Sebanyak 71 pekerja harus menghadapi dampak langsung setelah Spiders resmi mengakhiri operasinya. Penutupan studio ini menambah panjang daftar korban dari krisis finansial yang sedang mengguncang Nacon dan membuat masa depan beberapa unit pengembang di bawahnya ikut dipertanyakan.
Keputusan tersebut terasa makin tajam karena datang tidak lama setelah Spiders merilis Greedfall: The Dying World. Gim itu merupakan prekuel dari Greedfall, salah satu judul yang paling dikenal dari studio tersebut, sehingga penutupan ini langsung memicu perhatian besar di kalangan pemain.
Spiders mengumumkan penghentian operasinya lewat unggahan Facebook pada 29 April 2026. Dalam pernyataannya, studio menyebut bahwa mereka telah menerima konfirmasi sedang dilikuidasi dan akan menghentikan seluruh fungsi secara langsung.
Studio itu juga menegaskan bahwa perusahaan induknya “tidak lagi ada sebagai keseluruhan.” Setelah itu, Spiders menyatakan tidak lagi bisa merespons pertanyaan maupun menangani masalah pemain yang berkaitan dengan gim-gim mereka.
Meski demikian, ada satu pengecualian yang masih berjalan. Konten DLC yang sudah direncanakan tetap akan dirilis oleh Nacon, tetapi setelah itu tidak ada lagi aktivitas lanjutan dari Spiders.
Bagi pemain yang masih membutuhkan bantuan, studio meminta agar mereka menghubungi Nacon secara langsung. Dengan begitu, semua urusan layanan pascapenutupan kini sepenuhnya berpindah ke penerbit.
Waktu penutupan ini juga menjadi sorotan karena Spiders selama 18 tahun dikenal sebagai salah satu studio Eropa yang punya identitas kuat di genre action RPG. Nama mereka paling lekat dengan Greedfall dan Steelrising, dua gim yang membangun reputasi studio tersebut di mata pemain.
Di sisi lain, kondisi Spiders tidak muncul tiba-tiba. Akar masalahnya berkaitan dengan krisis finansial Nacon yang mulai terasa sejak Februari 2026.
Saat itu, Bigben Interactive selaku pemegang saham utama Nacon gagal membayar cicilan parsial obligasi senilai €43 juta. Kegagalan itu membuat Nacon harus mengajukan insolvensi dan memicu penawaran penjualan sejumlah anak perusahaan serta studio, termasuk Spiders.
Namun, tidak ada pembeli yang datang untuk mengambil alih Spiders. Tanpa penyelamatan atau tawaran akuisisi, likuidasi pun menjadi jalan akhir bagi studio tersebut.
Kondisi ini juga bertolak belakang dengan pernyataan Nacon pada awal 2026. Saat itu, perusahaan masih menyampaikan keyakinan bahwa deretan rilis mendatang akan tetap berjalan sesuai rencana meski tekanan finansial terus menumpuk.
Serikat pekerja industri gim Prancis, STJV, menanggapi penutupan ini dengan kritik keras. Serikat tersebut menyebut langkah itu sebagai keputusan yang disengaja oleh manajemen Nacon dan bahkan menggambarkannya sebagai “pembunuhan tingkat pertama.”
STJV juga meminta pemain dan penggemar untuk memboikot penerbit itu sepenuhnya. Menurut serikat tersebut, sebanyak 71 pekerja akan kehilangan pekerjaan, karier, dan pemasukan akibat penutupan Spiders.
Pihak serikat menilai alasan resmi likuidasi, yakni kurangnya profit dan tidak adanya tawaran pengambilalihan, tidak menggambarkan situasi sepenuhnya. Mereka menuduh proses itu telah direncanakan oleh Nacon, sehingga tekanan terhadap penerbit kini tidak hanya datang dari sisi bisnis, tetapi juga dari isu ketenagakerjaan.
Penutupan Spiders turut memunculkan kekhawatiran baru terhadap studio lain di bawah Nacon. Nama Kylotonn dan Cyanide ikut disebut dalam kekhawatiran yang berkembang di industri, meski belum ada kepastian mengenai langkah berikutnya untuk keduanya.
Bagi banyak pengamat, hilangnya Spiders bukan sekadar berakhirnya satu studio. Peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana krisis di level perusahaan induk dapat langsung memutus keberlanjutan tim kreatif, bahkan ketika mereka baru saja merilis gim baru.
Source: www.notebookcheck.net