Limbah Kelapa Pantai Lampuuk Diolah Jadi Pakan, Biaya Peternak Aceh Turun 60 Persen

Author: Redaksi Android62

Biaya pakan peternak unggas di Lhoknga, Aceh, turun hingga 60 persen setelah limbah kelapa dari kawasan wisata Pantai Lampuuk diolah menjadi bahan pakan alternatif. Program ini memberi dampak ganda, karena sampah organik yang semula menumpuk juga berkurang signifikan.

Melalui inovasi sosial bernama Sakeladera, PT Solusi Bangun Andalas memproses sekitar 60 ton limbah kelapa per bulan menjadi cocopeat. Serbuk dari sabut kelapa itu kemudian dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak unggas untuk membantu menekan biaya produksi.

Tekan sampah dan emisi dari kebiasaan lama

Masalah yang melatarbelakangi program ini muncul dari sisa kelapa di pesisir Aceh yang sebelumnya dibiarkan membusuk atau dibakar. Kebiasaan itu tidak hanya menimbulkan tumpukan sampah organik, tetapi juga memicu emisi dari pembakaran tradisional.

Corporate Secretary Semen Indonesia Vita Mahreyni menjelaskan bahwa pembakaran limbah tersebut menghasilkan emisi karbon hingga 34,8 ton CO2 per bulan. Dari kondisi itu, perusahaan kemudian mencari cara agar limbah yang semula tak bernilai bisa menjadi sumber daya yang lebih bermanfaat.

Peternak merasakan penghematan nyata

Dampaknya langsung terasa di tingkat peternak. Sebelum ada pakan alternatif ini, kelompok peternak unggas di wilayah tersebut bergantung pada suplai bahan baku dari luar daerah dan harus menanggung biaya pakan sekitar Rp 48 million per bulan.

Setelah memanfaatkan olahan sabut kelapa, biaya pakan peternak lokal bisa dihemat hingga Rp 28,2 juta setiap bulan. Muhammad Ikhsan, peternak yang tergabung dalam Kelompok Usaha Puyuh Andalas, menyebut sampah kelapa kini tidak lagi terbuang percuma karena dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Kolaborasi warga, komunitas, dan perusahaan

Sakeladera dijalankan PT Solusi Bangun Andalas sejak 2024 bersama Bank Sampah Generasi Milenial atau Basagemil sebagai mitra lokal. Kolaborasi ini berangkat dari kerja pemberdayaan pesisir Sobat Si Abes yang telah dibangun sejak 2022.

Perusahaan tidak hanya menyediakan mesin pengolah sampah kelapa menjadi cocopeat berkualitas, tetapi juga memberi edukasi, pendampingan, dan sosialisasi kepada masyarakat setempat. Rantai pengelolaan sampah ini melibatkan warga lokal sejak tahap pengumpulan di area pantai, pemilahan, penggilingan, hingga penyaluran hasil olahan.

Dampak lingkungan dan sosial ikut meluas

Volume timbulan sampah kelapa di kawasan pantai turun dari 60 ton menjadi sekitar 20 hingga 24 ton per bulan. Pada saat yang sama, program ini menyerap 28 warga lokal sebagai pekerja produktif.

Produk olahan juga dinyatakan aman setelah lolos pengujian laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri terkait kalsium dan protein. Dari sisi dampak sosial, program ini mencatat rasio Social Return on Investment atau SROI sebesar 2,5.

Artinya, setiap Rp 1 investasi menghasilkan Rp 2,5 manfaat bagi masyarakat. Vita Mahreyni menyebut Sakeladera sebagai bukti kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat di Aceh, sekaligus bagian dari Sustainability Roadmap SIG 2030 yang menekankan perlindungan lingkungan dan penciptaan nilai bagi komunitas.

Berita Terbaru