Lisensi dan Merchandising Buka Nilai Baru Film, Irene Umar Dorong Karya Jadi IP Kuat

Dorongan agar film diperlakukan sebagai aset bernilai tinggi menjadi sorotan dalam pembahasan tentang arah industri kreatif. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menilai sebuah film tidak berhenti pada penjualan tiket, melainkan bisa berkembang menjadi intellectual property atau IP yang membuka peluang lisensi dan merchandising.

Pandangan itu sejalan dengan cara melihat film sebagai pintu masuk ke konsumsi lanjutan. Saat penonton membeli tiket bioskop, Irene menganggap itu bukan akhir dari hubungan dengan karya tersebut, melainkan awal dari potensi ekonomi yang lebih panjang.

“Pada saat kita membeli tiket untuk menonton film, itu setara dengan kita melihat promosi yang kemudian mendorong kita untuk konsumsi lanjutan. Dari situ lahir potensi besar seperti licensing dan merchandising,” ujarnya.

Nilai film tidak berhenti di layar bioskop

Pernyataan Irene menegaskan bahwa sebuah karya audio visual bisa terus hidup setelah masa tayangnya selesai. Jika karakter dan cerita cukup kuat, film dapat tumbuh sebagai IP yang dikenali penonton dan memiliki daya ekonomi lebih lama.

Dalam kerangka ini, lisensi dan merchandise bukan sekadar pelengkap. Keduanya menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang mampu memperpanjang umur komersial sebuah karya dan menjaga nilainya tetap relevan di pasar.

Karena itu, penguatan IP dipandang penting agar film tidak hanya memberi hasil sesaat. Karya yang dibangun dengan karakter kuat berpeluang memiliki nilai komersial berkelanjutan, bukan hanya bergantung pada performa di bioskop.

Pasar domestik besar, tetapi peluang luar negeri tetap perlu dihitung

Irene juga mengingatkan pelaku industri agar tidak membatasi cara pandang pada pasar dalam negeri. Menurutnya, Indonesia memang memiliki pasar yang besar, tetapi skala pasar global jauh lebih luas dan perlu mulai dipikirkan sejak awal.

“Indonesia memang besar, tetapi pasar dunia jauh lebih besar. Ini yang harus mulai dipikirkan oleh pelaku industri,” kata Irene.

Arah pandang ke luar negeri menjadi penting karena pengembangan IP, lisensi, dan merchandising akan lebih efektif jika menjangkau audiens yang luas. Semakin besar pasar yang disasar, semakin besar pula peluang sebuah film membangun basis penonton dan membuka turunan bisnis yang lebih beragam.

Pendekatan seperti ini menempatkan film sebagai bagian dari strategi ekonomi kreatif yang lebih matang. Karya audio visual tidak lagi dinilai hanya dari jumlah penonton, tetapi juga dari kemampuannya menembus pasar yang lebih luas dan bertahan lebih lama secara ekonomi.

Jumbo memberi gambaran soal potensi animasi Indonesia

Dari sisi industri, film animasi Jumbo ikut memperlihatkan ruang besar yang dimiliki film Indonesia. Film tersebut meraih lebih dari 10 juta penonton pada 2025 dan masuk daftar film terlaris sepanjang masa di Indonesia.

Art Supervisor Jumbo, Chris Lee, menilai pencapaian itu membuat banyak pihak melihat kembali potensi animasi nasional. “Jumbo membuka mata banyak orang mengenai potensi film animasi di Indonesia,” ujarnya.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa animasi Indonesia mampu menarik perhatian penonton dalam jumlah besar. Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan seperti ini juga memperkuat pandangan bahwa film bisa menjadi IP yang kuat untuk dikembangkan ke berbagai bentuk turunan.

Chris juga mengaitkan pengalamannya dalam program beasiswa Australia Awards dengan pemahamannya terhadap ekosistem film Australia. Pengalaman itu memberinya sudut pandang tambahan mengenai dukungan pendanaan dan kebijakan yang turut mendorong pertumbuhan industri film.

FSAI 2026 diposisikan sebagai ruang kolaborasi

Pembahasan soal IP dan pengembangan industri itu muncul dalam konteks Festival Sinema Australia Indonesia atau FSAI 2026. Festival yang memasuki tahun ke-11 ini diposisikan sebagai ruang kolaborasi antara industri kreatif Indonesia dan Australia.

FSAI 2026 juga memperluas jangkauan ke 11 kota, yakni Jakarta, Mataram, Bandung, Surabaya, Manado, Makassar, Kupang, Medan, Banjarmasin, Yogyakarta, dan Semarang. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa festival tidak hanya berfungsi sebagai ajang pemutaran film.

Dalam programnya, FSAI 2026 akan menampilkan lima film Australia, dua film karya Alumni Australia di Indonesia, serta empat film pendek Indonesia karya alumni Australian Awards untuk program film pendek. Susunan itu mempertegas fungsi festival sebagai ruang berbagi pengetahuan, jejaring, dan pengembangan kapasitas pelaku industri film.

Dengan format tersebut, FSAI 2026 menjadi panggung yang relevan untuk membicarakan arah baru industri film. Irene Umar mendorong agar film Indonesia tidak hanya kuat di layar, tetapi juga tumbuh sebagai aset yang mampu menciptakan nilai lebih luas melalui IP, lisensi, dan merchandising.

Source: lifestyle.bisnis.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer