Pasar kendaraan listrik dunia sedang bergerak ke arah baterai Lithium Iron Phosphate atau LFP, terutama untuk mobil penumpang. Di saat yang sama, pembahasan insentif kendaraan listrik 2026 di Indonesia justru masih bersinggungan dengan dorongan hilirisasi nikel.
Situasi itu membuat desain kebijakan menjadi sensitif. Insentif yang sedang dibahas tidak hanya soal meringankan harga, tetapi juga bisa ikut menentukan teknologi baterai mana yang lebih terdorong di pasar domestik.
Tarik-menarik antara pasar dan hilirisasi
Skema insentif yang dibicarakan mencakup Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP. Besarannya disebut dapat berada di kisaran 40 persen hingga 100 persen.
Namun, pembahasan tersebut tidak berdiri sendiri. Kebijakan itu juga dikaitkan dengan upaya pemerintah memperkuat nilai tambah dari sumber daya nikel nasional melalui hilirisasi.
Di titik inilah muncul kekhawatiran dari pelaku industri. Mereka menilai insentif sebaiknya tidak dibangun hanya dari kepentingan satu komoditas.
Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Masyarakat dan Edukasi Periklindo, Achmad Rofiqi, menilai pemerintah perlu membaca arah industri dan arah teknologi sebelum menetapkan skema final. Menurut dia, kebijakan yang terlalu sempit berisiko tertinggal dari kenyataan pasar.
Mengapa LFP makin menonjol
Rofiqi menjelaskan bahwa baterai LFP semakin banyak dipakai di pasar global karena sejumlah pertimbangan teknis dan ekonomi. Salah satunya adalah efisiensi harga yang membuat teknologi ini semakin menarik.
Ia juga menyoroti umur pakai dan siklus penggunaan yang lebih panjang pada baterai jenis tersebut. Ketika permintaan terus naik, harga teknologi ini cenderung turun dan posisinya makin kuat di pasar dunia.
Pada saat yang sama, baterai berbasis nikel masih memiliki keunggulan dari sisi density yang lebih besar. Meski begitu, pasar tetap bergerak ke LFP karena karakter baterai lithium dinilai lebih unggul untuk penggunaan harian yang lebih lama, terutama pada mobil penumpang.
Perubahan preferensi itu menjadi penting karena insentif pemerintah bisa memengaruhi pilihan teknologi yang dipakai pabrikan di Indonesia. Karena itu, arah kebijakan dinilai tidak boleh jauh dari realitas pasar global.
Pemerintah di tengah dua kepentingan
Di satu sisi, pemerintah ingin mendorong hilirisasi nikel agar memberi nilai tambah bagi sumber daya nasional. Di sisi lain, industri kendaraan listrik dunia terus berkembang dengan teknologi yang tidak selalu sejalan dengan agenda tersebut.
Jika insentif terlalu berat ke baterai nikel, pelaku usaha khawatir kebijakan itu tidak cukup responsif terhadap arah perkembangan teknologi. Mereka ingin ada desain yang lebih lentur dan tetap memberi ruang bagi inovasi.
Rofiqi menegaskan bahwa kebijakan idealnya berjalan bersama industri. Ia melihat pemerintah perlu mempertimbangkan kondisi pasar saat ini sekaligus arah perkembangan teknologi sebelum mengambil keputusan akhir.
Teknologi baterai belum berhenti di nikel dan LFP
Menurut Rofiqi, persaingan baterai tidak berhenti pada nikel dan LFP. Sejumlah negara sudah mulai mengembangkan baterai sodium dan solid state.
Ia juga menyebut Tiongkok sebagai salah satu kiblat perkembangan industri baterai global yang kini mengarah ke teknologi tersebut. Kondisi ini membuat kebijakan insentif kendaraan listrik perlu tetap terbuka terhadap perubahan.
Karena teknologi baterai berkembang cepat, keputusan yang terlalu kaku berisiko cepat kehilangan relevansi. Pelaku industri berharap pandangan pemerintah terhadap riset dan pengembangan baterai dunia terus diperbarui.
Skema masih menunggu finalisasi
Pembahasan insentif kendaraan listrik 2026 sendiri belum selesai. Pemerintah sebelumnya berencana mulai memberikan insentif pajak kendaraan listrik pada pertengahan 2026.
Namun pelaksanaannya kini ditunda sekitar satu bulan karena pemerintah masih menunggu finalisasi skema dan perhitungan lintas kementerian. Artinya, ruang penyesuaian masih terbuka sebelum kebijakan resmi berjalan.
Pada tahap ini, perdebatan soal baterai nikel dan LFP menjadi semakin penting. Hasil akhirnya akan menentukan apakah insentif lebih dekat ke agenda hilirisasi, mengikuti tren teknologi global, atau mencoba menyeimbangkan keduanya.
Source: otomotif.kompas.com






