China kini memiliki superkomputer tercepat di dunia lewat LineShine, mesin yang menyalip El Capitan milik Amerika Serikat dalam daftar terbaru TOP500. Perubahan puncak peringkat ini menjadi penanda penting karena memindahkan pusat perhatian global dari dominasi chip Barat ke kemampuan komputasi domestik China.
LineShine mencatat performa 2.198 Exaflop/s pada benchmark standar HPL. Angka itu sekitar 21,5 persen lebih tinggi dibanding skor El Capitan yang berada di 1.809 Exaflop/s, sehingga posisi teratas TOP500 berpindah tangan dengan selisih yang jelas.
Terbangun dari chip buatan dalam negeri
Keunggulan LineShine tidak hanya terletak pada kecepatannya. Sistem ini dibangun sepenuhnya dengan chip buatan dalam negeri, sesuatu yang membuatnya berbeda dari banyak superkomputer kelas atas lain yang masih bergantung pada pemasok besar seperti Intel atau AMD.
Mesin ini dikembangkan oleh National Supercomputing Centre in Shenzhen atau NSCC-SZ bersama Shenzhen Cloud Computing Center. NSCC-SZ menggunakan prosesor LX2 atau LingKun berbasis arsitektur ARM sebagai fondasi utama sistem, lalu memadukannya dengan skala pemrosesan yang sangat besar.
LineShine memiliki sekitar 13,79 juta core. Jumlah inti pemrosesan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong lonjakan performanya hingga mampu menempati posisi pertama di daftar superkomputer tercepat dunia.
Langkah yang berbeda dari arus utama superkomputer
Sebagian besar superkomputer modern mengandalkan desain hibrida CPU dan GPU. El Capitan, yang sebelumnya memimpin peringkat, termasuk dalam kelompok sistem seperti itu.
LineShine justru menempuh jalur berbeda karena meraih performa puncaknya hanya dengan CPU, tanpa kombinasi CPU dan GPU. Pilihan desain ini memberi nilai teknis sekaligus strategis, karena China membuktikan bahwa mesin tercepat pun bisa dibangun lewat pendekatan arsitektur yang tidak mengikuti pola umum industri.
TOP500 mempublikasikan peringkat terbaru pada 23 Juni 2026. Dalam daftar tersebut, LineShine resmi berada di posisi pertama dan menjadi kali pertama sejak 2017 Amerika Serikat kehilangan mahkota superkomputer tercepat dunia.
Makna geopolitik dan tantangan yang belum selesai
Pencapaian ini dipandang sebagai tonggak penting bagi kedaulatan high-performance computing China. Dalam beberapa tahun terakhir, akses China terhadap chip HPC dari Intel, AMD, dan NVIDIA dibatasi oleh sanksi serta kontrol ekspor Amerika Serikat.
Dengan hadirnya LineShine, ketergantungan pada pemasok luar berkurang dan posisi China menjadi lebih kuat menghadapi risiko pembatasan baru. Di tingkat geopolitik teknologi, keberhasilan ini juga mengirim pesan bahwa perlombaan superkomputer kini tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga soal kemandirian sistem dan chip.
Meski begitu, pekerjaan China belum sepenuhnya selesai. Membangun rantai komputasi domestik yang lengkap dari chip hingga perangkat lunak dan sistem masih menjadi target yang lebih besar.
China juga masih menghadapi kesenjangan pada perangkat keras AI, sementara isu swasembada semikonduktor dan perluasan infrastruktur komputasi AI dalam skala masif tetap menjadi tantangan penting. Artinya, kemenangan LineShine belum menutup seluruh celah dalam persaingan teknologi, tetapi sudah memberi pijakan baru yang jauh lebih kuat bagi China di peta komputasi berperforma tinggi.
Bagi dunia riset dan industri, perubahan di puncak TOP500 patut dicermati karena superkomputer biasanya menjadi alat penting untuk simulasi ilmiah dan pengembangan teknologi. Dengan LineShine, China bukan hanya menyalip Amerika Serikat dalam satu daftar peringkat, tetapi juga menunjukkan bahwa superkomputer tercepat dunia kini dapat dibangun dengan chip lokal dan arsitektur CPU-only dalam skala yang sangat besar.
