Di laut Antartika, kemampuan bertahan hidup bukan hanya soal tahan dingin, melainkan soal cara tubuh mencegah cairan membeku. Pada sejumlah ikan yang hidup di perairan ekstrem itu, peran tersebut dijalankan oleh protein antibeku yang membuat mereka tetap aktif di bawah lapisan es.
Adaptasi ini menjadi penting karena Antartika menawarkan lingkungan yang sangat keras. Suhu musim dinginnya rata-rata mencapai 34,4°C di bawah nol, dan di wilayah ini pernah tercatat suhu hingga -89,4°C.
Laut beku yang tetap menjadi habitat
Antartika adalah benua terbesar kelima di Bumi dan hampir seluruh permukaannya tertutup es. Wilayah ini mencakup Kutub Selatan dan hanya mengalami dua musim, yaitu musim panas dan musim dingin, masing-masing sekitar enam bulan.
Saat musim panas, sebagian wilayah Antartika menghadap matahari dan terus menerima sinar matahari. Sebaliknya, saat musim dingin, wilayah ini miring menjauhi matahari sehingga tampak gelap selama berbulan-bulan.
Meski identik dengan suhu rendah, Antartika juga disebut gurun. Penyebabnya, wilayah ini menerima sangat sedikit hujan atau salju.
Salju yang turun lalu menumpuk selama ratusan hingga ribuan tahun. Lapisan itu kemudian membentuk es tebal, gletser, dan gunung es yang mendominasi lanskap Antartika.
Ikan yang mampu hidup dan berburu di bawah es
Di laut Antartika, sejumlah ikan tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap aktif, berkembang biak, dan berburu. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan tekanan tinggi dan suhu yang nyaris mencapai titik beku.
Beberapa spesies yang hidup di wilayah ini antara lain ikan es makarel, ikan kod Antartika, ikan gigi Antartika dan ikan gigi Patagonia, serta ikan perak Antartika. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa perairan Antartika bukan ruang kosong, melainkan habitat yang penuh strategi bertahan hidup.
Ikan es makarel atau Champsocephalus gunnari dikenal sebagai ikan berdarah putih dan hanya ditemukan di Samudra Selatan. Ikan ini tidak memiliki hemoglobin dalam sel darahnya, sehingga darahnya tidak berwarna, dan panjangnya dapat mencapai 44 cm di Pulau Heard dan McDonald.
Sementara itu, ikan kod Antartika atau Notothenia hidup melimpah di wilayah ini. Spesies ini menjadi ikan besar di Samudra Selatan, memakan udang dan ikan kecil, lalu menjadi mangsa paus, orca, dan anjing laut.
Protein antibeku yang menjaga tubuh tetap cair
Kunci utama daya tahan ikan-ikan tersebut terletak pada protein antibeku di dalam jaringan tubuh mereka. Senyawa ini membantu memisahkan suhu leleh dan suhu pertumbuhan es sehingga cairan tubuh tidak membeku meski ikan hidup di perairan yang sangat dingin.
Cara kerjanya berkaitan dengan proses terbentuknya es. Saat air membentuk kisi kristal tertentu, protein antibeku masuk ke dalam kristal itu dan mencegahnya bergabung satu sama lain.
Dengan begitu, pembentukan es di dalam darah bisa dihambat. Mekanisme inilah yang membuat ikan tetap mampu bergerak di lingkungan yang bagi banyak hewan lain akan mematikan.
Protein antibeku tidak hanya dimiliki ikan. Senyawa ini telah berevolusi secara independen pada sejumlah hewan ektotermik yang beradaptasi dengan dingin, termasuk serangga dan ikan teleost.
Namun, tidak semua ikan memilikinya. Protein ini umumnya hanya ada pada ikan yang hidup di perairan dengan suhu ekstrem, sehingga keberadaannya menjadi penanda adaptasi yang sangat spesifik.
Spesies lain dengan penyesuaian yang berbeda
Di antara ikan-ikan Antartika, kelompok ikan gigi juga menarik perhatian. Ada ikan gigi Antartika dan ikan gigi Patagonia, dua spesies yang mirip dalam penampilan dan kebiasaan, tetapi hidup di wilayah yang berbeda.
Ikan gigi Antartika berada di lintang tinggi dekat benua Antartika, sedangkan ikan gigi Patagonia hidup di perairan sub-Antartika. Ikan gigi dapat tumbuh hingga panjang 2 meter, berat 100 kg saat dewasa, dan hidup hingga 45 tahun.
Ada pula ikan perak Antartika yang berukuran jauh lebih kecil. Panjangnya sekitar 5 sampai 10 inci dan menjadi pelagis utama di Samudra Selatan serta Antartika.
Ikan perak Antartika memakan krill, kopepoda, dan mangsa plankton lain. Di tengah lingkungan yang didominasi es dan dingin ekstrem, keberadaan berbagai spesies ini memperlihatkan bagaimana laut Antartika tetap hidup berkat adaptasi biologis yang sangat khusus.
