Listrik Padam, Jaringan Cadangan MeshNode Disiapkan Untuk Komunikasi Darurat

Author: Redaksi Android62
Add on Google

Pemadaman listrik besar di Jakarta kembali memperlihatkan betapa banyak layanan sehari-hari bergantung pada listrik dan koneksi internet. Saat dua infrastruktur itu ikut terganggu, komunikasi, transaksi, dan pekerjaan digital bisa tersendat dalam waktu yang sama.

Kondisi tersebut juga memunculkan kebutuhan akan jalur cadangan yang tidak bergantung pada jaringan konvensional. Di tengah situasi seperti ini, MeshNode Indonesia mendorong komunikasi berbasis mesh text sebagai opsi darurat ketika sistem utama tidak dapat dipakai.

Layanan digital ikut rapuh saat jaringan utama padam

Gangguan listrik tidak hanya membuat aktivitas rumah tangga berhenti, tetapi juga menyeret layanan digital yang kini melekat pada aktivitas masyarakat. Banyak orang mengandalkan internet untuk berkomunikasi, menjalankan pekerjaan, dan melakukan transaksi harian.

Kerentanan itu paling terasa pada sistem pembayaran elektronik. Perangkat seperti EDC dan QRIS tidak dapat berjalan normal ketika jaringan pendukungnya bermasalah, sehingga transaksi nontunai ikut melambat atau berhenti.

Praktisi teknologi sekaligus penggagas Komunitas MeshNode Indonesia, Arya Dega, menilai peristiwa itu memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada gangguan teknis biasa. Ia menegaskan bahwa ketahanan sistem menjadi hal penting ketika layanan utama tiba-tiba hilang.

“Ini bukan hanya soal teknologi yang terganggu, tetapi soal ketahanan sistem. Ketika listrik dan internet hilang, hampir semua lini kehidupan ikut terhenti,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Mesh text disiapkan sebagai jalur komunikasi darurat

Sebagai respons, MeshNode Indonesia mengembangkan komunikasi berbasis mesh text. Sistem ini dibuat agar perangkat bisa saling terhubung langsung tanpa harus melalui internet.

Model tersebut ditujukan untuk tetap berjalan saat infrastruktur utama mengalami gangguan atau benar-benar runtuh. Dalam skema ini, pesan dapat berpindah dari satu perangkat ke perangkat lain melalui koneksi langsung.

Arya menyebut pendekatan itu sebagai jaringan mandiri yang dapat dipakai sebagai pilihan cadangan dalam situasi krisis. “Kami membangun jaringan mandiri yang tetap bisa berjalan meskipun infrastruktur utama runtuh. Ini menjadi opsi komunikasi cadangan di situasi krisis,” katanya.

Pendekatan komunikasi seperti ini memberi ruang agar informasi tetap dapat bergerak meski jaringan umum sedang bermasalah. Saat koneksi konvensional melemah, perangkat dalam sistem mesh tetap bisa bertukar pesan melalui jalur alternatif yang dibangun secara langsung.

Komunitas kecil yang terus tumbuh

Komunitas MeshNode Indonesia berdiri sejak 20 Februari 2026 dan awalnya digagas Arya Dega bersama Anas Rahman di Bali. Sejak itu, komunitas ini berkembang hingga memiliki lebih dari 100 pengguna aktif dan hampir 1.000 anggota.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa minat pada sistem komunikasi alternatif mulai mendapatkan perhatian. Dalam pandangan komunitas ini, jalur cadangan tidak lagi sekadar konsep teknis, tetapi kebutuhan praktis ketika kondisi lapangan tidak bisa bergantung sepenuhnya pada jaringan utama.

Situasi blackout di Jakarta membuat gagasan itu terasa semakin relevan. Ketika layanan digital bisa terganggu serentak, keberadaan sistem cadangan menjadi salah satu hal yang dinilai penting untuk dipersiapkan.

Bukan hanya komunikasi, tapi juga transaksi darurat

Pengembangan MeshNode tidak berhenti pada kebutuhan komunikasi. Arya juga menyoroti peluang agar transaksi darurat tetap bisa berjalan meski jaringan utama terganggu.

Ia mencontohkan kemungkinan EDC dan QRIS berfungsi di jaringan alternatif. Dengan begitu, aktivitas ekonomi tidak langsung berhenti hanya karena terjadi pemadaman atau masalah pada konektivitas.

“Bayangkan jika sistem pembayaran seperti EDC dan QRIS bisa berjalan di jaringan alternatif, maka aktivitas ekonomi tidak harus berhenti saat terjadi gangguan,” ujarnya.

Gagasan tersebut menempatkan teknologi cadangan dalam kerangka kesiapan menghadapi keadaan tidak ideal. Kecepatan layanan digital tetap penting, tetapi kemampuan bertahan saat kondisi darurat juga menjadi nilai yang semakin dibutuhkan.

Tetap mengikuti aturan yang berlaku

Meski mengembangkan sistem mandiri, MeshNode menegaskan bahwa inovasinya tetap berada dalam koridor regulasi pemerintah. Salah satu perhatian utama adalah penggunaan frekuensi resmi dalam teknologi yang dikembangkan.

Sikap ini penting agar solusi yang dibangun tidak keluar dari ketentuan yang berlaku. Di sisi lain, pendekatan komunitas menunjukkan bahwa respons terhadap gangguan besar tidak selalu harus datang dari institusi besar.

Dalam konteks blackout Jakarta, mesh text menjadi contoh bagaimana gangguan pada listrik dan internet bisa mendorong lahirnya sistem cadangan yang lebih tangguh. Solusi seperti ini diposisikan sebagai cara untuk menjaga komunikasi dan mendukung aktivitas penting ketika layanan utama tidak bisa diandalkan.

Source: www.beritasatu.com
Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terbaru