutkan jika 50 tahun ke depan tubuh pengusung tradisi ini sudah tidak ada lagi.

Makna Lengger Lebih Luas dari Sekadar Simbol

Penulis dan alumnus ISI Surakarta, Purnawan Andra, menilai lengger menyimpan gagasan tentang harmoni kosmos. Dalam pandangannya, gerak lengger mengandung simbol yang menghubungkan manusia dengan alam.

Ia juga mengingatkan adanya risiko pembelokan tafsir ketika makna tradisi tidak dipahami secara utuh. Dalam situasi itu, lengger bisa direduksi hanya menjadi identitas visual, padahal di dalamnya ada lapisan budaya yang lebih kompleks.

Penyederhanaan semacam itu dinilai muncul di ruang publik modern. Lengger kadang dipersepsikan sebatas simbol identitas, sementara dimensi makna yang lebih luas justru terlewat.

Akar Sejarah dan Konteks Lokal yang Kuat

Perwakilan Borobudur Writers and Cultural Festival, Seno Joko Suyono, menegaskan bahwa lengger punya sejarah panjang. Tradisi ini berkembang sejak abad ke-19 di Banyumas, termasuk dalam bentuk lengger lanang.

Ia menilai keberagaman dalam lengger merupakan bagian dari praktik budaya yang sudah lama hidup di tengah masyarakat. Dalam konteks itu, perempuan yang memerankan tokoh laki-laki juga menjadi ekspresi yang tidak bisa dilepaskan dari latar lokalnya.

Seno menekankan bahwa lengger tidak tepat dibaca semata sebagai pertunjukan queer. Tarian ini berangkat dari khasanah spiritual yang berkaitan dengan sawah, kesuburan, hujan, dan religiositas orang Jawa.

Teknologi sebagai Jembatan Pelestarian

Pemakaian motion capture menunjukkan bahwa pelestarian budaya kini tidak hanya bergantung pada panggung dan dokumentasi konvensional. Teknologi hadir untuk membantu menyimpan detail yang sulit ditangkap dengan metode biasa.

Dalam kasus lengger, rekaman digital diposisikan sebagai alat bantu untuk menjaga akurasi gerak sekaligus warisan maknanya. Selama konteks spiritual, sejarah, dan makna lokalnya tetap dijaga, teknologi dapat menjadi jembatan antara generasi lama dan generasi baru dalam mengenali lengger secara lebih utuh.

Source: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait