LiDAR Bukan Lagi Andalan Xpeng, Performa Nyata Kini Jadi Patokan Utama Mobil Otonom

Xpeng makin mantap meninggalkan LiDAR untuk mobil penumpang dan memilih bertumpu pada penglihatan penuh. Di saat banyak produsen lain masih menambah sensor, perusahaan asal China itu justru menilai ukuran pentingnya ada pada hasil sistem di jalan, bukan pada jumlah perangkat keras.

Sikap tersebut terlihat jelas lewat strategi pure vision yang terus diperluas Xpeng. Pendekatan itu juga sudah dipakai pada GX, SUV besar enam penumpang yang baru meluncur, sebagai penegasan arah teknologi perusahaan ke depan.

He Xiaopeng, chairman sekaligus CEO Xpeng, mengatakan perusahaan tidak merasa tertekan meski jumlah model di China dengan harga di atas 150.000 yuan yang memakai LiDAR terus bertambah. Menurutnya, yang paling penting adalah performa nyata saat mobil menghadapi kondisi berkendara sesungguhnya.

Xpeng menempatkan performa sebagai tolok ukur utama untuk sistem berkendara otonomnya. Karena itu, perusahaan tetap melaju di jalur LiDAR-free dengan mengandalkan sistem pure vision dan fondasi utama berupa performa aktual dari sistem VLA generasi kedua.

Alasan teknis di balik pilihan itu

Liu Xianming, kepala general intelligence center Xpeng, menjelaskan bahwa kebutuhan LiDAR sangat bergantung pada tumpukan teknologi yang dipilih masing-masing perusahaan. Ia menilai tidak ada jawaban mutlak yang berlaku untuk semua mobil karena pengguna pada akhirnya lebih peduli pada hasil akhir.

Menurut Liu, yang dicari pengguna adalah seberapa baik mobil membaca situasi dan mengambil keputusan di jalan. Jumlah sensor yang tertanam tidak menjadi ukuran utama selama sistem bekerja dengan baik saat dipakai sehari-hari.

Xpeng juga menyoroti keterbatasan LiDAR dalam beberapa skenario. Untuk mendeteksi objek jauh atau menembus penghalang semi-transparan, sensor itu membutuhkan daya pancar yang sangat tinggi, sementara hal tersebut tidak sejalan dengan standar keselamatan otomotif yang ketat saat ini.

Dalam cuaca ekstrem seperti hujan atau kabut, LiDAR disebut dapat menghasilkan banyak titik noise di sekitar kendaraan. Di sisi lain, kamera beresolusi tinggi mampu memberi sistem jauh lebih banyak informasi setiap detik, sehingga kondisi teknis saat ini dinilai lebih menguntungkan pendekatan visual.

Liu menambahkan bahwa pada masa lalu, sistem kendaraan otonom belum memiliki daya komputasi atau algoritma yang cukup maju untuk memanfaatkan data visual dalam jumlah besar secara efektif. Kini, model besar end-to-end justru membutuhkan sinyal visual yang kaya informasi.

GX menjadi penanda arah baru

GX menjadi contoh paling baru dari pergeseran tersebut. SUV besar enam kursi itu memakai solusi autonomous driving pure vision ala Tesla, sekaligus menunjukkan bahwa Xpeng semakin menjauh dari ketergantungan pada sensor LiDAR.

Arah ini sebenarnya bukan perubahan mendadak. Xpeng pernah dikenal sebagai produsen pertama di dunia yang menghadirkan LiDAR di kendaraan produksi massal melalui sedan listrik P5, yang meluncur pada 15 September 2021 dengan dua LiDAR di varian tertingginya.

Setelah itu, sejumlah model Xpeng lain juga mengikuti pendekatan serupa dan memakai dua LiDAR. Namun sejak akhir 2024, semua model baru yang diluncurkan Xpeng sudah beralih ke solusi pure vision yang mirip dengan pendekatan Tesla.

Perubahan strategi itu memperlihatkan pergeseran besar dalam cara Xpeng memandang masa depan mobil penumpang. Dari pionir pengguna LiDAR di mobil produksi, Xpeng kini justru menjadi salah satu produsen yang paling vokal membela kendaraan tanpa sensor tersebut.

Source: cnevpost.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer